Jogja untuk Indonesia

DSC_0832
Garuda Pancasila, Bendera Indonesia dan Tiang Keraton Yogyakarta.

Lahir, tinggal dan besar di Jogja merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Selain kotanya yang asri, di setiap sudut kotanya mampu menawarkan senyuman hangat melalui secangkir teh angkringannya. Lampu sentir dan pisang godhog turut menghangatkan suasana Jogja pada malam hari. Angin malam seakan bermain dengan gendang telinga ketika menyampaikan tangga nada musisi jalanan dari perko Malioboro. Setiap pagi datang, tak jarang Merapi ikut menyapa dan membuat hati terketuk untuk mengucap syukur atas nikmat-Nya.

Toleransi umat beragama, tenggangrasa antara manusia satu dengan lainnya, gotong royong dan merangkul semua kalangan sudah merupakan budaya di Kota Jogja. Langkahkan kaki untuk pergi ke setiap seberang Jogja pasti akan menemukan saudara. “Monggo pinarak” adalah sapaan pembuka untuk bercengkerama dan menanyakan lebih dari sekadar nama.

Kesantunan adalah yang paling menonjol di Kota Jogja. Banyak manusia pintar di Bumi Pertiwi, tapi tak banyak manusianya yang pandai hormat-menghormati. Kota ini seperti menjaga kelestarian nurani sejak ia berdiri hingga kini.

“Mohon maaf, dokter, apakah presentasi kasus hari ini jadi njih?”
“Nyuwun sewu, 
Prof, hari ini kami jaga bangsal. Pripun njih?”
Mohon maaf, dokter, saya tidak melihat ada telfon masuk, wonten dawuh menapa njih?”

Kalimat kolaborasi antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa ini kerap terdengar dan digunakan di Rumah Sakit tempat saya mengenyam pendidikan profesi. Tidak hanya hierarki yang mampu mengubah tindak-tanduk seseorang, rupanya kekentalan akan sopan santun Kota Jogja mampu mendidik mereka yang bukan berasal dari Jogja; dari yang tadinya tidak bisa berbahasa Jawa hingga sekarang sudah terbiasa. Terkagum dengan kearifan lokal yang ditawarkan Kota Jogja, tidak sedikit pelajar perantau yang diam-diam berdoa untuk terus berada di kota ini setelah mendapatkan gelarnya.

Berkaitan dengan hal itu, mengutip slogan yang gencar disuarakan dewasa ini, “Jogja Ora Didol” sepertinya masyarakat Jogja mulai memanas. Slogan itu adalah sederet kata yang didengungkan oleh jiwa-jiwa yang tersayat hatinya menyadari Jogja tidak sehijau dan sesejuk dahulu. Gedung-bangunan tinggi menjulang, menawarkan energi modern yang kekinian. Seruan yang kerap membanjiri media dan memenuhi tembok-tembok putih di Kota Jogja merupakan pernyataan tegas bahwa Jogja adalah milik bersama dan bukan untuk kepentingan beberapa golongan. “Jogja Ora Didol” merupakan wujud bersatunya penghuni dan isi Jogja. Penyerunya seolah merasa dirinya yang dijual oleh kaum-kaum elite-berduit, penyerunya yang telah “menjadi Jogja”. Itulah hal lain yang membuat Jogja menjadi istimewa.

Keistimewaan Jogja juga tidak hanya terletak pada Keraton yang berdaulat hingga sekarang, melainkan juga pada sumbangsih masyarakatnya untuk Indonesia. “Jogja untuk Indonesia” telah digelorakan dengan segenap jiwa pada peringatan Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2017 lalu di Keraton Jogja.

Banyaknya berita negatif mengenai Indonesia memberikan luka mendalam bagi bangsanya, seolah-olah mengabarkan pada insan di dunia bahwa Indonesia hanya menunggu momentum tepat untuk kehancurannya. Getir dan khawatir “generasi pejuang” dan “generasi sekarang” menyatukan asa dan semangat juang. Sore itu, ada ratusan kepala tapi yang terdengar seperti satu suara, “Jogja untuk Indonesia!”. Tentunya getaran itu menyampaikan satu rasa yang sama bahwa Indonesia tidak jatuh dan Jogja tidak akan membiarkannya runtuh. Menjadi Jogja dan Menjadi Indonesia sepertinya bukan lagi hal yang sulit bagi warga Jogja.

