Dilemma Dokter

Sudah jam pulang jaga, tapi masih menangani pasien. Meskipun sudah ada dokter pengganti tapi tidak enak hati untuk operan, yang berujung pada overtime jam jaga (yang tidak dibayar).

Bukan soal dibayar atau tidak. Bukan soal overtime yang (kadang) tidak manusiawi dan tidak diketahui pasien maupun keluarga pasien. Tapi tulisan ini hanya mengungkapkan bagaimana seorang dokter menghadapi dilemmanya. Ia berdiri diantara kepentingan pribadi dan nurani.

Advertisements

Kata ‘Maaf’

“Maaf” adalah satu kata yang terlihat simpel tapi begitu susah diucapkan dalam kehidupan sehari-hari, secara lisan. Betapa dalamnya makna kata maaf ini hingga pengucapannya disubstitusi dengan bahasa asing (paling sering Bahasa Inggris), atau ejaannya diubah (baca: maap, muup, maf eaps). Bagi beberapa orang, mungkin satu kata ini terasa berat untuk bisa melewati pita suara. Tapi, bagi orang yang mengerti betul efek positif dari satu kata pendek ini, dia akan berusaha mengalahkan besarnya ego yang ia miliki untuk bisa dengan tulus meloloskan kata ini dari bibirnya.

Ada juga yang berpendapat bahwa cara pengucapan kata ‘maaf’ ini ada berbagai wujud, mulai dari berjanji tidak mengulangi kesalahan, hingga benar-benar tidak pernah mengulanginya. Bahkan ada orang yang mengatakan kata maaf itu tidak berarti jika kesalahannya masih diulangi. Dan saya pun pernah menuliskannya di salah satu tulisan di blog ini, bahwa kata maaf itu banyak bentuknya, sehingga tidak perlu dinanti bunyinya. Tapi, dengan tulisan ini saya ingin meralat tulisan saya, bahwa ternyata manusia (mungkin tidak semua, tapi kebanyakan–entah disadari atau tidak), masih butuh mendengar kata maaf itu terujar secara lisan.

Kata maaf itu seperti obat merah. Meski murah harganya, bertambah perih pada olesan pertama, tidak dapat memutar waktu supaya tidak terjadi luka, dan tidak bisa menyembuhkan dengan sekali oles dengan kassa, tapi ampuh mengobati luka pada akhirnya. Kata maaf sendiri seperti mudah penulisannya, dapat membuka luka lama pada saat pertama mendengarnya, tidak dapat mengembalikan wujud hati seperti semula, dan tidak bisa menyembuhkan luka begitu saja, tapi ampuh meredam segala amarah dan perih di dada.

Seolah kata maaf itu sendiri mengandung zat yang dapat mengobati sedikit luka di dada, meskipun masih meninggalkan bekasnya. Bedanya, kalau obat merah untuk luka berdarah, kalau kata maaf itu obat marah untuk luka tak berdarah.

Sama seperti tulisan saya yang ini,  kata maaf juga perlu untuk didengungkan. Seperti diajarkan oleh senior saya di SMAN 4 Yogyakarta (secara turun-temurun) yang rutin kami dengungkan., SATOTEMA, “Salam, Tolong-menolong, Terima kasih, Maaf”.

Akan menjadi bangsa seperti apa kita kelak jika penghuni negara ini sudah melupakan cara menggetarkan gendang telinga dengan “SATOTEMA”?

TONTI BHISSAK PATBHE

Tulisan ini disponsori oleh melankolisnya perempuan yang menstruasi dan didukung oleh suatu kiriman teman saya di Facebook tentang TONTI dan difasilitasi oleh suara hujan dan gelapnya sore hari. Facebook jaman now sepertinya suka membuka luka lama dan mengingatkan tentang what we did in the past ya. Duh.

I’ve never said a proper apology to my teamates in TONTI nor OSIS nor even Teater Passopat back then, and I’ve never had the opportunity to talk directly to them, heart to heart. And I know this is not a proper platform to apologize either, nor even a perfect opportunity to do so. But this is what I’ve got, to, at least, say I’m sorry. And maybe some of them (you) don’t read this post but I need to get this off of my chest.

p.s.: I’ll write it in English and Indonesian because I don’t want to sound cheesy and too poetic, so pardon my bad grammar dan kalau ada yang mikir saya sok ke-Barat-barat-an.

tonti1.jpg

Dear all,
Honestly, to be a member of TONTI was my dream of all time, you’ve no idea. It was such a blessing for me, and I’ve never in a million years dreamed of becoming the leader of it, called Lurah. Ne-ver. It was a mixed feeling when I knew I was chosen to lead great people like all of you. Suatu kebanggan, suatu kehormatan, tetapi juga beban yang luar biasa berat di pundak karena I had no clue at that time. Sepulang dari pemilihan pengurus TONTI, all I could think of was, “gimana caranya membawa mereka ke cita-cita mereka? Gimana caranya membuat kita semua berbahagia mendapatkan piala?”.

