Tips & Tricks 14: Souvenirs by Nananini Wedding

Kalau lihat-lihat di Pinterest atau di platform lain, kayanya gampang gitu bikin kerajinan tangan sendiri (Do It Yourself alias DIY). Tapi setelah dilakoni ternyata… butuh tangan terampil dan kesabaran dan kekreatifan dan waktu luang. Seperti biasa, di detik-detik akhir mendekati hari H rangkaian acara pernikahan, aku baru ribet cari kesana kemari vendor yang bisa menghias sesrahan dan souvenir siraman.

Beruntung punya sedulur yang udah mentas jadi bisa berbagi info tentang vendor yang menawarkan jasa sesuai kantong dengan hasil yang ngga bikin kecewa. Adalah Nananini Wedding di Jalan Namburan Lor 54 Yogyakarta (daerah Alun-alun selatan).

Mbak Nana super gaul dan ngayomi banget, jadi yang awalnya aku cuma mau order buat sesrahan aja, akhirnya sekalian bikin souvenir siraman. Selain sesuai anggaran, jadinya juga sesuai tanggal yang aku mau.

Sempet nanya ke Kado Kita di Sagan, tapi 1 sesrahannya seharga 150.000-an. Bagus sih cuma ya buat apa, menurutku, toh seserahannya bakalan buat aku dan bakal dibongkar. Palingan jadi bahan tontonan waktu malam midodareni. Untuk dokumentasi sesrahan belum sempat kefoto (ini sedih sih), jadi mohon maap cuma ada foto souvenir siraman aja. Oh iya renda-renda itu beli di Narwastu (surganya alat dan bahan DIY) sama Sondang dan Chandra di hari aku dikasih kejutan Bridal Shower (THX). Aku sendiri yang masang lhooo sampai beli lem tembak segala (kemudian berfikir untuk membangun usaha bikin sovenir lol). Sebenernya jauh lebih hemat kalau merangkai sendiri sih. Cuma memang memakan waktu banget.

Bagi yang low budget kaya aku, mungkin sangat cocok baca tulisan ini. Tapi yang budget buat souvenir-nya sampai 1 milyar sendiri yaudah skip aja post ini daripada buang-buang waktu. Ngga ngusir sih, cuma….. malu. HAHAHA.

Tips 1: Kalau mau cari keranjang dan box hantaran bisa di Beringhardjo yang selevel sama tempat parkir mobil. Nanti tanya penjual di sana yang jual keranjang dimana. Tawar sampai bosen beb, jangan kasih kendor.

Tips 2: Kalau mau cari kain bisa di Liman, Malioboro. Surga banget sih itu.

Tips 3: Kalau mau belanja isian souvenir kaya aku mending di Mirota Kampus/Godean di hari diskon mereka (kalau ngga Rabu ya Jumat, lupa). Kalau beli jumlah 50-150an di Indogrosir Jalan Magelang aja. Waktu aku kemarin cuma 35an apa ya, lupa deh yaampun pikun maap.

Tips 4: Cari handuk premium di Beringhardjo lantai 1 losmen 16. Harganya lumayan nampol sih, tapi Kanjeng Mami wanted to give her best of the best, as always. ;)

Tips 5: Bordir handuk di Kencana Bordir, Ngampilan dekat pasar Ngasem. Pengerjaan sekitar 5-7 hari. Bordirannya bagus kok dan harganya super Yogyakarta banget.

Tricks 1: Misal jadinya pakai jasa vendor, minta diambilnya 1-2 minggu sebelum minggu acara kamu. Nyicil ayem beb.

Tricks 2: Bilang ke vendornya budget kamu berapa, pengen dibikin kaya gimana, jumlahnya berapa, biar mereka yang mikir gimana jadinya nanti.

