Meredam Kekhawatiran

FullSizeRender 14.jpg

Beberapa pekan lalu aku membantu Mas Yudha menutup jok motornya setelah mengisi bensin di Jalan Magelang. Aku ‘memukul’ joknya dengan pergelangan tangan kiri dan seketika itu juga aku merasakan nyeri. Setelah itu aku merasakan nyeri di pergelangan tangan kiri setiap melakukan manuver-manuver tertentu. Beberapa hari belakangan ini aku merasakan nyeri itu juga muncul saat aku mengistirahatkan tanganku. Sudah dari agak lama ingin membebat tangan yang nyeri ini tapi karena niat tak sebulat angan, pembebatan belum sempat terealisasi.

Baru kemarin aku menemukan perban elastis di mobil Papi. Alhamdulillah setelah membebatnya langsung terasa lebih nyaman dan dalam keadaan istirahat pun tidak lagi nyeri.

Mungkin ini sprain (wrench or twist the ligaments of an ankle, wrist, or other joint violently so as to cause pain and swelling but not dislocation) dan obatnya RICE.

R – rest -> bagian yang nyeri diistirahatkan. Tidak digunakan dulu untuk beraktivitas atau melakukan manuver ekstrim.

I – ice -> bagian yang nyeri diberi es di permukaannya selama 20 menit 3 kali sehari pada 24-72 jam pertama (yang dibalut dengan kain/handuk sebelumnya, supaya tidak kontak langsung dengan kulit). Setelah bengkak hilang, tempelkan air hangat di permukaannya.

C – compression -> akan membantu mengurangi bengkak, nyeri, dan membantu mengisitirahatkan bagian yang sakit. Jangan terlalu kencang saat membebat dengan perban elastis.

E – elevation -> untuk meminimalisir bengkak, bagian yang sakit ditinggikan sedikit ketika beristirahat, tidak perlu lama-lama.

**

Sebenarnya aku ragu kalau pergeangan tanganku sprained karena kalau dilihat dan diperhatikan tidak ada tanda peradangan. Takutnya malah patah tulang barang sedikit, atau fraktur patologis gitu #maaplebay.

Semoga setelah pembebatan ini ada perbaikan jadi tidak perlu ke dokter. Terima kasih untuk atensinya ya, maaf kalau bikin kaget menebarkan foto tangan diperban di instagram. Tetap sehat semuanya! Semoga puasanya lancar :)

Advertisements

Bacaan ini Bukan untuk Anak-anak.

Selamat pagi :)

Ingin sedikit memberi hiburan (dan semoga pelajaran) pada awal Bulan Ramadhan ini dengan bernostalgia tentang cerita saat masih SMP. Betapa ndugal dan anarkisnya Titin waktu itu.

Dari SD aku sudah dilabeli guru-guru sebagai pembuat onar, suka berantem, dan suka menghasut teman-teman untuk menuju ke jalan yang sesat. Begitu pula dengan teman-teman seangkatanku yang menganggap Titin itu tidak pernah jauh dari kata masalah. Pagi-pagi, baru baris akan masuk kelas pun sudah adu jotos dengan siswa-siswa yang suka iseng mengangkat rok para siswi dan menertawakan apa yang mereka lihat di balik rok itu. Masuk SMP, Titin yang pernah mendapat juara pencak silat semakin nggleling, tidak takut siapapun. Termasuk sama murid yang badannya lebih besar ketimbang dirinya.

Suatu pagi yang cerah di Hari Jumat, aku ingat betul hari itu karena kami menggunakan pakaian Hizbul Wathan (HW), pramuka-nya Muhammadiyah, aku masuk kelas disambut oleh cemoohan siswa-siswa yang suka memanggil sebayanya dengan nama ayah mereka, dengan maksud mengejek. “Weeee Taryo lagi teko.. Piye e Taryo ki?” Aku menatap lurus ke mata Aji, yang pada saat itu menginisiasi celotehan tidak berbobot itu dan juga bersuara paling keras dibanding siswa lainnya.

“Satu buat kamu.” Kataku.

“Weee ngopo e Taryo i? Njuk ngopo nek siji? Hahahaha.”

