Tentang TV

Sedih ketika pertelevisian Indonesia hanya sibuk menyensor belahan dada dan percikan darah dan menghentikan tayangan kartun (yang mereka anggap) tidak mendidik, sedangkan masih ada stasiun televisi yang menayangkan acara yang jelas-jelas menyebarkan informasi tidak mendidik (dusta) dan bisa menjadi dosa jariyah bagi penontonnya yang menyebarkan berita tersebut.

Lebih-lebih jika acara tersebut menayangkan berita tentang kesehatan, yang mana sangat digandrungi penonton Indonesia yang sangat senang didiagnosis dan merasa pintar ketika bisa mendiagnosis tetangganya.

I mean, Indonesia.. come on.

Advertisements

Please Tell Me WHY.

Heran, kenapa banyak orang suka didiagnosis? Kenapa mempercayai omongan orang dan mereferensinya hanya untuk melegitimasi bahwa dia sakit? Kenapa suka menjadi orang sakit atau dinilai lemah oleh orang lain? Kenapa suka memiliki keterbatasan?

“aku ini punya sakit asma”

“aku ngga bisa kecapekan”

“aku ngga bisa stres sedikit, kalau ada pikiran langsung drop”

Kenapa? Does it make you powerful? Apakah menjadi sakit membuatmu bisa menggapai cita-citamu? Apakah memiliki keterbatasan jadi terlihat hebat? Apakah mengunggulkan kelemahanmu di hadapan banyak orang jadi terlihat spesial?

I don’t get it.

Disaat orang yang benar-benar sakit struggling and working their ass off to be healthy again. Disaat mereka berjuang untuk bisa melawan keterbatasan mereka. Disaat mereka berusaha untuk menutupi kelemahan mereka untuk tidak dikasihani orang lain. Kenapa ada orang yang bangga menjadi sakit?

“aku kemarin sampai didiagnosis sama dokter kalau aku gastritis akut. Saking stresnya dan kecapekan sampai akut banget gastritisku”

WHY?!

Is it only me that annoyed so much by this matter?

Kebahagiaan yang Tidak Direncanakan

Tahun 2017 ini banyak sekali hal yang terjadi tanpa direncanakan, but it turned out great for me. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang (at least) aku punya beberapa hal yang harus dicapai, tahun ini sama sekali ngga ada hal spesifik yang ingin aku wujudkan. But when I woke up this morning, I counted on my blessings… and wow.

Bisa lulus UKMPPD batch 1 dan mendapat gelar dokter (because I’d never expected to be graduated with my batch, atau bahkan bisa menyelesaikan studi s1 di kedokteran atau sampai mendapat gelar dokter).. Ikut paduan suara Sumpah Dokter 2011. Bisa melanjutkan kegiatan dengan JajanPahala Yogyakarta dan menjadi penghubung antara JP dengan penduduk Kricak Kidul. Bisa lulus ATLS yang super melelahkan mental sampai fisik (ngga nyangka sampai sekarang bisa lulus, suer!). Tergabung dalam kepanitiaan Aubade – Kongres Pancasila IX dan bisa berfoto dengan Sri Sultan HB X (finally!). Bergabung ke Bahana Pediatrica untuk KONIKA XVII Yogyakarta bulan Agustus 2017.

Wow.

Sebenarnya yang menjadi highlight dari rasa bersyukurku hari ini adalah aku tergabung dalam tim paduan suara. Bagaimana aku bisa mematahkan kalimat singkat namun pedas guru musik waktu SD (baca disini ya kalau ngga ngerti ini ngomongin apa haha).

Meskipun beberapa aktivitas yang tertuang di atas (maupun yang ngga dicantumkan) membuat common cold ngga sembuh-sembuh, tapi tetap bersyukur bahwa tanpa ada target pun, so many awesome things happened in my life and I’m so grateful about it and I can’t thank Him enough. Meskipun 2017 terkesan ngglundung buatku, tapi semoga kebahagiaan masih akan terus menghujaniku dan keluargaku hingga akhir tahun nanti (dan tahun-tahun berikutnya yang menanti).

2017 berhasil membuktikan padaku bahwa kebahagiaan itu tidak hanya ketika realita berhasil menemukan ekspektasi tepat pada level yang diingini atau mungkin melebihi, tetapi juga ketika realita menemukan jalannya sendiri, tanpa perlu mencari ekspektasi.

ternyata stamina udah bukan kaya zaman SMA.

Lelah bukan main, dihantam agenda bertubi-tubi. Mulai dari JajanPahala2017, Yogya-Jakarta pada 2 pekan berturut-turut karena ada pertunangan Inez, lalu pekan berikutnya ngundhuh mantu keluarganya Mas Guntur. Disambung dengan pelatihan Advanced Trauma Life Support (ATLS) yang menguras tenaga dan mental selama seminggu penuh. Langsung berlanjut ke kepanitiaan Kongres Pancasila IX. Dan sekarang menjadi tahanan rumah oleh Papi et causa common cold berat.

Kembali lagi, mengingat usia sudah tidak sedikit jumlahnya, tulang juga tidak lentur lagi gerakannya, dan wajah tidak seimut dan sepolos zaman SMA. Sekarang sudah ngga bisa selincah dulu, segesit dulu, se-mobile dulu. Harus ingat umur dan kapasitas diri. Kenapa bisa sampai tumbang? Karena terlalu memaksakan diri dan terlalu sombong berkeyakinan bahwa tubuh ini masih se-sehat saat masih ikut TONTI. Jeblus e balung tuwo, rek.

Sekarang harus bisa mengukur diri, mana pekerjaan yang bisa diambil dan mana yang seharusnya didelegasikan saja atau diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Sekarang bukan lagi masanya menjadi Pembantu Umum atau menjadi Panitia Serabutan. Harus jelas posisi dan tupoksi-nya untuk membatasi diri dari kelebihan beban.

Work smart, not work hard.