Tricks 3: Misal mau bikin sendiri dan ngga punya alat lem tembak, pinjem temen yang punya aja. Atau beli di Narwastu 30.000 aja dan isinya 1.000-3.000an (yang kecil). Di Toko Merah juga ada tapi lebih mahal kayanya deh. Atau alat apapun pinjem temen aja deh ketimbang beli dan ngga kepakai. Tapi kalau mau buka usaha, boleh juga beli. ;)

Ide-de alternatif yang bisa kamu pakai untuk souvenir siraman kamu: handuk berbagai ukuran sekalian handuk kimono, bandana dan alat buat maskeran sekaligus super volcanic pore clay mask innisfree, alat mandi (shower), sabun dan hand lotion The Body Shop, brush make up Morphe sama beauty blender, manicure set, lilin aroma terapi, cotton bud dan tissue sekaligus wadah acrylic-nya, parfum/body mist, minyak telon, ciduk dari batok kelapa, travel pouch untuk alat mandi, sandal dan jas hujan (usulnya Mas Yudha lol),  dsb.

Wis ngono ae yo rek. Bye.

Advertisements

Tips & Tricks 13: Undangan Pernikahan #2

Udah pada tau kan sekarang bisa klik Tips & Tricks di bagian kategori biar cepet bacanya? Cari aja di bagian paling bawah dari halaman blog ini. Sip.

Sekarang aku akan mencoba menjelentrekkan Tips & Tricks undangan manten. Aku ngga akan membicarakan tentang bagaimana memilih vendor, aku asumsikan kamu udah tau mau pakai vendor apa, jadi langsung ngomongin stepsnya. Ada 3 hal besar yang perlu diperhatiken, dan bisa menyusun time table dari 3 poin besar ini, yaitu :

1. Visualisasi
Sampaikan konsep undangan keinginanmu ke vendor undangan. Tunjukin ribuan screenshots undangan orang lain ke vendormu. Kemudian minta dibuatkan dummy-nya. Ada beberapa vendor yang ogah bikin dummy sebelum ada Down Payment (DP). Ngga apa-apa, tanyakan aja di awal dia bisa bikinin dummy dulu engga, supaya kamu bisa tau apakah vendor yang kamu pilih mampu memvisualisasikan mimpimu dengan baik dan tepat.

Tips 1: Kalau kamu anak konglomerat dengan tamu jutaan dan kamu tipe anak detail yang perfeksionis, datangi vendor 1 tahun sebelumnya (kalau memang kamu sudah berencana sejak lama) atau kalau mepet banget 3-6 bulan karena akan banyak revisi dummy.

Tips 2: Saat proses visualisasi dummy, buat tabel di Excel dan mulai input data tamu undangan, biar ngga gelagepan waktu ditagih sama vendornya. Dan kamu bisa nyicil ngirim data ke vendor, supaya dibuatkan labelnya. Baca di post sebelum ini ;)

2. Produksi
Proses produksi ini lama atau engganya sangat tergantung dari konsep kamu, jadi tiap individu beda. Kalau punyaku kemarin bisa aku push 5 harian jadi karena undangannya cuma ala kadarnya, meskipun pakai hot print segala.

Tricks 1: Cetak berkala. Semisal ada tamu dari luar kota, kamu cetakin duluan, supaya bisa nyicil ayem.

3. Distribusi
Ini adalah yang paling krusial sih, karena kamu harus antisipasi sama “undangan kembali” karena alamat ngga bener atau orangnya pindah dsb.

Tips 3: Sebaiknya distribusi undangan dilakukan H-1bulan (dimulai dari yang terjauh dulu). Selain kamu bisa tenang karena undangan sebagian udah terdistribusi, kamu juga punya cukup waktu untuk mengurusi “undangan kembali” tadi. Dan sebagai tambahan, kamu ngga perlu bayar mahal untuk kurir express atau kilat.

Tips 4: Dalam susunan kepanitian pernikahan kamu, buat tim distribusi undangan dari masing-masing lingkaran, supaya lebih tepat sasaran. Jangan cuma penanggung jawab aja ya, soalnya riskan dan beban yang ditanggung terlalu berat nantinya. Misal FK UGM, yaudah yang lingkarannya disitu siapa, RS Sardjito siapa, dst. Pastikan mereka memegang daftar tamu undangan dan bisa melaporkan ke kamu siapa yang belum terdistribusi, siapa yang udah, siapa yang alamatnya salah. Lebih bagus lagi kalau tim itu bisa mencari cara supaya “undangan kembali” itu bisa terdistribusi dengan baik. ;)

Dari 3 poin itu buat time table sama vendornya. “Mas aku mau sebar undangan bulan Juli, proses produksi berapa lama untuk undangan segini? Oh yaudah berarti revisi maksimal sampai bulan depan ya. Sip.”