Kota Pelajar ini mengajarkan banyak hal kepada penduduk dan mereka yang mendatanginya. Memiliki toleransi yang tinggi, tidak hanya kepada pemeluk agama tetapi kepada semua manusia merupakan kunci ketenteraman Kota Jogja. Sehingga tidak heran jika angka harapan hidup di Jogja merupakan yang tertinggi se-Indonesia. Solusi didapat dengan duduk bersila dan menghadirkan tokoh masyarakat serta para ahli di bidangnya, bukannya turun ke jalan dan membakar ban. Sifat nrimo masyarakat Jogja patut diacungi jempol. Mereka mengerjakan segala sesuatu dengan keikhlasan, meski upah yang diberikan terbilang mustahil untuk menyambung hidup anak-cucu sehari-hari. Tapi nyatanya, mereka yang demikian tetap bisa menyambung hidup dan tidak merasa kekurangan.

Kesederhanaan-lah yang mencukupkan segala sesuatu. Tidak ada kekurangan jika hidup apa adanya, begitulah Jogja. Selalu menampilkan dirinya sesuai kemampuannya dan tidak pernah meminta melebihi apa yang pantas untuk diterima. Bisa memaksimalkan potensi yang dipunya hanya dengan bertanya pada dirinya, “adanya apa?”.

Berkaca dari Kota Jogja, semestinya kerusuhan di Ibu Kota Negara maupun di seluruh penjuru dunia tidak perlu terjadi. Bukan berlebihan jika setelah menjadi Jogja, tidak susah untuk menjadi Indonesia.

Advertisements

Dirgahayu Indonesiaku!

Tahun ini berkesempatan duduk di barisan undangan sama Papi karena beliau tergabung dalam Parampara Praja DIY. Sebenarnya sudah sejak kapan tahun beliau duduk di barisan undangan tapi saat 17-an si anak yang sok sibuk ini tidak berkesempatan duduk dan mengikuti khidmadnya upacara di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Entah tugas di sekolah (waktu SMA) atau masih menjadi dek koas yang dalam kalendernya tidak ada yang tercetak berwarna merah (HUFT).

IMG_4367.JPG

Setelah melihat Paskibra rasanya rindu dan sekaligus ingin (banget). Tapi sekarang udah terlalu tua untuk ikut berbaris dan saya sudah bahagia dengan warna kulit seperti sekarang (yes!). Jadi tadi sempat curi-curi buat merekam saat pengibaran berlangsung untuk ditunjukkan ke adik-adik BHISSAK SMAN 4 Yogyakarta (tapi kapan).

FullSizeRender 23

Tidak banyak harapan terhadap negara ini. Indonesia kan udah lansia, udah 72 tahun. Semoga bertambahnya usia tidak kemudian menjadi seperti manusia yang lalu lemah dan tidak berdaya. Dan lanjutnya usia Indonesia semoga tidak membuat generasi muda lupa dimana ia berpijak.

Ulang Tahun ++

Lagi super duper ribet ngurusin ini dan itu, kesana dan kemari, mengejar deadline dan memastikan ngga ada yang terlewat, tiba-tiba Mas Yudha yang baru sehari di Solo “merengek” meminta perhatian.

Mas: besok pokonya mas mau ikut adek pergi kemana aja, masa lebih seneng tanpa mas gitu sih?
Mas: adek kenapa kaya ngga nyaman ngabisin waktu sama mas?
Mas: kapan kita bisa menghabiskan waktu berdua?
Mas: besok mas jemput jam 10.30

I was very upset because he’s like a 5-y-o. Bukan maksud hati ngga seneng kalau ditemenin, tapi karena banyak hal yang dilakukan memang ngga sama pasangan, dan supaya ringkes dikerjakan secara terpisah namun simultan (halah). Lagipula agendaku hari itu lumayan padat dan sangat mobile, aku takutnya Mas Yudha capek dan karena bukan agenda yang berkaitan langsung sama si Mas, dia malah jadi bete (yang harusnya bisa mengerjakan agenda dia).

