Adakah Kedamaian yang Kau Temui?

Merenungkan tentang kematian di sela-sela jaga malam stase Puskesmas. Betul, tidak ada yang tau tentang kehidupan setelah kematian itu seperti apa. Pilihannya hanya dua, (1) Kedamaian, atau malah (2) Kesengsaraan.

Sebagai tenaga kesehatan, kami wajib “menolong” pasien. Melakukan Resusitasi Jantung-Paru (RJP) sampai kelelahan, jaga siang dan malam untuk “menyelamatkan” nyawa pasien. Tapi, apa ada yang tau keinginan pasien itu? Apakah pasien tersebut mau “diselamatkan”?

Bisa jadi pasien itu sudah melihat secercah cahaya putih bersinar di balik sana, ketika kami masih berusaha melakukan resusitasi. Bisa jadi pasien itu merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan ketika ia hidup di dunia ini, saat kami sedang berusaha melakukan kejut jantung. Bisa jadi pasien itu malah “selamat” di alam sana.

Meskipun masih ada kemungkinan bahwa yang kita sebut dengan “menyelamatkan” itu benar-benar menyelamatkan pasien dari Kesengsaraan di alam lain selepas ia meninggal, tapi tetap saja.. tidak ada yang tau, karena ilmu manusia tidak sampai ke sana.

Tidak ada yang ikhlas ditinggalkan orang yang disayangi. Termasuk saya sendiri. Tapi ini menurut logika manusia yang masih tinggal di dunia, dan menyaksikan yang tersayang mendahului pergi.

Manusia terkadang melihat suatu masalah hanya dari satu sisi, satu sudut pandang. Lebih sering dari sudut dia memandang dan dari sakitnya ditinggalkan yang tersayang. Apa yang kami–tenaga kesehatan– sebut dengan “menyelamatkan” adalah dari sudut pandang kita, manusia yang masih berada di dunia. Padahal, belum tentu kata “selamat” versi kita memiliki pemaknaan serupa bagi pasien tersebut.

Jika ingin menilik sisi pasien, meskipun tidak mengeliminasi kemungkinan manusia bertemu dengan Kesengsaraan di sana, bisa jadi memang ia menginginkan kematiannya? Bisa jadi memang dia tidak lagi merasa perlu melanjutkan hidupnya di dunia kita? Bisa jadi memang kebermanfaatan dia di dunia sudah habis? Bisa jadi memang Tuhan lebih menyayangi dia dan lebih bisa memperlakukan dia dengan semestinya ketimbang kita di dunia? Dan masih banyak kemungkinan lain yang membuka peluang tentang pertemuan manusia dengan Kedamaian di alam sana.

Tenaga medis terutama, hanya melihat dari satu lubang kecil dari permasalahan pasien. Terlepas dari pasien itu koruptor, pembunuh, pemerkosa, atau ulama, presiden, dan lain-lain, kami hanya dituntut untuk “menyelamatkan” pasien yang kami tangani. Tidak perlu–tidak bisa–menanyakan kepada pasien, apakah ia butuh “diselamatkan” untuk kembali ke dunia ini atau tidak, yang jelas, ia harus kembali. Keluarganya pun tidak ada yang tau, apakah pasien ingin meninggalkan mereka atau ingin kembali berkumpul untuk merayakan hari raya bersama. Yang keluarga tau (dan mau tau) hanya pasien harus kembali ke dalam pelukan mereka. Jika pasien akhirnya meninggal, tenaga kesehatan bisa terjerat kasus hukum, karena keluarga yang ditinggalkan merasa kehilangan, dengan beralasan: pelayanan tidak baik, pasien tidak divisit, keluarga pasien tidak dijelaskan tentang obat dan prosedur tindakan, dan lain sebagainya. Tapi, bisa jadi pasien yang meninggal sudah bahagia di sana, dapat melihat warna-warna indah yang tidak pernah ia temukan di dunia kita. Bisa jadi, pasien tadi hanya tertawa melihat kita (manusia) bertikai di dunia.

Sekali lagi, manusia, dengan segala keterbatasan ilmunya, hanya bisa menduga dan menyebar cerita. Bukan urusan kita, memang, apakah yang berada di balik Gerbang Kematian itu. Dan mungkin bukan pada prosinya, saya, sebagai tenaga medis membicarakan persoalan yang erat kaitannya dengan nurani. Saya menuangkan opini ini bukan berarti saya tidak ingin menolong pasien, atau yang kita sebut dengan “menyelamatkan”. Saya hanya ingin berbagi pertanyaan dengan Anda, supaya paling tidak, segala tanya ini tidak lagi menghantui. Harap maklum dan mohon dimaafkan.

