Maklum Masih Baru

Jadi dokter internship (magang) itu kadang bikin bingung harus bersikap. Di mata perawat dan bidan dianggap sudah dianggap sebagai dokter yang setiap diagnosis dan pengobatannya diamini. Perawat dan Bidan pun menganggap kami yang barusan lulus ini seperti kue nastar yang masih fresh from the oven, yang segala memori tentang teori kedokteran masih bersemayam di otak kanan dan kiri. Tapi, di mata dokter senior, kami masih dianggap seperti dek koas yang sudah dapat ijasah dan Surat Izin Praktek (SIP) dan Surat Tanda Registrasi (STR). Jadi semuanya masih di bawah supervisi dan sedikit-sedikit lapor, karena beliau-beliaulah yang bertanggungjawab atas pasien yang kami tangani.

Kebimbangan penempatan posisi ini sering (saya pribadi) terbawa pulang selepas jaga. Masih terngiang dengan semua pasien yang datang berobat; diagnosisnya bener ngga ya? Ya ampun harusnya kan ranitidin 2×1 kenapa cuma aku resepin 1×1 sih! Hm, bener kok tadi si ibu itu aku rujuk, tapi kenapa mbak perawatnya kaya kesel gitu sih aku ngerujuk pasien!? Dst.

Perawat dan Bidan senior yang sudah merasakan pahit dan kecutnya kehidupan di lapangan mungkin sering juga heran dengan dokter internship yang sedikit-sedikit kasih obat, atau baru posyandu tapi meriksanya head to toe sampai peserta yandu pulang satu per satu, atau masih idealis visite pasien rawat inap dan minta semua yang mengiringi ikut cuci tangan pakai alkohol.

Ya, adaptasi memang tidak mudah. Internship memang ditujukan untuk melatih kami membiasakan diri di lingkungan kerja dengan segala intrik dan politiknya. Tapi kalau boleh jujur bersuara, embel-embel internship ini membuat kepercayaan diri (saya pribadi) berkurang. Ada “zona nyaman” yang terkandung dalam kata “dokter internship”. Kasarnya, dokter baru yang masih berlindung di ketiak guru-gurunya. Niatan IDI dan KIDI baik, itu pasti. Saya hanya ingin menuangkan kebingungan dan kesulitan saya untuk bisa mengikuti tempo dan segala “belak-belok”nya jalanan di lapangan. Sekian.

Maklum masih baru, snellinya masih bau buku.

Advertisements

KODE KADO

Dari dulu pengen banget dikasih kado (entah dalam bentuk audio-visual atau buku) yang isinya kumpulan pendapat orang tentang diriku. Pengen tau aja gitu seperti apa titin di mata orang-orang. Ini jelas kode, tapi berhubung usia udah ngga waktunya lagi yang unyu-unyu, jadi yaudahin aja.

Krisis

Ketika hati dirundung duka dan sepi kembali menyapa, otak berlarian kesana-kemari menenteng kejadian-kejadian tak mengenakkan yang disimpan rapat di pusat memori. Bukan hanya membukanya tetapi juga mengeluarkannya, merebut kendali konsentrasi dan menurunkan motivasi juga percaya diri. Memaksa diri untuk masuk ke dunia mimpi tapi tubuh belum cukup lelah untuk diistirahatkan. Seperti biasa, pada situasi isi otak yang berhamburan tidak karuan, auto pilot mengarahkan jari jejari untuk segera membuka instagram.

Alhamdulillaah, Allaah masih melindungi hambaNya yang satu ini dari gangguan jiwa, karena bisa ikut berpartisipasi dalam game kekinian di instagram stories. Semoga tulisan ini tidak kemudian dianggap menyombongkan diri, dan semoga hati yang menulis ini adalah semurni-murninya karena ingin berbagi.

Membaca satu per satu kiriman mereka menggugurkan segala keraguan pada diri sendiri. Membuka mata, ternyata selama ini mereka memandangku seperti itu. Meskipun setan yang bersarang di diriku masih terus mengusik ketenangan sejenakku, tapi membaca kalimat mereka terasa tulus dan mendamaikan. Bahkan, sehari ini merupakan hari teringan dalam hidupku, terhitung setelah masuk internship.

