Post Wedding Photoshoot

Sengaja ngga melakukan sesi foto pre wedding karena (1) Ngga begitu suka the idea of pre wedding photoshoot, (2) Ngga dibolehin sama Kanjeng Papi (banyak pamalinya, katanya), (3) Ngga sempat memikirkan pre wedding. Akhirnya memutuskan untuk melakukan foto post wedding, selain bisa lebih meringankan beban pikiran yang ribet ngurusin wedding plans, jadi lebih luwes dan nyaman aja pergi dan satu frame dengan suami, mau foto dengan adegan panas di bawah sengatan matahari juga gas pol rem blong ye kan.

Beruntungnya punya sahabat ahli motret, Mbak Epik dan suaminya, Mas Bram, yang sedang mencari model untuk portofolio usaha photography mereka. Setelah mengatur jadwal kanan kiri supaya bisa libur sehari, maka jadilah foto kekinian ini.

WhatsApp Image 2017-12-31 at 22.59.24WhatsApp Image 2017-12-31 at 22.59.11

Ngga perlu dideskripsikan kan gimana hasilnya? :)

Alhamdulillaah, sebelum wajah ini dipenuhi guratan pahit-manis kehidupan sudah menyempatkan foto dengan pasangan. Bismillaah semoga diberi rejeki lagi untuk bisa melakukan adegan yang sama dengan orang yang sama, meski mungkin tempatnya berbeda, aamiin. ;)

Matur nuwun Mbak Epik dan Mas Bram dan rekan-rekannya yang sudah mewujudkan keinginan sederhana pasangan newlywed ini. Semoga semakin kreatif, sukses dan go international, aamiin! Tapi jangan pasang tarif ya ke aku hahahaha (tetep).

 

Photo by @bramastoasmara
My white blouse by @summerfresh11
Make up by @agustina.is (me! HAHAHA)

Advertisements

Good Bye, 2017!

WhatsApp Image 2017-12-31 at 22.10.17.jpeg

Inget banget, terakhir umroh tahun 2014 masih bimbang akan 2 hal, satu tentang akademik: mau lulus kapan, dan yang kedua tentang asmara: mau sama yang mana (najis hahaha). Dan terselip beberapa rencana dalam segala doa yang terujar kala itu, surprisingly, it all came true! Allaahu Akbar!

My 2017 recap:
1. Berjuang untuk lulus dari Fakultas Kedokteran
Tiada hari tanpa buka buku dan buka slides materi. Sampai mau tidur aja rasanya berdosa banget. Setiap hari mengafirmasi diri, “this is for your own good.” sampai di titik terlelah dan kemudian pasrah.

2. LULUS UKMPPD 2017
Ini…. kaya mimpi rasanya. Dibangunkan oleh dentingan notifikasi dari ponsel yang ternyata grup LINE PD2011 udah ramai membicarakan tentang pengumuman kelulusan. Langsung lari ke bawah untuk membaca hasil pengumuman sama Papi dan Mami, nangis bersama. It really was like a dream for me, since I didn’t think this field fits me. Terima kasih Allaah sudah mempercayai hamba Mu di bidang yang mempertaruhkan nurani ini.

3. Sumpah Dokter Angkatan 2011 Gelombang 1 FK UGM
Banyak yang ngga nyangka seorang titin bisa masuk kedokteran, UGM pula. Banyak juga yang menyangsikan seorang titin bisa lulus dari FK UGM, apalagi bisa ikut gelombang satu di angkatannya. Dan seorang titin itu juga termasuk yang meragukan kalau seorang titin itu bisa. Hingga tiba hari pembuktiannya ketika mengucap sumpah dokter dan diberi map merah berisi ijazah dokter yang diserahkan langsung oleh Dekan FK UGM, Prof. Ova Emilia, Mmed. Ed., Sp.OG(k), Ph.D. Dan yang menjadi highlight di momen itu adalah aku bergabung dalam Paduan Suara 2011 dan menyumbangkan sedikit dari yang aku bisa, membaca puisi. Yang kerennya lagi, puisi itu dibuat oleh alumni SMAN 4 Yogyakarta (dan sepulang acara banyak yang menanyakan puisi dan penulisnya). Sakses!

4. Menikah
Ngga pernah terbayangkan dalam benak seorang rebellion seperti aku untuk menikah muda (for me, 25 is a newborn). Bahkan (sedikit buka-bukaan ya), sempat ada beberapa orang menyatakan ingin menikahiku sekitar tahun 2014-2016 tapi ku jawab, “aku masih pingin sekolah dulu”, atau, “menikah memang ada dalam list prioritasku, tapi bukan di posisi teratas saat ini.” Tapi kemudian akhir tahun 2016 aku menerima lamaran Mas Yudha dan akhirnya menikah di akhir tahun 2017. I know, kampret, right? Tapi ya mohon maaf lahir dan batin, that was how I feel. Ngga ada yang tau apa yang akan terjadi setahun lagi, bahkan sedetik lagi. I didn’t mean to hurt anybody, I just didn’t know apa yang akan terjadi setahun lagi. List prioritas itu pun bisa berubah, mengikuti arus situasi dan kondisi (hm).

I’m happy that I’m married now, regardless the adaptation issues we’re facing right now, but I’m happy. Menikah memang mengubah segalanya, meskipun jiwa pemberontak ini masih sulit diatur, but at least I’m on the right track and heading there. Mungkin karena masih di tahap adaptasi ini jadi terkesan kurang luwes jika berada di lingkaran-lingkaran tertentu, but I’m working on it.

“Menikah adalah bentuk kepasrahan tertinggi di Bumi Pertiwi.” – Istaryanti, 2017

Alhamdulillaah. Allaah Maha Besar! Bismillaah, semoga 2018 kita selalu mendapat perlindunganNya dan mendapat kebahagiaan yang melebihi kesedihan masa lampau. aamiin.