Aku diam, dan pelajaran pagi itu dimulai. Jam kedua atau ketiga adalah mata pelajaran musik, yang berarti kami harus berpindah ke ruang musik di gedung yang berbeda. Saat menyeberangi Jalan Wirobrajan, mereka kembali memantik emosiku, “Taryo iso nyebrang ora e.. Woooo Taryo!”

“Dua buat kamu.” kataku.

Njuk ngopooo? Hahahaha. Koe lagi latian ngetung po, Gus? Wooo anak e Taryo!”

Aku diam, dan pelajaran musik dimulai. Saat itu kalau tidak salah kami belajar menggunakan suling dan pianika. Lagi-lagi, mereka (Aji terutama), mengusik ketenangan di Jumat pagi yang cerah. “Taryo iso nyuling poooo? Wis bali wae kono nek ra iso..”

“Tiga buat kamu.” mataku terkunci padanya.

Wis telu, njuk ngopoooo? Hahahaha Taryo!”

Aku diam, dan pelajaran selesai. Kami pun harus bergegas kembali ke gedung lama untuk pelajaran selanjutnya. Karena ruang musik adalah studio, jadi kami harus melepas sepatu saat masuk. Pada saat akan kembali, aku memakai kembali sepatu dengan berjongkok di depan rak sepatu, di sebelah pintu. “Taryo i ngebak-ngebaki dalan ngerti ora! Ngalih kono, wooo Taryo.. hoy! Taryo ki ra krungu po? Ngalih heh!” kata Aji tepat di belakangku. Aku yang saat itu berjongkok hanya melihat kaki Aji berdiri beberapa sentimeter di belakangku. Hari itu adalah hari “keberuntungan” Aji, karena seragam HW untuk siswi didesain menggunakan celana.

Saat Aji masih menyuarakan cemoohannya pada ayahku, aku berdiri, memutar badanku, bertumpu pada kaki kiriku dan mengeluarkan tendangan sabit yang aku arahkan ke kepalanya.

Seketika darah deras mengalir dari kepala Aji yang tertunduk. Suasana menjadi tegang karena teman-teman yang menyaksikan terlalu terkejut untuk berteriak atau berekspresi. Belum sempat Aji berlari ke kamar mandi, Pak Hari guru BK datang dan langsung membentakku tanpa tahu duduk perkaranya, “Kamu itu perempuan!”

**

Cerita di atas diakhiri dengan Aji yang menyalahkan aku dengan tawa getir, “Gus, saiki untuku ompong mergo koe lho!”, “halah, mengko kan tukul meneh.” jawabku singkat. Malangnya, itu adalah gigi permanen. Untungnya, yang lepas bukan gigi incisivus/gigi seri. Yaaaa minimal ompongnya tidak kentara lah. ;)

**

Titin kecil tidak peduli apakah dia perempuan atau bukan, yang dia tau dia harus membela kaum lemah yang tak bersalah. Titin kecil tidak mau orang-orang yang disayanginya dihina, “Kalau kamu punya masalah sama aku, datangi aku, ejek aku. Tapi kalau kamu ngga suka sama aku tapi malah membawa keluargaku, ini yang akan terjadi. Semoga ini jadi pelajaran untuk kita semua.” Kataku setelah kejadian sempalnya gigi Aji. Setelah itu tidak ada lagi yang mengejek nama ayah di kelasku, dan tidak ada yang mau berteman denganku *hiks*

Ngga ding.. Pelajarannya adalah jangan mau diperlakukan lebih rendah dari orang lain, terlebih kalau orang tersebut tidak tahu apa yang dia lakukan/katakan. Tapi, jangan menggunakan tindakan anarkis sampai merugikan kesehatan orang juga. Saat ini Titin sudah kenal dengan diplomasi-komunikasi, meskipun masih tetap menyimpan sisa-sisa ilmu bela diri, siapa tahu masih ada gigi-gigi lain yang pantas untuk di-sempal-kan. :p

*disclaimer: bukan bermaksud sombong atau sejenisnya, semoga tulisan ini mampu menghibur.

Bersama dengan tulisan ini, aku juga ingin memohon maaf lahir dan batin kepada seluruh teman, sahabat, dan sedulur yang pernah merasa aku rugikan atau tersakiti oleh polah dan tutur kataku. Selamat menjalankan ibada di Bulan Ramadhan tahun ini. Bismillaah, semoga semua diberi kesehatan dan kekuatan aamiin.

Null.