Singkat cerita kami pun berkeliling Yogya untuk menuntaskan agendaku. Di tengah-tengah beberapa agenda, “Mas adek lupa deh, adek belum makan sejak pagi hehe.” I told him. “Hah? Yaudah kita makan dulu ya. Tadi waktu dari Solo mas lihat ada tempat makan yang ada mojito-nya, di deket Hartono.”

Me: Di sana tapi makanannya apa?
Me: Tempatnya dimana?
Me: Di Hartononya apa di mananya si?
Me: Tapi tempatnya kaya gimana?
Me: Kenapa kita ngga makan aja di Hartono sekalian cari kabel buat Papi?

Karena kesukaan Mas Yudha itu mojito jadi yasudah makan di sana aja, pikirku. Tapi aku harus menemukan apa yang membuatku juga pingin pergi kesana (tetep wkwk). Sesampainya di sana, di parkiran, aku melihat Titha sedang bersama dua orang temannya. “Wah! Ada Titha lagi meeting!” Aku ngga sabar buat menyapa dan memeluk Titha dan meminta Mas Yudha bergerak lebih cepat untuk segera masuk ke Lazy Park, rumah makan yang “ada mojitonya” itu.

Waktu melangkahkan kaki kesana, Titha berdiri dan aku menemukan ada Ichi dan Ulil. Sejenak aku berfikir, “kok mereka pergi bertiga tanpa aku sih?” tapi beberapa detik kemudian aku mengamati dekorasi meja penuh warna merah dan Ulil membawa kue ulang tahun, pada detik berikutnya Titha dan Ichi menyertai menyanyi lagu Selamat Ulang Tahun.

“YA AMPUUUUUN” I laughed hysterically. I’m too stupid to understand the situation, duh. Ternyata mereka bersekongkol dengan Mas Yudha untuk mengadakan kejutan ulang tahun yang dibarengi dengan bridal shower. 

Kami berempat memiliki kebiasaan menunjukkan perhatian dan kasih dengan memberi kejutan ulang tahun setiap tahunnya. Karena sudah menjadi tradisi, kejutan ulang tahun itu udah ngga bikin terkejut lagi, malahan jadi bahan guyonan karena sangat terprediksi segala gelagat dan tingkah laku menuju ke nyanyian “Happy Birthday”. Tapi tahun ini mereka bertiga sukses merangkai kejutan dengan smooth, berkat bantuan Mas Yudha. Tersukses, parah!! Dan ter-usaha karena pakai nyewa vendor segala buat dekor meja. Parah!!

Mas Yudha: Terima kasih ya Titha, Ichi, Ulil, karena bikin Titin ngga marah lagi hahaha.

Indeed, aku marah sama Mas Yudha yang kaya anak kecil merengek meminta harus berdua dengan kata-kata keramatnya, “masa sama mas aja ngga mau sih”. But it feels so natural since Mas Yudha sering merengek seperti itu hahahahahahaha (ampun, Mas).

Terima kasih banyak kesayanganku selalu, Talitha Fredlina Azalia, Nisita Daniswari, Nabila Adnani. Yang selalu ada dan mengusahakan untuk selalu ada. Yang selalu bisa dan membuat semuanya jadi bisa. The truest, the deepest. I love you all!

That day was my happiest day of all August this year, meskipun Agustus belum berakhir. “Sering-sering aja ngasih kejutan, Mas. Seharian nyenengin banget hahahaha.”

dr. Amanda Puteri

Kemarin sumpah dokter FK UGM gelombang 2 dilaksanakan di GSP. Super kaya cendol, sumpah padet banget. Setelah berhasil menemukan Izza Zukhrufia (Opek), kami mencari-cari Amanda di tengah-tengah lautan manusia.

There!

“Beb kamu ya Top 1 Nasional?!” Opek bertanya.
“Aku OSCE beb hehehe…” She replied.

Gila ya? Amanda Puteri meraih nilai tertinggi OSCE nasional, yang otomatis tertinggi OSCE di kandang sendiri, UGM. Walaupun ngga tertinggi CBT nasional, tapi dia tertinggi nilai CBT di UGM. I mean, wow!?

