Thank You, Mas

*dianter Mas Yudha ke perpus pusat buat nongkrong bareng Chandra, terus si Mas balik ke kosan buat sleeping handsome. Habis dari perpus lanjut ke Togamas sama Chandra. Sampai di sana, cek ponsel ada chat dari Mas*

Mas: kalau sampai Togamas kabarin ya dek, biar mas susul
Me: *bingung* mau nyusul beneran? Ini dah selesai kok antri bayar. Adek habis ini mau ke Els juga, 35 menit lagi di kos Chan gimana?
Mas: 35 menit tu lama ga sih.. yaudah deh..
______

*agak lama ngga bales chat pada suatu malam*

Mas: adek udah tidur yah?
*ga ada balesan dari aku*
Mas: yah udah tidur yah..
*called me*
Me: Halo?
Mas: Udah tidur ya dek?
Me: hampir sih, Mas.. kenapa e telpon?
Mas: Kangen aja sih..
Me: *smiled*
______

I don’t know what’s got into him, but he’s so cute. Bahkan kalau janjian mau pergi bareng, selalu aku yang mengulur waktu atau yang minta dijemput agak nanti, soalnya mager huf. On the other hand, I’m so happy to know that someone’s really excited meeting me, that doesn’t want to miss a second to see me. I’m feeling loved, and appreciated. Don’t get me wrong, I’m excited meeting him too, I can’t wait! But I’m just too lazy to take a bath and to dress up nicely huhuhu maafkan aku, Mas :(

The thing is, in a relationship, it is important to make our spouse feel the love that you give, to know that they’re so important to you, and you’re happy seeing them or just hearing their sleepy voice. Those small steps, cute attitude could really mean something to your spouse, even when you’re not doing it on purpose/you don’t realize it.

And, again, giving your spouse the warmth and the comfort being around you will never hurt. ;)

Advertisements

Let Them Feel You

Sometimes, people just don’t know how to word their intentions. They tend to hide what they really feel, what they really want, what they hope.

They miss you, but turns out they say something hurtful like, “sombong e kamu.”
They love you and want to spend more time with you, but turns out they say something stupid like, “go with her, seems you like her more.”

If you miss her, tell her that you really do. If you love him, tell him how much you want him to understand you. Don’t hide your feelings behind your rude attitude or sarcastic words. Let them see how much they mean to you. Let them feel how much you appreciate their presence. Let them know and understand what you feel. Let them feel the warmth inside your soul and let them consume your positivity.

Besides, being sweet* and nice* to other people* will never hurt. Even diabetic patients could still survive with the high dose of your sweetness everyday.

*in certain circumstances, of course.

Marah karena Sayang

He is my father, my leader, my teacher, my role model, my motivator, mine. He taught me literally everything. He is the simplest man I’ve ever known, and has the purest heart. He works everyday for the sake of other people, even for this city or even bigger, this nation.

FullSizeRender 10.jpg
Dies Natalis UGM, 2016

I always remember his words when I upset him back then, he sat me down and talked after I argued him, “…ndak ada orang tua marah kok mau nyilakakke anaknya, dek. Kami ini marah hanya karena sayang, karena kami tau itu tidak betul, kami ingin meluruskan agar kamu ndak cilaka nantinya. Kan susah to papi sama mami kalau anak kesayangannya sedih. Tugas kami sebagai orang tua ya cuma mengingatkan, menjaga, momong kamu…

Even when he is angry, he’s still calm down and press his ego and talk to me nicely, and letting me know how much he loves me. And after that day I know that no matter how angry we are, as long as there’s love, we won’t hurt that particular person intentionally. The anger that comes up is only because we love them and don’t want anything bad happen to them.

Semarah-marahnya orang tua, masih akan tetap “memayungi” anaknya ketika hujan, “menyuapi” ketika anaknya sakit, “mengobati/mencari pertolongan” ketika anaknya kesakitan/butuh bantuan. Mereka ngga akan melupakan anaknya, meskipun batin mereka terluka karena perilaku anaknya. Mereka ngga akan berhenti menyayangi hanya karena sakitnya hati mendengar ucapan anaknya. Sayangi orang tua kita, berbakti setulus hati selagi bisa. Anak 10 belum tentu mau ngurusin orang tuanya, sedangkan orang tuanya ngurusin 10 anaknya dengan suka rela.

Sebenarnya “marah karena sayang” ini ngga cuma hubungan antara orang tua dan anak aja, tapi semua hubungan sosial, entah sahabat, pacar, tunangan, suami-istri, adik-kakak, dsb (ngga untuk mantan tapi ya)..