Sekarang, setiap lihat adik-adik (halah) latihan TONTI, atau ada yang pakai jas TONTI,  atau sekadar melihat foto TONTI yang dibagikan di Facebook, rasanya campur-aduk. Antara kangen, seneng, sedih, bangga, kecewa, semuanya jadi satu. Lebih banyak sedihnya sih. Sedih karena ngga memberikan yang terbaik kala itu, dan sedih karena merasa gagal yang sampai sekarang masih terasa. Sedih karena belum bisa menyumbangkan apapun kecuali cerita. Tersedih lagi karena ngga bisa memperbaiki yang dulu. *sungkem satu-satu sama seluruh anggota pleton inti 2011 BHISSAK* *sungkem sampai ndlosor sama pengurus hariannya* *nangis di pojokan*

Mungkin ngga banyak yang tau kalau I was in love with TONTI in such a hardcore way. Hanya beberapa pengurus harian dan sahabat terdekatku aja yang tau (bahkan suamiku aja ngga tau). It’s sick, it made me sick. All I cared about was TONTI, all I talked about was TONTI. Sampai meninggalkan rapat OSIS hanya untuk latihan TONTI. Pulang dari Malang acara OSIS, baru turun dari bus subuh-subuh, langsung ke sekolah untuk ikut pelantikan TONTI angkatan adik kelas. Bahkan saat diminta untuk menjadi ketua umum OSIS, yang aku incar adalah ketua 1, karena bisa membawahi TONTI. Like.. you’ve no idea.

It cracked me too when we failed. Ketika lomba PPI Kota yang biasanya diambil 15 besar untuk maju ke DIY, dan kita peringkat 11, ternyata yang diambil cuma 10 besar, dan selisih poin dengan peringkat 10 hanya 4 poin. I CRIED LIKE CRAZY. Dan lain sebagainya yang ngga perlu dituangkan di sini, cukup kita aja yang tau.

Kalian hebat, punya lurah kaya aku tetapi masih mau untuk bersatu. Buruk dan busukku pun kalian sudah tau, tapi kalian masih mau membantuku. Kalian luar biasa, punya lurah kaya aku, tapi masih mau datang latihan tanpa ada kekosongan di trio urutan ke berapapun. Kalian kerenm punya lurah kaya aku, tapi masih sudi menunggu segala keputusan dariku dan menjalankannya. Aku hanya manusia beruntung yang mendapat teamates sehebat kalian, yang ngga meninggalkan aku seberapapun buruknya aku, seberapapun beratnya keengganan kalian untuk terus melanjutkan perjuangan bersamaku.

Aku bukan lurah yang baik. Aku lurah yang buruk, yang ngga bisa menunjukkan visinya kepada anggotanya, yang ngga bisa mengajak pengurusnya untuk melakukan misi yang sama, yang ngga bisa mewujudkan targetnya dalam bentuk piala untuk disumbangkan ke sekolah saat upacara hari Senin. Aku bukan lurah yang baik, yang hanya bisa terlarut dalam emosi dan ngga bisa berfikir jernih untuk memeluk kalian semua dan berjalan bersama. Aku bukan lurah yang baik, yang ngga bisa hanya memusatkan perhatianku ke kalian, tapi malah membaginya dengan organisasi yang lain. Aku bukan lurah yang baik, yang bisa ikut sekadar makan siang mie ayam di kantin bersama pengurus harian, karena urusan pribadi.

Aku mengakui dan aku ngga akan mengadakan pembelaan atas hal itu. Aku memang bukan lurah yang baik. Dan aku minta maaf dengan segenap ketulusan dan kerendahan hati akan hal itu. Atas segala yang sudah kita lalui bersama, maupun segala yang tetap menjadi mimpi kita bersama. Meskipun aku berusaha memperbaikinya melalui terjun sebagai pelatih adik-adik penerus kita, tapi rasanya beda. I’ve failed. Period.

Aku tau bahwa kata maaf ngga cukup untuk mengobati luka dari kecewa, melegakan sesak di dada, maupun mengubah segala yang sudah terjadi di jamannya. Aku tau kalau ribuan kata maafku ngga berarti untuk kalian yang kecewa karena sudah terlanjur percaya tapi ngga ada hasilnya, untuk kalian yang marah karena sudah berharap dan berbuat banyak tetapi ngga mendapat apa-apa pada akhirnya, memori indah pun sepertinya engga. Aku memohon maaf dari kalian. I truly am sorry.

Bukan diambil dari kamera dan lensa sebaik sekarang, tapi cukup baik untuk bisa mengabadikan memori tak terulang. Bukan diambil dengan teknik dan sudut yang diperhitungkan, tapi cukup baik untuk bisa membuat kita kembali terbayang pahit dan manisnya kebersamaan. I miss you all, guys.

nb: apakah masih ada ruang dan waktu yang tersedia untuk kita kembali bersama untuk sekadar menanyakan, “mana undangannya?”? :)
Diam-diam aku berdoa agar hari-hariku berjalan seperti hari ke tiga belas bulan kedelapan tahun ini. Meskipun hal kecil namun berarti besar bagiku, adalah hari yang meski tidak ada senyum tersungging secara kentara, namun tiada nyeri di dada.
Dan sepertinya aku mulai memahami apa yang aku butuhkan, adalah bukan senyum atau tawa lepas setiap saat, cukuplah hari-hari yang cerah tanpa air mata.
Terkadang lisan kita berujar tanpa ada kesepakatan antara hati dan pikiran.
Ketidaksinkronan yang terlanjur didengar hati yang lain, dan dimemorikan otak yang lain.
Sesal sudah tidak peduli dengan nurani.
Berdikari mengoyak hati sendiri dan yang lain.
Terlanjur hancur tiada lipur.