Ingin segera merasakan Kedamaian tapi takut masuk ke lubang Kesengsaraan.
Advertisements

Jogja untuk Indonesia

DSC_0832
Garuda Pancasila, Bendera Indonesia dan Tiang Keraton Yogyakarta.

Lahir, tinggal dan besar di Jogja merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Selain kotanya yang asri, di setiap sudut kotanya mampu menawarkan senyuman hangat melalui secangkir teh angkringannya. Lampu sentir dan pisang godhog turut menghangatkan suasana Jogja pada malam hari. Angin malam seakan bermain dengan gendang telinga ketika menyampaikan tangga nada musisi jalanan dari perko Malioboro. Setiap pagi datang, tak jarang Merapi ikut menyapa dan membuat hati terketuk untuk mengucap syukur atas nikmat-Nya.

Toleransi umat beragama, tenggangrasa antara manusia satu dengan lainnya, gotong royong dan merangkul semua kalangan sudah merupakan budaya di Kota Jogja. Langkahkan kaki untuk pergi ke setiap seberang Jogja pasti akan menemukan saudara. “Monggo pinarak” adalah sapaan pembuka untuk bercengkerama dan menanyakan lebih dari sekadar nama.

Kesantunan adalah yang paling menonjol di Kota Jogja. Banyak manusia pintar di Bumi Pertiwi, tapi tak banyak manusianya yang pandai hormat-menghormati. Kota ini seperti menjaga kelestarian nurani sejak ia berdiri hingga kini.

“Mohon maaf, dokter, apakah presentasi kasus hari ini jadi njih?”
“Nyuwun sewu, 
Prof, hari ini kami jaga bangsal. Pripun njih?”
Mohon maaf, dokter, saya tidak melihat ada telfon masuk, wonten dawuh menapa njih?”

Kalimat kolaborasi antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa ini kerap terdengar dan digunakan di Rumah Sakit tempat saya mengenyam pendidikan profesi. Tidak hanya hierarki yang mampu mengubah tindak-tanduk seseorang, rupanya kekentalan akan sopan santun Kota Jogja mampu mendidik mereka yang bukan berasal dari Jogja; dari yang tadinya tidak bisa berbahasa Jawa hingga sekarang sudah terbiasa. Terkagum dengan kearifan lokal yang ditawarkan Kota Jogja, tidak sedikit pelajar perantau yang diam-diam berdoa untuk terus berada di kota ini setelah mendapatkan gelarnya.

Berkaitan dengan hal itu, mengutip slogan yang gencar disuarakan dewasa ini, “Jogja Ora Didol” sepertinya masyarakat Jogja mulai memanas. Slogan itu adalah sederet kata yang didengungkan oleh jiwa-jiwa yang tersayat hatinya menyadari Jogja tidak sehijau dan sesejuk dahulu. Gedung-bangunan tinggi menjulang, menawarkan energi modern yang kekinian. Seruan yang kerap membanjiri media dan memenuhi tembok-tembok putih di Kota Jogja merupakan pernyataan tegas bahwa Jogja adalah milik bersama dan bukan untuk kepentingan beberapa golongan. “Jogja Ora Didol” merupakan wujud bersatunya penghuni dan isi Jogja. Penyerunya seolah merasa dirinya yang dijual oleh kaum-kaum elite-berduit, penyerunya yang telah “menjadi Jogja”. Itulah hal lain yang membuat Jogja menjadi istimewa.

Keistimewaan Jogja juga tidak hanya terletak pada Keraton yang berdaulat hingga sekarang, melainkan juga pada sumbangsih masyarakatnya untuk Indonesia. “Jogja untuk Indonesia” telah digelorakan dengan segenap jiwa pada peringatan Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2017 lalu di Keraton Jogja.