Sampaikan maksud kita dengan baik, biarkan lawan bicara kita mengerti bahwa kita bermaksud baik, dan untuk kebaikan yang bersangkutan pula. Yuk redam amarah kita, emosi kita, sifat egois kita terhadap orang yang kita sayang. Jangan sampai amarah kita menimbulkan luka yang ngga seharusnya ada, dan jangan sampai karena keegoisan kita, jadi ngga kelihatan “kasih sayang” kita terhadap seseorang.

i adore him so much yet i don’t think i’m enough

dsc_0199

Terima kasih karena selalu ada, dan selalu mengusahakan untuk selalu ada. Terima kasih karena sudi untuk selalu ada dan mengusahakan segalanya. Terima kasih sudah sampai sejauh ini dan masih ingin terus melangkah bersama. You’ve proven much for me, you’ve done so many things for me, yet I am the one who can’t see it.

Terima kasih karena terus mengingatkan betapa tidak berdayanya kita, betapa tidak sempurnanya manusia, betapa kecil dan miskinnya agustina, betapa indahnya dunia dengan segala kesederhanaannya. Terima kasih karena mengamalkan ilmu ‘memanusiakan manusia’ yang selama ini aku dengungkan. When I’m busy judging some bad things, you’re busy doing something good instead.

I know you’ve lost so many things just for me, to keep this relationship going. And I know that I’m not enough to give you something in return, to give you all that you need, to change everything you’ve lost on the way, to make you feel like home whenever I’m around. I know I’m not enough. And I’m sorry for that. I am sure that I’m trying as hard as I could to learn, to understand you, and us.

Semoga kesabaran kita tiada batasnya. Kita sepakat untuk terus bersama karena cinta, dan hanya cintalah yang bisa memisahkan kita, bukan amarah atau dusta. Terima kasih untuk segalanya, Mas.

Finale, 16 Des 16

Selesai koas! Akhirnya sampai di fase ini. Tanggal 16 Maret 2015 cuma bisa membayangkan lamanya dan mengukur jauhnya perjalanan yang harus ditempuh oleh dek koas, sekarang tanggal 16 Desember 2016 udah bisa bilang, “gini to rasanya…”

Sebenernya selesai koas ini bahagianya disponsori oleh stase Anestesi, stase pamungkas dari perjalanan kurang tidur ini. Kenapa? Entah, rasanya super lega aja akhirnya bisa lepas dari anestesi, se-lega-itu.

FullSizeRender 9.jpg

Deskripsi ekspresi dari kanan:
Bayu: hmm, baper sih setiap pagi udah ngga ada yg ngrusuhi makan bubur ayam lagi.. tapi yowislah..
Toro: ngelih lek.
Kak Dipus: jangan seneng dulu, masih ada the real ujian.
Nisa: ALHAMDULILLAAH WA SYUKURILLAAH AKHIRNYA SELESAI KOASNYA YA ALLAAH
Linda: yes! Selesai!
skip me.
Bila: acik ceneng banget ga ci uda celecai ujiannya uuuu.
Githa: yes! Pulaaaaangg!
Sondang: seneng bgt selesai koasnya! Tp masih hrs belajar buat ukmppd..
Reinhart: UKMPPD, Try me!
Fahmi: sial, masih harus forensik..
_______

Terima kasih banyak, mohon maaf lahir dan batin, keluargaku. 15106💖

Penyeimbang dan Penyabar

IMG_7451.JPG

Setelah lulus kuliah, rasanya semakin kesini malah semakin “mlorot”, baik kreativitas, lingkaran pertemanan, cara pandang dan problem solving, pengetahuan umum dan sosial, olah rasa dan kontrol emosi, manajemen waktu, dan merasa semakin “mundur” dalam segala bidang yang dulu aku tekuni, bukan malah maju. Tapi itu semua ternyata karena aku membandingkan, baik dengan diriku yang dulu, ataupun dengan orang lain. Dan itu ngga baik, ngga betul. Karena itu hanya akan membuatku semakin terpuruk dan merasa ngga berharga, ngga berguna. Ini semua adalah proses, dan butuh kesabaran extra untuk kembali ke posisi yang dulu dan untuk jadi lebih dari itu. Dan ngga bisa kalau memaksakan diri untuk bisa mencapai yang diingini, karena banyak faktor: ada ekonomi, budaya, keluarga, lingkungan, dan mungkin juga pasangan, yang merupakan tantangan tersendiri. Untuk itu kadang memang harus mengalah. Mengalah pada keadaan, pada keputusan, pada badan yang kelelahan, pada lingkungan, dsb.

“Mengalah bukan berarti kalah, tapi menyeimbangkan. Mengembalikan ke fungsi normal, atau mendekati, meski pelan tapi pasti. Menyeimbangkan apa yang timpang untuk bisa berfungsi kembali.” (121216)

Seharusnya semakin bertambah kuantitas usia, semakin baik pula kualitasnya. Semoga bisa lebih baik terus dan untuk seterusnya, bisa jadi penyeimbang, dan bisa sabar. Dan sebelum berjuang harus berprasangka yang baik bahwa perjuangan akan membuahkan hasil yang baik, harus berfikir positif dan menebarkan aura positif. Bismillaah.. semangat juga untuk semua yang sedang berjuang! 😊

fullsizerender-8