Anak kecil pasti senang sama hal-hal yang bisa dibilang sederhana. Nonton kapal-kapalan Sekaten yang muter-muter di ember saja sudah sumringah dan nangis minta dibelikan, apalagi nonton kapal beneran. Tapi herannya Titin kecil kok tidak ingin membeli setelah melihat kapal-kapalan itu hanya berputar-putar dan tidak bisa melakukan manuver lainnya. Ingin beli boneka atau sejenisnya pun seingatku tidak. (Ya.. boneka Barbie dulu pernah ingin koleksi semuanya, tapi setelah punya satu atau dua, lalu berfikir, “njuk ngopo?”)

Pernah ikut mengantri untuk naik bianglala di Sekaten. Panjang dan lama, melangkah pun sejengkal-sejengkal. Setelah bisa naik, dapat dua putaran di atas, Titin kecil bertanya, “udah? Gini doang?”. Mungkin prosesnya yang butuh pengorbanan dan lama itu yang asyik.

Melihat barang bagus lalu ingin memiliki. Tapi setelah dapat, euforianya tidak bertahan lama, lebih lamaan nabungnya. Rasanya ada yang tidak berbanding lurus, bagi seorang Titin saat masih kecil.

**

Sekarang apa yang dikejar di dunia?

Berjuang iya, tapi tidak perlu ngoyo. Hidup mau apa cari apa? Gontok-gontokan, cari musuh, ngotot kesana-kemari cuma untuk memenangkan ego pribadi. Besok mati juga hanya nama yang ditinggali. Toh, semua orang pasti punya standar ganda dalam menghadapi permasalahan hidup. Hari ini bilang A, esok hari bilang B. Bukan mencla-mencle, mungkin, sekadar menyesuaikan dengan situasi yang ada. They just want to survive, anyways. Dan pada akhirnya semua orang hanya akan mengurusi dirinya sendiri.

Hidup itu mau bagaimana?

Setiap orang mengaku menggenggam kebenaran, dan tidak ada manusia di dunia yang mau disalahkan. Jadi, untuk apa diperdebatkan?

“The truth was a mirror in the hands of God. It fell, and broke into pieces. Everybody took a piece of it, and they looked at it and thought they had the truth.”

― Jalaluddin Rumi

Tidak ada apa-apa di dunia, tidak ada lagi rasanya. Sudah tidak ada lagi rasa kecewa atau keharusan untuk menang. Berjalan saja semestinya tapi tetap mantap. Mungkin tulisan ini terbaca sangat loyo. Justru sebaliknya, aku lebih mantap dalam melangkah sekarang, karena tidak lagi mengejar ‘ketiadaan’. Wallahu a’lam.

Apatisme-ku

Pekan lalu aku diberi pertanyaan singkat yang sarat akan makna. “Gimana kok anak muda zaman sekarang terkesan tidak peduli terhadap isu terkini, Mbak?”, Prof. dr. Yati Soenarto, Sp.A(K)., Ph.D. yang dulu, sebelum aku menjadi murid beliau, akrab aku panggil “eyang”, bertanya sambil tersenyum kepadaku.

“Menurut saya, hal tersebut dikarenakan kami (generasi muda) merasa tidak diberi cukup kepercayaan untuk bisa bersuara, untuk berpendapat di forum besar/resmi yang berisi generasi senior. Kami seperti ‘anak kemarin sore’ yang kurang berpengalaman. Pun bisa bersuara juga tidak memberi perubahan apa-apa pada Indonesia.”

Ku sambut pertanyaan itu dengan kalimat yang tidak aku pikirkan dulu susunannya. “Opo iyo to, Dik Taryo?”, tanya beliau ke ayahku. “Betul, Mbak. Anak-anak kita seperti kurang percaya diri dan memang keberaniannya untuk tampil, untuk ikut kontribusi pada negeri itu kecil. Dan mereka jadi seperti tidak peka terhadap isu-isu di lingkungan mereka. Nah itu yang seharusnya jadi sorotan, kita-kita yang sudah tua seharusnya wis ra ngurusi.”
_________________________

Sepulang dari pertemuan singkat dengan Prof. Yati, aku menilik kembali kata-kata yang keluar secara spontan dari mulut tak tahu aturan ini. Bisa-bisanya mengatasnamakan “kami” – generasi muda, padahal itu adalah jeritan batin pribadi. Aku yang merasa kurang percaya diri bersanding dengan pembesar-pembesar organisasi, dengan mereka yang telah banyak berkontribusi. Aku yang merasa tidak didengarkan — atau didengar pun tiada guna karena tiada bobotnya. Aku merasa generasi senior mendengarku sambilalu dan bahwa ini belum zamanku.

