Ngga Mau Ngaku

Tahun pertama kuliah di Fakultas Kedokteran, merasa penuh tekanan dan merasa salah masuk jurusan. Badan ada di ruangan, tapi hati dan pikiran melayang ke kahyangan. Dan selalu merasa tidak pantas untuk disebut “Putri Pak Profesor”, then I lied all the time.

Suatu hari yang bolong, ada bimbingan sama dosen pembimbing akademik (DPA). Setiap anak diabsen dan ditanya tentang latar belakang keluarga. Mahasiswa yang menjawab anak dokter selalu ditanya hingga detail nama, dokter apa, lulusan mana, angkatan berapa, staf dimana, praktek dimana, sama siapa, semalam ngapain aja (what). Mbak Qia menjawab kalau ayahnya dokter bedah. Sondang menjawab kalau ibunya dokter di Singkawang. Hingga tiba giliranku, “Bapak atau Ibunya dokter, mbak?” Ku jawab enteng, “Bukan, dok.” *passed, langsung lanjut ke mahasiswa lainnya* *langsung dipelototin Sondang sama Mbak Qia* *bodo amat*
_______________

Berhasil lulus S1 dan melanjutkan pendidikan profesi (ngga nyangka ngga sih? Oemji). Waktu stase interna di Klaten, tahun 2015. Sama dr. Hatman diminta nulis biodata di hari-hari terakhir, dan dibaca satu-persatu sambil ditanya detail (persis kaya DPA S1-ku. WHY).

Nisa: Tin, kamu bakal ngaku ngga kamu anaknya siapa? (Nisa ini anaknya konsulen anak di Sardjito, jadi memiliki nasib yang sama sepertiku huhuhu, tos Nis!)
Me: Ngga, kamu?
Nisa: Nah, aku bingung. Kalau ngga ngaku berarti aku bohong dong? Nanti ketahuan gimana?
Me: Ngeles aja lah.

Tiba giliran Nisa ditanya dr. Hatman (DRH), “Ayah kamu PNS apa?”
Nisa: Dosen, dok. (she told the truth, karena ayahnya memang dosen)
DRH: Dosen dimana?
Nisa: UMY, dok. (she told the truth, karena ayahnya memang dosen juga di UMY)
DRH: Mengajar apa?
Nisa: Manajemen, dok. (LIED! Haha! Nisa bilangnya, “Dalam hati aku bilang, manajemen pasien, jadi ngga bohong-bohong amat lah ya hahaha”)

Tiba giliranku.
DRH: Ayah kamu PNS apa ini?
Me: Dosen, dok. (I told the truth, karena papi dosen juga)
DRH: Dimana?
Me: Filsafat, dok. (LIED! Haha! And everyone was like “wth?!”)
DRH: Filsafat? Ngajar apa?
Me: Ilmu Pancasila, dok. (Half lied. Karena papi memang mengajar ilmu pancasila, tapi bukan dosen di sana)
DRH: *ngga percaya* Filsafat? Gelarnya apa?
Me: *what?!* *mendapat bisikan dari Fahmi* “S. Fil, dok”
DRH: *tetep ngga percaya* S.Fil? *blank* *lanjut ke Fahmi* *HAHAHA*

Setelah selesai sesi biodata itu Nisa menegurku, “Eh bukannya kalau gelar zaman dulu itu Drs. ya?” Duerrr. Ketahuan bohongnya hahaha. Tapi hari berlalu tanpa dr.Hatman tau identitas asliku. Bahkan di tumpukan biodata itu masih tertulis identitasku sebagai anak dosen filsafat hahaha! Setahun berlalu, beliau masih juga ngga tau (yaudahlahya ngga penting juga untuk kehidupan beliau).
_____________

Stase Jiwa. Oleh dr.M diminta membuat biodata juga dan ditanyai juga tentang detailnya…..

Besok lagi aja ya ceritanya hahahaha #ngeselin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s