Ngga mengherankan sih kalau seorang Amanda bisa tembus ke tingkat nasional, dan udah ngga kaget kalau dia bakal menempati posisi tertinggi di tingkat UGM. Aku sama Opek tapi masih histeris waktu tau prestasi-prestasi Amanda Puteri. Bahkan sampai sekarang aja masih ada sisa histeris di dada. Sejak kemarin chattingan sama Opek isinya ngomongin Amanda.

Me: beb parah ya Amanda keren bgt
Opek: Bangeetttt :”) Yet she’s so humbleeeee. Tadi dia sempet bilang “itu gara2 kalian dateng nyemangatin bawa makanan, gara2 kamu pinjemin soal Pekci, gara2 doa semua orang
Me: Iyaaa! Banyak yg gatau gasi!!!!!
Opek: Pada ngiranya Manda nyebelin 😂 sombong 😂 ga ramah 😂

Super sedih waktu denger kabar-kabar ngga ngenakin tentang manusia super satu itu. Tapi ya mau gimana, you can’t stop them from judging you, no matter what you do. Jadi yaudah iyain aja. Toh manusia yang sering jadi ‘buah bibir’ ini santai dan kayanya udah kebal aja gitu sama omongan miring orang-orang. Well, selamat sekali lagi, dr. Amanda Puteri! Semoga keberhasilan bersamamu dan kesederhanaan menyertaimu aamiin. We’re so proud of you!

Btw, yang bikin menggelitik pikiranku sejak kemarin keluar dari GSP adalah lingkunganku yang berprestasi. Pertama, Sondang yang meraih TOP 1 Nasional CBT UKMPPD Batch 1, kedua, Amanda meraih TOP 1 Nasional OSCE UKMPPD Batch 2. Maksudnya… mereka sahabat-sahabatku gitu.. Berarti kan ku berada di lingkaran yang tepat kan? Berada di lingkungan berprestasi.. Tapi pertanyaannya, aku apa kabar? Hahahaha.

Ternyata lingkaran yang baik mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada manusia yang hatinya tidak benar-benar berada di lingkaran tersebut.

Anyway, sangat bangga bisa berkesempatan menjadi sahabat orang-orang berprestasi, bakal orang-orang besar di negeri ini. Semoga semangat untuk menorehkan prestasi dapat menular dan terwujud suatu hari nanti, aamiin.

Panik

Selama ini aku hanya meraba-raba apa yang ada di dunia. Menentukan cita-cita pun hanya berdasar penerawangan sekelebat, tanpa ada pertimbangan ini-itu. Bergerak pun hanya karena “kebetulan” berada di situ, dan akhirnya tergerak secara sendirinya. Tapi dalam pergerakan itu isinya hanya meraba-raba, hingga akhirnya menemukan secercah cahaya di depan sana dan mulai menerka-nerka, “inikah jalannya?”. Seusai disumpah dan mendapat gelar dokter, rasanya sulit untuk terus menerapkan cara berjalan seperti yang sudah-sudah. Bahkan sampai sekarang pun aku masih merasa bahwa hidupku di dunia ini hanya karena keberuntungan, bahkan bisa sampai di titik ini pun karena keberuntungan. Pemikiran semacam itu memunculkan ketakutan sendiri di hati, “apa kali ini aku akan seberuntung dahulu? Apa keberuntungan masih akan berada di pihakku?”

Maju, hanya tahu teknik menerka dan meraba. Mundur, terasa semuanya sia-sia.

Apa masih bisa menjalani semua dengan cara lama? Kurasa dunia tidak sebercanda itu, sekarang. Ya kan? Kerja keras pun sekarang sudah tersubstitusi dengan kerja cerdas. Ditambah lagi dengan visi ke depan dokter seluruh dunia bisa praktik di Indonesia. Apa masih bisa mengandalkan keburuntungan? Apa masih bisa meraba-raba?

Kemudian pekerjaan sebagai ibu rumah tangga mulai terasa menarik…

Diam-diam aku berdoa agar hari-hariku berjalan seperti hari ke tiga belas bulan kedelapan tahun ini. Meskipun hal kecil namun berarti besar bagiku, adalah hari yang meski tidak ada senyum tersungging secara kentara, namun tiada nyeri di dada.
Dan sepertinya aku mulai memahami apa yang aku butuhkan, adalah bukan senyum atau tawa lepas setiap saat, cukuplah hari-hari yang cerah tanpa air mata.