Segitu aja tentang undangan, kalau ada yang kurang nanti aku tambahin lagi. Anyway, makasih Nabila yang udah berbaik hati mau minjemin kamera barunya untuk kepentingan dokumentasi post wedding ku. Mwah!

Desain logo dan keseluruhan undangan oleh: Mas Yudhanto. Bagi kalian yang bingung cari orang buat desain apapun itu, ngga cuma undangan, kontak dia langsung aja, atau bisa lewat aku. ;)

Tips & Tricks 12: Undangan Pernikahan #1

Agak ngebut update-nya ya guys, keburu masuk internsip dan ngga sempet bikin tulisan lagi hiks. Langsung aja kita bahas tentang undangan pernikahan. Untuk membuat undangan pernikahan, pastikan kalau kamu udah punya bekal:

A. Konsep acaramu, konsep undanganmu dan kalau bisa udah ada contoh dalam bentuk foto atau fisik (Termasuk juga jenis kertas, warna kertas, ukuran kertas, dsb).
B. Jumlah undangan
C. Tanggal rencana distribusi undangan (untuk nge-push vendor biar cepet jadi).

Sebenernya vendor undangan ini sangat tergantung personal preference dan budget, karena kalau aku pribadi  pengennya sih undangan yang super simpel, pesan tersampaikan dengan baik, kertas yang sederhana aja soalnya bakal dibuang, ukurannya juga yang wajar aja. Tapi pengen ada kesan Jawa-Yogyakarta yang bold & pakai warna merah-putih biar nasionalis. Bahkan awalnya pengen bikin yang ada cap lilin kaya di Game of Thrones gitu tapi berhubung harganya mahal banget (ngga sesuai sama alokasi dana dari Menteri Keuangan keluarga alias Kanjeng Mami) jadi yaudah lanjut ke plan B aja.

IMG_5359

Oh iya, aku ngga hunting vendor invitation karena memegang asumsi, “cetak doang ini, pasti sama aja”. Ternyata SALAH BESAR! Nah di sini aku akan membeberkan kesalahan apa aja yang aku perbuat, dan tidak untuk diulang oleh kalian. ;)

Tips 1: Hunting vendor
Cari vendor yang menawarkan kualitas prima tapi harga mahasiswa. Bisa tuh cari tau lewat temen-temen yang udah duluan menikah. Bandingkan harga dan fasilitas yang mereka dapat, apakah sesuai atau engga.

Tricks 1: Tanyakan sedetail mungkin supaya ngga dikibulin
(1) Bisa bikin dummy dulu sebelum DP? Kalau ngga bisa, harus bisa. Ngga deng.
(2) Bisa bikin desain ini atau itu? Semisal jadi di vendor itu, apakah dapat free: kartu pengganti buku tamu? Kartu di box souvenir? Kartu pengambilan souvenir? Denah? Buku Tamu? Jumlahnya bisa dilebihin for free?
(3) Jumlah undangan X proses produksi berapa lama?
(4) Kalau sewaktu-waktu minta tambah undangan, harga berubah ngga? Jadi berapa? Kenapa?
(5) Bisa cetak berkala? Untuk tamu undangan di luar kota, misalnya.
(6) Labeling dari vendor bisa? Kalau bisa, labeling dari Excel atau pakai Photoshop? Biasanya pakai label transparan/biasa? Ditempel di undangannya atau di plastiknya?
(7) Undangan yang kita terima including plastiknya kan? Udah diplastikin siap edar atau harus kita sendiri yang mlastikin?
(8) Kalau desain dari kami, situ tinggal nyetak harganya berapa? Masa sama aja? Halo?!
*dan lain sebagainya, aku lupa huhu. Besok kalau inget aku update*

Intinya tanyakan semuanya di awal sebelum DP. Nanti kalian sedih kaya aku guys, harus nyetak label sendiri karena bakul e ngga familiar sama cara bikin label dari Word yang tinggal import dari Excel. Tapi dia bisanya bikin manual satu per satu dari Photoshop, kan ya kalau tamunya se-Indonesia Raya merdeka, ngga jadi kawin aku guys, gur ngenteni nggawe label tok. Terus aku harus nempelin label sendiri dan masukin undangannya sendiri ke plastik. Nganti boyoken rek.