Aku yang tidak percaya diri tapi berani mengemas ke-aku-an ku dengan ‘generasi muda’.

Semoga yang aku sampaikan pekan lalu ada benarnya barang sedikit.. Bahwa kalian pun merasakan nyali yang sama denganku, berada di sudut pandang yang sama denganku. Aku pun menangisi keapatisanku terhadap negeriku. Lulus dan mendapat gelar dokter ternyata malah membuatku semakin jauh dari peduli. Aku dulu menggelorakan semangat Pancasila tapi sekarang bahkan tidak ikut bersuara. Bukan semata-mata sudah tidak peduli, kalau aku boleh membela diri, tapi karena aku peduli pun seperti tiada arti. Kepedulianku berakhir pada keapatisan karena terlalu lama diabaikan.

Apa ada yang lebih buruk dari “punya suara tapi ngga didengar”?

Menengahi apatisme diri dan keresahan generasi senior berjuang sendiri, tidakkah lebih baik kalau “Yang muda jangan ragu-ragu, yang tua jangan lagi menunggu“?

Maksudnya, generasi muda tidak perlu ragu untuk bersuara dan mengadakan aksi nyata. Terpenting sekarang nurani dan kepedulian. Speak and act now.. Sedang generasi senior jangan lagi hanya menunggu sambil menggerutu, “Gimana sih anak-anakku kok hanya bertopang dagu melihat sekitaran?”. Rangkul kami, dengarkan kami dan bimbing kami.

Bahu membahu generasi senior dan generasi muda mewujudkan sesuatu yang bermakna. Generasi muda punya suara dan tenaga, sedang generasi senior memiliki kearifan dan kebijaksanaan serta kepekaan untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Bukankah itu kombinasi yang pas untuk “mengguncang dunia”? Tawaran solusi yang aku tuliskan pun tidak akan mudah implementasinya karena yang muda merasa benar dan yang senior sudah terlanjur kagol.

Yah, siapa kamu, Tin. Solusi hanya berhenti pada barisan kata diakhiri tanda titik dan hanya dipublikasi di laman pribadi. Pun menulis ini juga tidak melakukan apa-apa. *sigh*

**

Tapi aku percaya bahwa segala keapatisan generasi muda yang dirasani generasi senior sekarang ini hanya sebagian kecil di permukaan. Dan aku terus berdoa bahwa Generasi Muda lainnya masih banyak yang berteriak-teriak memperjuangkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yang masih menginginkan kesatuan dan persatuan Indonesia. Generasi yang melangkah tanpa payung, yang berlari tanpa alas kaki, yang hatinya masih terpatri di Bumi Pertiwi.

Tulisan ini hanya wujud dari hatiku yang terpantik namun masih tak berkutik. Semoga tulisan ini dapat membuatku menginisiasi pergerakan diri dan dapat pula memantik hati pembacanya untuk melakukan hal yang sama (atau bahkan lebih). Amin.

Mulai Pikun.

Sementara aku merangkai kalimat untuk tulisan ini, kaki kiriku terus memberi signal untuk segera dibawa ke ahli pijat et causa kelelahan. Kenapa hanya kaki kiri? Mempertahankan pedal kopling di posisi siap jalan selama hampir 2 jam adalah jawabannya. Yogyakarta macetnya luar biasa. Beruntung aku sempat mengambil satu-satunya coklat yang aman ku konsumsi dan bisa menenangkan hati.

IMG_1909.JPG

Sejujurnya setelah memasukkan gambar (di atas) aku jadi lupa. Tadi sepertinya mau nulis sesuatu yang penting, tapi sekarang selupa itu. Jadi… mohon maaf mungkin hanya ini yang bisa tertuang di blog ini. Hahahahaaha

Duh, mau nulis apa sih jadi sebel :( #efeknganggurkelamaan

Satu Detik Waktu Itu…

H-1 sebelum pengambilan sumpah dokter, kami dikumpulkan oleh pihak akademik untuk mengikuti FGD tentang kehidupan selama koas hingga UKMPPD. Saat registrasi, dibagikan hasil (nilai) UKMPPD sepaket dengan rinciannya.