Aku mempelajari karakter orang-orang besar, beberapa saja. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang dapat mencapai posisi sebaik sekarang dengan energi negatif. Meskipun sekitaran menyuguhkan bisikan setan, tapi dirinya tetap kokoh berjalan di jalan kebaikan. Sungguh, tidak ada orang besar yang mengurusi hal kecil.

Terharu dan masih belum bisa percaya opini mereka tentangku setinggi itu. Terlepas dari itu semua, terima kasih atas kebaikan dan energi positif yang diberikan. Bismillaah.

Good Bye, 2017!

WhatsApp Image 2017-12-31 at 22.10.17.jpeg

Inget banget, terakhir umroh tahun 2014 masih bimbang akan 2 hal, satu tentang akademik: mau lulus kapan, dan yang kedua tentang asmara: mau sama yang mana (najis hahaha). Dan terselip beberapa rencana dalam segala doa yang terujar kala itu, surprisingly, it all came true! Allaahu Akbar!

My 2017 recap:
1. Berjuang untuk lulus dari Fakultas Kedokteran
Tiada hari tanpa buka buku dan buka slides materi. Sampai mau tidur aja rasanya berdosa banget. Setiap hari mengafirmasi diri, “this is for your own good.” sampai di titik terlelah dan kemudian pasrah.

2. LULUS UKMPPD 2017
Ini…. kaya mimpi rasanya. Dibangunkan oleh dentingan notifikasi dari ponsel yang ternyata grup LINE PD2011 udah ramai membicarakan tentang pengumuman kelulusan. Langsung lari ke bawah untuk membaca hasil pengumuman sama Papi dan Mami, nangis bersama. It really was like a dream for me, since I didn’t think this field fits me. Terima kasih Allaah sudah mempercayai hamba Mu di bidang yang mempertaruhkan nurani ini.

3. Sumpah Dokter Angkatan 2011 Gelombang 1 FK UGM
Banyak yang ngga nyangka seorang titin bisa masuk kedokteran, UGM pula. Banyak juga yang menyangsikan seorang titin bisa lulus dari FK UGM, apalagi bisa ikut gelombang satu di angkatannya. Dan seorang titin itu juga termasuk yang meragukan kalau seorang titin itu bisa. Hingga tiba hari pembuktiannya ketika mengucap sumpah dokter dan diberi map merah berisi ijazah dokter yang diserahkan langsung oleh Dekan FK UGM, Prof. Ova Emilia, Mmed. Ed., Sp.OG(k), Ph.D. Dan yang menjadi highlight di momen itu adalah aku bergabung dalam Paduan Suara 2011 dan menyumbangkan sedikit dari yang aku bisa, membaca puisi. Yang kerennya lagi, puisi itu dibuat oleh alumni SMAN 4 Yogyakarta (dan sepulang acara banyak yang menanyakan puisi dan penulisnya). Sakses!

4. Menikah
Ngga pernah terbayangkan dalam benak seorang rebellion seperti aku untuk menikah muda (for me, 25 is a newborn). Bahkan (sedikit buka-bukaan ya), sempat ada beberapa orang menyatakan ingin menikahiku sekitar tahun 2014-2016 tapi ku jawab, “aku masih pingin sekolah dulu”, atau, “menikah memang ada dalam list prioritasku, tapi bukan di posisi teratas saat ini.” Tapi kemudian akhir tahun 2016 aku menerima lamaran Mas Yudha dan akhirnya menikah di akhir tahun 2017. I know, kampret, right? Tapi ya mohon maaf lahir dan batin, that was how I feel. Ngga ada yang tau apa yang akan terjadi setahun lagi, bahkan sedetik lagi. I didn’t mean to hurt anybody, I just didn’t know apa yang akan terjadi setahun lagi. List prioritas itu pun bisa berubah, mengikuti arus situasi dan kondisi (hm).

I’m happy that I’m married now, regardless the adaptation issues we’re facing right now, but I’m happy. Menikah memang mengubah segalanya, meskipun jiwa pemberontak ini masih sulit diatur, but at least I’m on the right track and heading there. Mungkin karena masih di tahap adaptasi ini jadi terkesan kurang luwes jika berada di lingkaran-lingkaran tertentu, but I’m working on it.