Banyaknya berita negatif mengenai Indonesia memberikan luka mendalam bagi bangsanya, seolah-olah mengabarkan pada insan di dunia bahwa Indonesia hanya menunggu momentum tepat untuk kehancurannya. Getir dan khawatir “generasi pejuang” dan “generasi sekarang” menyatukan asa dan semangat juang. Sore itu, ada ratusan kepala tapi yang terdengar seperti satu suara, “Jogja untuk Indonesia!”. Tentunya getaran itu menyampaikan satu rasa yang sama bahwa Indonesia tidak jatuh dan Jogja tidak akan membiarkannya runtuh. Menjadi Jogja dan Menjadi Indonesia sepertinya bukan lagi hal yang sulit bagi warga Jogja.

Kota Pelajar ini mengajarkan banyak hal kepada penduduk dan mereka yang mendatanginya. Memiliki toleransi yang tinggi, tidak hanya kepada pemeluk agama tetapi kepada semua manusia merupakan kunci ketenteraman Kota Jogja. Sehingga tidak heran jika angka harapan hidup di Jogja merupakan yang tertinggi se-Indonesia. Solusi didapat dengan duduk bersila dan menghadirkan tokoh masyarakat serta para ahli di bidangnya, bukannya turun ke jalan dan membakar ban. Sifat nrimo masyarakat Jogja patut diacungi jempol. Mereka mengerjakan segala sesuatu dengan keikhlasan, meski upah yang diberikan terbilang mustahil untuk menyambung hidup anak-cucu sehari-hari. Tapi nyatanya, mereka yang demikian tetap bisa menyambung hidup dan tidak merasa kekurangan.

Kesederhanaan-lah yang mencukupkan segala sesuatu. Tidak ada kekurangan jika hidup apa adanya, begitulah Jogja. Selalu menampilkan dirinya sesuai kemampuannya dan tidak pernah meminta melebihi apa yang pantas untuk diterima. Bisa memaksimalkan potensi yang dipunya hanya dengan bertanya pada dirinya, “adanya apa?”.

Berkaca dari Kota Jogja, semestinya kerusuhan di Ibu Kota Negara maupun di seluruh penjuru dunia tidak perlu terjadi. Bukan berlebihan jika setelah menjadi Jogja, tidak susah untuk menjadi Indonesia.

Tentang TV

Sedih ketika pertelevisian Indonesia hanya sibuk menyensor belahan dada dan percikan darah dan menghentikan tayangan kartun (yang mereka anggap) tidak mendidik, sedangkan masih ada stasiun televisi yang menayangkan acara yang jelas-jelas menyebarkan informasi tidak mendidik (dusta) dan bisa menjadi dosa jariyah bagi penontonnya yang menyebarkan berita tersebut.

Lebih-lebih jika acara tersebut menayangkan berita tentang kesehatan, yang mana sangat digandrungi penonton Indonesia yang sangat senang didiagnosis dan merasa pintar ketika bisa mendiagnosis tetangganya.

I mean, Indonesia.. come on.

Please Tell Me WHY.

Heran, kenapa banyak orang suka didiagnosis? Kenapa mempercayai omongan orang dan mereferensinya hanya untuk melegitimasi bahwa dia sakit? Kenapa suka menjadi orang sakit atau dinilai lemah oleh orang lain? Kenapa suka memiliki keterbatasan?

“aku ini punya sakit asma”

“aku ngga bisa kecapekan”

“aku ngga bisa stres sedikit, kalau ada pikiran langsung drop”

Kenapa? Does it make you powerful? Apakah menjadi sakit membuatmu bisa menggapai cita-citamu? Apakah memiliki keterbatasan jadi terlihat hebat? Apakah mengunggulkan kelemahanmu di hadapan banyak orang jadi terlihat spesial?

I don’t get it.

Disaat orang yang benar-benar sakit struggling and working their ass off to be healthy again. Disaat mereka berjuang untuk bisa melawan keterbatasan mereka. Disaat mereka berusaha untuk menutupi kelemahan mereka untuk tidak dikasihani orang lain. Kenapa ada orang yang bangga menjadi sakit?

“aku kemarin sampai didiagnosis sama dokter kalau aku gastritis akut. Saking stresnya dan kecapekan sampai akut banget gastritisku”

WHY?!

Is it only me that annoyed so much by this matter?

Our Problem

As we all know, nowadays, we have free access to watch TV shows or social media posts about violations, including traumatic events. It is a strange phenomenon for me that many people are enjoying those shows/posts, and many people are providing those news to be consumed not only by the adults but also the teenagers and all, and the children have the free access to watch those violent posts whenever they want, and their parents allow them to watch those, and SEVEN BILLIONS people in the world don’t seem to care about it and thought that it is okay and nothing bad will happen in the future.