Lalu untuk distribusi undangan, karena super mepet banget cetak H-5 KONIKA, cetak label dan nempel dan masukin ke plastik dilembur sampai ngga tidur, jadinya morat-marit. Banyak yang belum menerima undangan. Lalu Papi meminta bantuan rekan-rekan beliau (diambil satu atau dua per lingkaran) untuk mendistribusikan undangan. Emang sengaja ngga pakai elektronik atau via WA, semuanya bentuk fisik supaya ngga membludag tamu undangannya.

Nah yang poin 8 di atas itu lumayan jengkel sih aku. Soalnya yang bikin desainnya dari 0 sampai jadi itu adalah aku dan Mas Yudha (mostly si Mas sih), dan literally vendorku cuma nyetakin. What the f. Bayangken aja kami desain sendiri, nyetak label sendiri, nempelin sendiri, mlastikin sendiri, ngedarin sendiri (yaiyalah kalau ini), tapi harganya sama aja kaya dia yang nge-desain. Tapi yaudah ngga apa-apa, berhubung ngga ada percetakan yang sanggup nyetak undangan jumlah banyak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan hot print dan jenis kertas yang aku mau jadi ya dihitung sedekah aja. Tapi sedekahnya kebanyakan sih ini mana bukan untuk kaum lemah tak bersalah pula. *nangis di pancuran*

Tips 2: Bikin time table bersama
Setelah ketemuan sama vendornya, buat kesepakatan deadlines jadi kamu tenang, dia pun senang. Ini akan aku bahas di Tips & Tricks selanjutnya ya karena lumayan panjang.

Tips 3: Bikin tabel di excel
Usahakan circle pertemanan yang berbeda ditaruh di sheets yang berbeda, jadi memudahkan pendataan ulang. Kalau aku kemarin kaya gambar di bawah ini. Jadi tabel itu aku cetak dan aku sertakan bersama undangan fisik yang akan didistribusi, untuk memudahkan tim distribusi sih, jadi mereka laporan ke kita pakai daftar yang udah kita buat gitu. Kenapa di Excel? Untuk memudahkan labeling, tinggal import ke Word.

Tamu Undangan.jpg

Tips 4: Pisahkan tamu VIP dan non-VIP
Pastikan undangan terdistribusi dengan baik, jalur khusus kalau perlu. Jangan sampai kaya aku, sampai-sampai Bupati Sleman ngga dapat undangan. Untung aja Nudia dapat undangan karena temen kuliahku. Huhuhu, nyuwun agunging samudro pangaksami untuk tamu-tamu agung yang tidak dapat undangan, bukan maksud kami demikian :”(

**

Segitu aja kayanya yang perlu diperhatikan, ini aja udah kepanjangan. Intinya jangan sampai dikibulin vendor ya guys. Nanti kalau ada update aku langsung tambahin disini ya, jadi kalau lagi iseng boleh mampir lagi, siapa tau ada tambahan. ;)

Semoga membantu :)

 

Tips & Tricks 11: Decor by Larasati Yogyakarta

Note: Ini bukan partnership atau paid blog post ya, siapa hamba yekan. Sekadar berbagi pengalaman aja. ;)

Langsung lompat ke acara resepsi di gedung karena banyaknya pasangan calon manten yang menanyakan, “kemarin dekorasi di GSP pakai vendor mana?”. Jawabannya seperti yang di judul: Larasati Decoration Yogyakarta. Awalnya ngga tau-menau tentang dekorasi vendor apa yang bakal dipilih, tapi Kanjeng Mami sudah memilihkan Larasati atas advis dari sahabat-sahabat beliau dan review dari beberapa sedulur yang pernah pakai jasa Larasati.

Dekorasi adalah yang pertama dilihat oleh tamu undangan (termasuk yang suka nyinyir) ketika punya hajat, apapun itu. Jadi, lumayan riskan kalau menekan biaya di dekorasi, menurut ku. Ngga apa-apa mahalan dikit, yang penting puas. Tapi, kembali ke individual preference sih, bagaimana mengurutkan skala prioritas budgetingnya.