“Menikah adalah bentuk kepasrahan tertinggi di Bumi Pertiwi.” – Istaryanti, 2017

Alhamdulillaah. Allaah Maha Besar! Bismillaah, semoga 2018 kita selalu mendapat perlindunganNya dan mendapat kebahagiaan yang melebihi kesedihan masa lampau. aamiin.

Masalah Besar

It’s been my main problem since social media is a thing in the whole world, that I always forgot my passwords (on every platform, including this blog!). And that (I’d say) bad habit impacts on me losing my social media after I logged out and couldn’t logged in, example: Twitter, Plurk, Tumblr, YouTube, and recently Instagram…. Shame.

Here’s another example of me trying to login:

login failed_LI

Do you see that? I changed my password only 35 days before! What the h. So, sorry if one day you couldn’t find this blog or any social media I have. Because of this stupidity. Thx.

By the way, I’ve successfully logged in to my instagram account! Not a big deal sih, just so you know aja. Bye!

Sanggar Seni Kinanti Sekar

Ada energi tersendiri dalam menari, entah apa itu, tapi aku bisa merasakannya di hati. Menari adalah hobi sejak masih TK, yang sempat mandeg saat SMP karena sekolah di Muhammadiyah, dan SMA karena sibuk urusan di luar sekolah (ehem). Kemudian melanjutkan menari saat kuliah karena ditarik oleh Chandra untuk ikut acara AMSA. Dan terus melanjutkan tahun berikutnya sampai koas.

Cerita sedikit tentang pengalaman saat koas tapi tetap nekat untuk menari. Waktu itu lagi rotasi di Klaten stase Ilmu Penyakit Dalam (IPD). Latihan cuma 3 kali dari total 10 kali pertemuan, dan jatah 2 kali itu karena sebelumnya stase selo (lupa deh stase apa, kulit kalau ngga salah), dan setelah masuk penyakit dalam udah sama sekali ngga bisa latihan, mungkin 1x saat sebelum diberangkatkan ke Klaten. Hari H pentas, masih masuk sampai jam 3an sore, langsung mlethas ke Yogyakarta. Izin ngga ikut follow up malam sama dr. Dany yang waktu itu jadi residen pembimbingku dan Uti, dan menitipkan pasienku ke Uti (huhu baik banget ibu peri!).  Ternyata perjalanan kurang lancar, macet banget daerah bandara, akhirnya terlambat datang gladi bersih dan sampai di kampus langsung dimarahin semua orang karena ngga pernah datang latihan, ngga mantepin pola lantai, ngga ikut gladi bersih, dan belum dandan. Lihat panggungnya literally 2 menit sebelum musik dimainkan. What. Tapi hamdallah pentas berakhir dengan bahagia. Setelah pentas langsung kembali ke Klaten untuk menjadi koas lagi. Rahasia di balik kesuksesan pentas dengan 3x latihan? Nonton YouTube!

**

Sejak kecil selalu ikut tari kreasi baru karena berpendapat kalau menarikan tarian klasik aku bisa ketiduran (saking halusnya gerakan dan gendingnya). Tapi waktu diajakin Chandra ikut Sanggar Seni Kinanti Sekar (SSKS), rasanya pengen nyobain hal baru, yang lebih menantang, dan membutuhkan kesabaran dan teknik yang benar, dan biar sekelas sama Chandra (psst! major reason). And so be it. Aku dan Chandra daftar kelas klasik dan masuk kelas pertama: Nawung Sekar.

Berhubung kelasnya dibuka menjelang pernikahanku, jadi aku cuma bisa ikut 2 pertemuan awal aja (kayanya), dan bulan berikutnya sama sekali ngga bisa masuk, sampai beberapa minggu setelah resmi jadi istri orang (ganteng, yes). Waktu masuk kelas setelah beberapa minggu menyublim, surprisingly, Mbak Octa (guru sanggar) masih ingat namaku (meskipun nama panggungku yang diingat, Tamara). Wow. Dan waktu masuk itu gerakannya udah selesai diajarkan semua, tinggal mengulang untuk memantapkan gerakan. Aku sama Chandra yang barusan dateng cuma kesandung-sandung kaki sendiri gara-gara ngga ngerti gerakannya hahaha.