Sambil antri, aku curi-curi pandang ke beberapa hasil ujian yang ditumpuk off guardedSkimming saja dan sudah tau nilai beberapa teman sejawat, “wow, pada pinter-pinter ya”, gumamku sambil melangkah maju. “Ini hasil asli ya, jangan hilang”, kata Mbak Dora sambil menyerahkan dua lembar keramat itu dengan posisi terbuka. Ku lihat nilaiku dengan buru-buru karena takut malu, “What?!”, mataku terbelalak ketika melihat hasilnya.

Batas minimal kelulusan UKMPPD CBT adalah 66, nilai tertingginya diraih Sondang 92,5 sebagai Top10 Nasional. Ketika aku lihat hasilku 66,61. God, are you serious? 

Setelah acara sumpah dokter (sehari setelah pembagian hasil), aku mengurung diri di rumah. Terpuruk dan tidak tau harus berbangga atau mencemooh diri sendiri.

Kesannya Allaah cuma kasihan sama Titin yang struggling that much untuk bisa membahagiakan orang tuanya. Kesannya Allaah memberi jawaban atas segala kebimbanganku selama menjalani hari-hari di kedokteran, “I don’t belong here.” Dan bahwa perjuanganku yang pagi hingga malam hanya untuk menatap layar gadget dan berusaha memasukkan beratus-ratus slides materi ke otak, masih belum seberapa. Dan ternyata jatah keberuntunganku besar juga ya. Mungkin kalau sudah nggak eling aku sudah beli tali tambang sepulang dari FGD.

Tapi, di satu sisi aku bersyukur bahwa Allaah masih mengampuni segala dosaku yang selalu menggerutu akan keberuntunganku, akan nikmat dan kasih sayang-Nya untukku. Allaah masih sudi membiarkan aku, dengan usahaku yang tidak sekeras teman-teman lainnya, tetap bisa merayakan bahagianya dipanggil “Bu Dokter”. Dan aku mulai mencari hikmahnya, bahwa Allaah punya rencana besar untukku, yang membawaku pada pemikiran untuk terus melanjutkan langkahku dan membuktikan bahwa di ujung sana, Allaah sudah menyiapkan hal besar untukku, hal yang baik dan akan membawa kebaikan untuk sesama. Dan aku bersyukur karena memiliki Papi dan Mami yang karena keprihatinan dan doa beliau berdua aku bisa tetap ikut batch 1 angkatan 2011.

Beberapa hari setelah aku mempublikasi tulisan iniini, dan ini, aku harus membuka lagi lembar hasil UKMPPD untuk keperluan internship. Aku beranikan diriku untuk mengintip lagi nilai ujianku. “Innallaaha…! Hahahahahahahaha”, aku tertawa terbahak-bahak melihat nilaiku yang ternyata di atas 80 dan yang aku lihat saat FGD itu adalah nilai rata-rata nasional! Dan setelah dipikir-pikir, nilai 66,61 itu hasil yang aneh menurut cara penghitungan nilai UKMPPD hahaha. Stupidity level: maximum. 

Satu detik momen itu mengembalikan semangat hidupku. Satu detik waktu itu membesarkan kembali hatiku. Satu detik itu juga aku sadar bahwa aku telah membuang lebih dari seminggu umurku hanya untuk merenungi nasib. Lebih dari satu minggu, yang seharusnya bisa aku manfaatkan untuk membuat momen baru malah habis di atas kasur dan terus menceramahi diri sendiri.

Terlalu tergesa-gesa menyimpulkan dan seakan mendapat legitimasi dari segala keraguan yang pernah ada. Sudah suudzon sama kemampuan diri sendiri dan terus berkecil hati, membuat diri jadi meyakini apa yang dilihat atau didengar meskipun hanya sekali dan belum terbukti. Semoga kekonyolan yang baru saja aku ceritakan bisa dipetik pelajarannya dan tidak untuk diulang.

Tolong di-underline, bold, italic dan distabilo:

Jangan terlalu cepat berkesimpulan!

Satu hal yang pasti, semua ini karena doa Papi dan Mami. :)