_M9A1082.JPG

Pertama ketemu sama Bu Anjas (owner Larasati) kesannya adalah ramah, sabar, dan bisa diajak diskusi. Ternyata kesan itu sampai detik aku ngetik tulisan ini masih tetap sama. Beliau akan dengan sabar mendengarkan dan berusaha mewujudkan your wedding dreams. Banyak yang bilang sih kalau Larasati terkenal mahal di Yogyakarta…. tapi guys, ono rego ono rupo sih menurutku. Karena, ngga bohong, sampai detik ini aja masih banyak yang nanyain dekorasi resepsiku sambil memuji keindahannya (hamdallah). Terpenting adalah kamu bisa bersahabat sama orang vendornya, karena itu sangat mempengaruhi mood kamu menjalankan tips & tricks ini. Beberapa mungkin udah pernah kalian baca di posts sebelumnya ya:

Tips  1: Pakai prinsip buka usaha, guys, ATM, alias Amati Tiru Modifikasi.
Amati dengan rajin-rajin datang ke kondangan orang, tapi kalau diundang aja, jangan bonek (bondo nekat). Jangan cuma datang aja, tapi amati betul dekorasi keseluruhan dan mendetail, karena nanti waktu order vendor, kamu akan ditanyai dekorasi yang kamu mau dari pintu masuk sampai pintu keluar kaya gimana.
(1) Pintu masuk, (2) Meja Buku Tamu, (3) Sudut-sudut kosong mau diisi apa, (4) Photo Booth (kalau ada), (5) Red Carpet menuju pelaminan untuk tamu umum dan tamu VIP, hiasan sepanjang jalannya, (6) Dekorasi di belokan red carpet, (7) Dekorasi pelaminan.

Tricks 1: Ambil kartu nama dekorasi, biasanya disediakan di meja buku tamu.
Tricks 2: Dokumentasikan dekorasi yang menurut kamu bagus dan pengen ada di acara kamu. Kalau malu, suruh pasangan kamu buat ngefotoin.

Tiru dekorasi yang kamu mau dengan tanyakan ke vendor inceran kamu bisa apa ngga bikin model-model begitu.

Tricks 3: Misal kamu suka vendor A, tapi ngga sesuai budget kamu, yaudah minta vendor lain yang sesuai kantong kamu bikin dekorasi serupa aja. Hasilnya bisa ada 3 kemungkinan: (A) Apik alias bagus banget, (B) B aja alias biasa aja, (C) WTF?!
Meskipun nanti hasilnya masih menduga-duga, tapi kan udah usaha.

Modifikasi dekorasi yang udah ada menjadi “gaya kamu” banget. Jadi, semisal vendornya sama, tapi kalau dilihat tetap ada bedanya. Antisipasi siapa tau ada admin lambeturah ikutan njagong kan.
Oh iya sedikit cerita, setelah acaraku kan besok paginya dipakai untuk pernikahan juga. Nah, karena loading time dari dekorasi ngga cukup untuk bongkar-pasang di resepsi setelah aku, jadinya acara setelahku menggunakan vendor dan dekorasi yang sama kaya punyaku. Katanya sesama itu, persis. Sedih sih aku kalau jadi orangnya, banget (sedihku bukan karena konsep/dekorasiku disamain sama orang lain, tapi aku sedih kalau ngga bisa mewujudkan keinginanku).
TAPI, hal ini sebenernya udah diinformasikan sejak jauh-jauh hari oleh vendor gedung dan dekor. Misal nih, misal, terjadi sama kamu (bukan ndoain), at least minta mereka untuk modifikasi/mengubah sedikit entah letak bunga, warna bunga, atau apanya, supaya ngga menimbulkan kesan sama persis. ;)

Tips 2: Teliti sebelum membeli.
Jadi, setelah pertemuan pertama membahas KONSEP dan gambaran kasar tentang acara kamu, nanti vendor akan membuat proposal. Nah di situ kamu perhatikan betul harga-harganya. Kalau kamu anak konglomerat, yaudah skip it. Tapi, kalau kamu cuma butiran jasjus kaya aku, baca setiap huruf dan angka yang tertera. Karena bisa jadi ada harga yang bisa ditekan. Kaya aku kemarin harga buket bunga itu bisa mahal banget, padahal bisa aja ditekan dengan beli buket bunga sendiri, dsb.