But excuse me, those media news/posts of traumatic events traumatised me anyhow and at some point it hits the fear button in my head. Well, my father made the right call forbid me to watch those kinds of things back then when I was a child and I thanked him for that.

I am not qualified talking about psychology or somewhat, but I just wanted to show you how terrible this topic could bring in the future. As written in Association for Psychological Science about Repeated Exposure to Media Images of Traumatic Events May Be Harmful to Mental and Physical Health that it really is not okay to have a free access to those images of traumatic events. According to The Psychological Effects of Violent Media on Children, children playing violent video games can cause later aggressive behavioral problems. In retrospect studies have also shown a twelve percent increase in aggressive behavior after watching violent television as well. And also The American Psychological Association says there are three major effects of watching violence in the media (i.e.: video games/television) children may become less sensitive to the pain and suffering of others, children may be more fearful of the world around them, and children may be more likely to behave in aggressive or hurtful ways toward others.

Are you kidding? Will this world become a better place for living in the next 20 years to come? Can you imagine how awful and how terrible our world could be if the next generations of us become less sensitive to the pain and suffering of others and be more likely to behave in aggressive or hurtful ways toward others? Is this really the world you’re planning to live in for your elder time?

FullSizeRender 2

I don’t want to judge the young parents who allow their children to do anything as they like without thinking the consequences to their growth and development, their psychology, their mentality and the future. I don’t want to criticise how they raise and educate our next generations that built the anti-social character, chose to show off their mobile phones in the school, instead of their ranks or trophies, and still thinking that it is okay. I don’t want to blame the young parents who let their children free from the parental guidance. I don’t want to tell them what’s best for their children and how to educate their children, because hey I haven’t even married yet, I don’t feel what they feel.

I don’t have any suggestions for all of us to at least minimise the effects in the future. This is all that I could, writing it in the blog and hoping that someone with “the power” will spread the news and open a discussion that coming up with solutions of how big the problems that we’re dealing with right now and in the future. This one is freaking me out, guys. Don’t you?

photo

 

Kartini

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776

Menurut saya, Kartini adalah jiwa pemberontak yang terperangkap di dalam tubuh seorang putri bangsawan yang hidup di zaman diskriminasi gender yang kental. Hanya saja, jiwa pemberontak (rebel) Kartini ini memberi dampak positif pada perempuan-perempuan di era setelahnya, emansipasi.

Coba kalau ke-rebel-an Kartini tidak memberi dampak baik pada kaum perempuan di era sekarang, pasti dia hanya akan dicap sebagai remaja labil yang tidak dapat menjaga nama baik keluarganya.

Sekarang, ketika perempuan sudah mendapatkan kebebasannya, adalah keharusan bagi mereka (kita) untuk mengupayakan segala bentuk ke-rebel-an mereka agar menjadi suatu hal yang positif atau berdampak baik pada orang lain.

Sebelumnya perlu kita pahami, bahwa ke-rebel-an Kartini ini pun memiliki batasan, yaitu kodrat. Kartini tidak menanggalkan kodratnya sebagai perempuan, anak, istri. Kartini tidak melarikan diri ketika diminta menikah oleh ayahnya. Kartini tidak meminta cerai dari suaminya, bahkan sampai bisa mengandung anak suaminya. Intinya, meskipun rebel, Kartini tetap menjalankan tugas sesuai dengan kodratnya. Mari kita berkaca pada era 2000-an.

“Seorang suami melarang istrinya menjadi artis, sang istri menolak dan memilih untuk pisah ranjang.”

Ilustrasi di atas menggambarkan tentang ke-rebel-an yang tidak berdampak positif pada siapapun, kecuali memberi makan ego pribadi. Assalamualaikum, halo? Melepaskan tanggungjawab dan lari dari kodratnya sebagai istri-ibu, dan mengejar ketenaran dengan berdalih pencapaian cita-cita/meniti karir. Begitu disebut emansipasi wanita? Eman-sih.

Ngono yo ngono tur yo ojo ngono. Emansipasi ya emansipasi, tapi tetap dikembalikan lagi ke diri, sesuai dengan kodrat atau tidak. Toh yang diberontakkan Kartini adalah memiliki hak pendidikan yang sama dengan pria. Bukan segala hal harus sama dengan pria. Lha kalau semuanya sama antara pria dan wanita, terus tupoksinya pria apa dong? ;)

photo