Kesabaran dan ketelatenan Mbak Octa selaku guru Nawung Sekar adalah yang membuat aku dan Chandra berhasil menyelesaikan tarian sampai ikut ujian. Meskipun ada kelas tambahan ngga formal sama Mbak Sekar (Bu Kepala Sekolah) di malam gladi bersih sebelum ujian kenaikan kelas. Dan meskipun gerakanku ngga sebaik teman lainnya, dan masih sering salah di sana-sini, but I am happy! Seseneng itu!

whatsapp-image-2017-11-26-at-18-05-34.jpeg
Bersama Mbak Octa :”)

Mengerjakan hobi, dikelilingi sahabat dari hati, dan bertemu sedulur sanggar yang sefrekuensi adalah yang membuat semangat latihan meskipun seharian bolos riset (HAHA). Awalnya menyangsikan bakal terus lanjut menari setelah masuk internsip (6 Desember 2017), tapi setelah ikut ujian kemarin dan melihat perjuangan Chandra yang internsip di Muntilan sampai datang latihan ke Yogyakarta dan langsung kembali kesana lagi….. rasanya ngga ada alasan untuk mandeg. Bismillaah semoga istiqomah.

Anyway, sering banget dikatain sama orang, “Nawung Sekar kan basic banget, buat anak SD. Soalnya tariannya gampang banget dan paling dasar”. Tapi aku yang menjalani rasanya sulit banget. Sempet banget kalimat-kalimat negatif itu sampai kemakan hati, sampai menganalisis diri sendiri, “opo yo aku ki goblog banget nganti tarian dasar wae ra iso-iso? Apa karena seringnya aliran kreasi baru yang rancak? Apa aku kurang sabar dan menghayati?” And it haunted me like crazy.

Tapi kemudian aku tersadar bahwa orang-orang yang pada ngatain, “ih itu kan basic banget kok baru belajar”, adalah nyinyir belaka. Ya terus kenapa kalau basic dan aku baru belajar? We need to learn from basic kan? Yang udah jadi expert pun memulai latihan dari basic. Lagian yang nyinyir ketika disuruh nari juga mungkin ngga jauh beda sama aku. Helooo!? At least I do something, ngga cuma komentar.

Dah, intinya saring komentar di luar sana, don’t listen to what nyinyir people say about you or what you’re doing as long as you’re doing good. Nyinyir adalah iri yang terselubung. Just do YOU, ok! ;)

Terima kasih sedulur sanggar. Sampai jumpa di kelas berikutnya! ;)

Announcements

Belakangan jadi ngga bugar karena ngga pernah olahraga (kecuali latihan nari, if that counts), and I can feel my body hates me right now. Dan belakangan juga lumayan ngejar target magang supaya waktu internsip masih bisa ngelanjutin magang tapi bisa santai magangnya. Selain itu juga lumayan ribet untuk mengatur ulang kembali kehidupan kedokteran yang udah seolah 1 semester ditinggalkan (dengan excuse) untuk mengurus pernikahan. Ditambah lagi waktu luang dipakai buat main Mobile Legends (duh).

And with this post I’d like to say I’m sorry that it impacts on the delayed posts in this blog, that maybe some of you are waiting for them (karena akan segera punya hajat).

And I couldn’t log in to my instagram account that maybe some of you have wondered why my account disappear, that was the ‘why’, and I feel so fine with not having instagram around for a while because it just consumes my time and energy and my focus at some point. And I don’t have to have the eager to validate my happiness anymore. Because you know kan kids jaman now cenderung butuh pengakuan that they’re happy and they’re surrounded by the incredible people and the “you can sit with us” circle and  showing what they’ve done or received for/from their bestfriend and the social validation of their perfect happy lives and a loving and caring husband… sorry ya kalau ada yang tersungging. But honestly though, bener kan?

Jadi, mohon maaf lahir dan batin kalau ada yang menunggu post selanjutnya dan yang membatin kenapa kok @agustina.is ngga bisa ditemukan di instagram. Dan mungkin post selanjutnya (yang sebagian udah di draft) akan segera published setelah hiruk pikuk dunia mereda dan badan mendukung untuk properly duduk di depan meja laptop untuk menulis hal yang pantas dijadikan tips & tricks. Mohon maaf juga kalau aku kaya GR banget ngerasa ditungguin/dicariin. Bukan maksud hati demikian, cuma biar afdol aja ngasih informasi gitu xixixi. Terima kasih sudah sudi membaca ini.

Semangat!