Tips 3: Jangan pernah males untuk diskusi dan negosiasi.
Kalau bisa ditekan budgetnya, negosiasikan aja. Bagus ya bagus tapi jangan bikin kita kurus (karena jadi ngga makan gara-gara duitnya habis buat kawinan).

Tips 4: Lihat fotonya.
Ini wajib ain hukumnya. Jangan cuma dibayangin, harus lihat bentuk fisiknya. Kalau ngga ada waktu buat dateng ke kondangan, lihat dokumentasi yang vendor itu punya. Warna kainnya, bentuk kainnya, dan sebagainya. Kalau perlu digambar biar sama persepsinya.
Kalau aku kemarin emang pengennya sepi aja, ngga usah kemruyuk, tapi ternyata dikasih bunga-bunga sama Bu Anjas, but it turned out sangat indah dan memukau dan megah. Dan di tembok belakang pelaminan, biasanya kan dikasih kain warna-warni gitu, aku ngga mau dan pengen dibikin hitam polos dikasih bintang-bintang aja biar kesan ada suasana malem bertabur bintang dan biar ngga bikin migren tamu yang lihat. Jadinya seperti yang di foto ini ;)

cpnn4322.jpg
The best sih Bu Anjas (Larasati)

Tips 5: Don’t push it.
Pengalamanku sih beberapa vendor di Yogyakarta itu bekerja berdasarkan kebiasaan. udah ada templatenya gitu. Ini sepertinya ‘adat’ ngga tertulisnya orang Jawa. Makanya jarang diantara mereka yang mau bikin konsep baru atau yang harus bikin mereka mikir dan rapat berkali-kali. Selain mereka juga melayani clients lain, mereka juga belum punya pricelist untuk memproduksi konsep baru. Jadi memang agak susah untuk menyisipkan konsep baru yang bener-bener baru dan memakan waktu lama.

Tricks 4: Mulai order dari jauh-jauh hari dan attach sama 1 orang dari vendor itu. Bicarakan konsep baru kamu dan mulai negosiasi. Pantau dan dampingi terus proses pewujudan konsep kamu. Memang jadinya makan waktu dan tenaga banget, tapi kalau kamu mau extra, ya monggo ;)

**

Udah sih itu doang. Oh iya, untuk yang nanya harga aku agak banyak lupa dan nota/in voice pada ngga tau dimana, dan sebenernya itu rahasia perusahaan. Jadi mungkin minta pricelist aja ke vendornya langsung biar tau lebih banyak. Cuma kalau Larasati memang seperti yang dibilang orang-orang, lumayan pricey. Tapi dengan segala pujian yang aku terima sampai detik ini kurasa worth it banget, karena memang itu kan yang dimau pengantin? Kesan baik di hari baik mereka. Dan aku bersyukur sih pakai Larasati dengan Bu Anjas yang sangat memfasilitasi kemauanku banget dan sangat sabar sama orang ribet kaya aku.

Dan cerita aja nih, beliau bener-bener mendatangkan bunga segar buat acaraku. Jadi, bunga dari ujung pintu masuk sampai ke pintu keluar sama di setiap sudut GSP adalah bunga segar SE-MU-A-NYA! Terbaik!! Dan konsepku kan super Jawa-Yogya klasik gitu, beliau menawarkan di pelaminan pakai joglo yang masih baru dari Larasati. Dan jadinya bagus banget, meskipun jogloya makan space lumayan banyak buat jalan salaman, tapi seneng dan puas lihatnya. Matur nuwun sanget, Bu Anjas. :*

Jadi, tergantung budget kamu aja girls. Tapi sebagai yang udah mengalami rasanya seneng kalau vendor-vendor yang dipilih ternyata memang bagus dan menerima banyak pujian. It’s like.. a huge success to me personally.  Satu hal yang perlu ditanamkan di hati: ACARA INI CUMA TERJADI SEKALI, tapi lambe nyinyir ngga akan berhenti. Jadi, setiap kemalasan melanda, kamu bisa bangkit lagi. :)

Hope it helps! Maaf kalau kepanjangan. Let me know what tips & tricks you want read next! ;)

 

Tips & Tricks 10: Segitiga Prioritas

News! You can easily read the Tips & Tricks edition now by scrolling down to the bottom page and select the Tips & Tricks category, just in case you’re in hurry or don’t really want to know about my personal life.

**

In life kamu butuh menentukan prioritas. Dan menurutku, prioritas itu ngga mungkin cuma satu. Sama kaya kamu disuruh milih ayahmu atau ibumu, suatu hil yang mustahal. Maka dibuatlah skala prioritas. Cara bikinnya gimana? Gini..

Bagi kepentingan kamu itu dengan pertanyaan: Pentingkah? Mendesakkah?

Urutan 1: Penting DAN mendesak
Urutan 2: Tidak penting TAPI mendesak
Urutan 3: Penting TAPI tidak mendesak
Urutan 4: Tidak penting DAN tidak mendesak

Gampang kan? Nulisnya. Menentukannya yang susah. Sama kaya di pernikahan, “apa dulu yang harus diurus ya?”, adalah pertanyaan yang terus berputar di kepala meskipun semua hal udah keurus.

Nah sebenernya ada 3 prioritas vendor pernikahan yang perlu diperhatikan di awal banget, yaitu (1) Rias, (2) Katering, (3) Dekorasi, dan (4) Tambahan. Kalau disingkat jadi KDRT (ngga deng). Ini udah sering banget aku singgung di tulisan-tulisan sebelumnya, cuma pengen menegaskan aja biar makin banyak tulisannya lol. Prioritas tadi mengarah pada apa dulu yang dipesan sampai menentukan uang tabungan larinya kemana duluan. Meskipun KUA juga utama (karena ngga jadi kewong kalau ngga daftar yekan) tapi maksud aku adalah major pointsnya.

Intinya sih cuma itu, sisanya bisa dipikir sambil jalan. Oh iya, tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi ya, jadi belum tentu sesuai sama individu lain, termasuk kamu ;)

**

Btw, kalau ada yang pengen aku kasih lihat check list persiapan pernikahanku kemarin bisa komen atau PM aku aja yaaa, biar aku bikinin tulisan tentang itu, Well, I’ve to re-make it because I was smartly delete all files on my laptop et causa I ran out of memory, including my wedding files. Smart. ;)

Masalah Besar

It’s been my main problem since social media is a thing in the whole world, that I always forgot my passwords (on every platform, including this blog!). And that (I’d say) bad habit impacts on me losing my social media after I logged out and couldn’t logged in, example: Twitter, Plurk, Tumblr, YouTube, and recently Instagram…. Shame.

Here’s another example of me trying to login:

login failed_LI

Do you see that? I changed my password only 35 days before! What the h. So, sorry if one day you couldn’t find this blog or any social media I have. Because of this stupidity. Thx.

By the way, I’ve successfully logged in to my instagram account! Not a big deal sih, just so you know aja. Bye!

Sanggar Seni Kinanti Sekar

Ada energi tersendiri dalam menari, entah apa itu, tapi aku bisa merasakannya di hati. Menari adalah hobi sejak masih TK, yang sempat mandeg saat SMP karena sekolah di Muhammadiyah, dan SMA karena sibuk urusan di luar sekolah (ehem). Kemudian melanjutkan menari saat kuliah karena ditarik oleh Chandra untuk ikut acara AMSA. Dan terus melanjutkan tahun berikutnya sampai koas.

Cerita sedikit tentang pengalaman saat koas tapi tetap nekat untuk menari. Waktu itu lagi rotasi di Klaten stase Ilmu Penyakit Dalam (IPD). Latihan cuma 3 kali dari total 10 kali pertemuan, dan jatah 2 kali itu karena sebelumnya stase selo (lupa deh stase apa, kulit kalau ngga salah), dan setelah masuk penyakit dalam udah sama sekali ngga bisa latihan, mungkin 1x saat sebelum diberangkatkan ke Klaten. Hari H pentas, masih masuk sampai jam 3an sore, langsung mlethas ke Yogyakarta. Izin ngga ikut follow up malam sama dr. Dany yang waktu itu jadi residen pembimbingku dan Uti, dan menitipkan pasienku ke Uti (huhu baik banget ibu peri!).  Ternyata perjalanan kurang lancar, macet banget daerah bandara, akhirnya terlambat datang gladi bersih dan sampai di kampus langsung dimarahin semua orang karena ngga pernah datang latihan, ngga mantepin pola lantai, ngga ikut gladi bersih, dan belum dandan. Lihat panggungnya literally 2 menit sebelum musik dimainkan. What. Tapi hamdallah pentas berakhir dengan bahagia. Setelah pentas langsung kembali ke Klaten untuk menjadi koas lagi. Rahasia di balik kesuksesan pentas dengan 3x latihan? Nonton YouTube!

**

Sejak kecil selalu ikut tari kreasi baru karena berpendapat kalau menarikan tarian klasik aku bisa ketiduran (saking halusnya gerakan dan gendingnya). Tapi waktu diajakin Chandra ikut Sanggar Seni Kinanti Sekar (SSKS), rasanya pengen nyobain hal baru, yang lebih menantang, dan membutuhkan kesabaran dan teknik yang benar, dan biar sekelas sama Chandra (psst! major reason). And so be it. Aku dan Chandra daftar kelas klasik dan masuk kelas pertama: Nawung Sekar.

Berhubung kelasnya dibuka menjelang pernikahanku, jadi aku cuma bisa ikut 2 pertemuan awal aja (kayanya), dan bulan berikutnya sama sekali ngga bisa masuk, sampai beberapa minggu setelah resmi jadi istri orang (ganteng, yes). Waktu masuk kelas setelah beberapa minggu menyublim, surprisingly, Mbak Octa (guru sanggar) masih ingat namaku (meskipun nama panggungku yang diingat, Tamara). Wow. Dan waktu masuk itu gerakannya udah selesai diajarkan semua, tinggal mengulang untuk memantapkan gerakan. Aku sama Chandra yang barusan dateng cuma kesandung-sandung kaki sendiri gara-gara ngga ngerti gerakannya hahaha.

Kesabaran dan ketelatenan Mbak Octa selaku guru Nawung Sekar adalah yang membuat aku dan Chandra berhasil menyelesaikan tarian sampai ikut ujian. Meskipun ada kelas tambahan ngga formal sama Mbak Sekar (Bu Kepala Sekolah) di malam gladi bersih sebelum ujian kenaikan kelas. Dan meskipun gerakanku ngga sebaik teman lainnya, dan masih sering salah di sana-sini, but I am happy! Seseneng itu!

whatsapp-image-2017-11-26-at-18-05-34.jpeg
Bersama Mbak Octa :”)

Mengerjakan hobi, dikelilingi sahabat dari hati, dan bertemu sedulur sanggar yang sefrekuensi adalah yang membuat semangat latihan meskipun seharian bolos riset (HAHA). Awalnya menyangsikan bakal terus lanjut menari setelah masuk internsip (6 Desember 2017), tapi setelah ikut ujian kemarin dan melihat perjuangan Chandra yang internsip di Muntilan sampai datang latihan ke Yogyakarta dan langsung kembali kesana lagi….. rasanya ngga ada alasan untuk mandeg. Bismillaah semoga istiqomah.

Anyway, sering banget dikatain sama orang, “Nawung Sekar kan basic banget, buat anak SD. Soalnya tariannya gampang banget dan paling dasar”. Tapi aku yang menjalani rasanya sulit banget. Sempet banget kalimat-kalimat negatif itu sampai kemakan hati, sampai menganalisis diri sendiri, “opo yo aku ki goblog banget nganti tarian dasar wae ra iso-iso? Apa karena seringnya aliran kreasi baru yang rancak? Apa aku kurang sabar dan menghayati?” And it haunted me like crazy.

Tapi kemudian aku tersadar bahwa orang-orang yang pada ngatain, “ih itu kan basic banget kok baru belajar”, adalah nyinyir belaka. Ya terus kenapa kalau basic dan aku baru belajar? We need to learn from basic kan? Yang udah jadi expert pun memulai latihan dari basic. Lagian yang nyinyir ketika disuruh nari juga mungkin ngga jauh beda sama aku. Helooo!? At least I do something, ngga cuma komentar.

Dah, intinya saring komentar di luar sana, don’t listen to what nyinyir people say about you or what you’re doing as long as you’re doing good. Nyinyir adalah iri yang terselubung. Just do YOU, ok! ;)

Terima kasih sedulur sanggar. Sampai jumpa di kelas berikutnya! ;)