Deep Conversation

*setiap kali aku tanya ke Mas*
Me: Mas sayang ngga sama adek?
Mas: Sayang banget.
Me: *being sceptical* Tapi?
Mas: Ngga ada tapi..
Me: Tapi?
Mas: *silent for a while* Tapi banget.
________

*lagi jajan di Calzone*
Mas: Dek, ada Awkarin.. *mata Mas mendarat ke arah perempuan di belakangku*
Me: *waited for the girl to pass me by* *saw the girl* Ngawur!
Mas: *chuckled* Tau ngga dek, habis dia (Awkarin) dilaporin itu dia kan liburan ke Bali, terus dia upload hal yang serupa coba hahaha orang tuanya ki piye jal…
Me: *didn’t know anything about what happened on the instagram because I deactivated my account, duh* Mas, adek punya beberapa pikiran.. (btw, bismillaah semoga aku bisa merangkaikan kalimat di blog ini dengan baik sehingga mudah dipahami dan tidak terjadi salah interpretasi, mohon maaf ya kalau ada yang kurang berkenan dengan ocehan tanpa arti ini uhuhuhu, mungkin baca yang udah aku bold aja ya sebagai kesimpulannya):
“Sebenarnya, we can’t blame anyone on this matter–the social media effect. Ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya uploading (for some people) inappropriate posts dan laporan atas postingan tersebut. Kalau menurut adek, ini pengaruh dari orang tuanya juga, since pendidikan paling dasar adalah di keluarga.

  1. Orang tua zaman dulu (eyang kita) did a great job dalam mendidik orang tua kita, sampai di era keemasan beliau semua/orang tua kita (sekarang kan lagi zamannya orang tua kita menjabat: jadi menteri, dekan, rektor, direktur, dan lain sebagainya). Dan dari keberhasilan beliau semua (yang bisa kita lihat dan rasakan sekarang) itu (mungkin) merupakan wujud dari keberhasilan eyang-eyang kita dalam mendidik orang tua kita, dengan cara “zaman dulu yang keras dan sangat otoriter”, dengan hirarki yang jelas, yang (mungkin some of our parents mengalami) pendidikan semi militer di keluarganya. Kalau boleh menyimpulkan, berarti pendidikan yang “keras” itu (sudah) membuahkan hasil yang baik.
  2.  Orang tua kita (mungkin) merasakan bahwa pendidikan yang mereka terima dulu adalah pendidikan yang tidak seharusnya mereka terima, dalam artian, there must be some other ways to discipline their children and their children deserve better and what they felt about being told of what to do and couldn’t speak their hearts out were so frustrating. Apa yang mereka rasakan dari pendidikan yang keras itu (mungkin) memunculkan ide tentang cara parenting yang berbeda, mereka lebih memposisikan diri sebagai “sahabat” daripada “orang tua” dan memberi keleluasaan dan kelonggaran kepada kita (anak-anak mereka). I didn’t say that it’s wrong and I wasn’t suggesting them to change their parenting ways, because we haven’t see the result yet, it’s still too far from conclusion. But we can see it from the phenomenon these days, dimana banyak kenakalan remaja yang viral di media, murid susah diatur, menentang gurunya, ugal-ugalan, dan terkesan “bebas”, dan kalau boleh saya mengkategorikan, postingan di instagram yang inappropriate itu termasuk dalam kenakalan remaja. I am sorry, I’m so old fashioned and conservative but I’m trying to see this case from other perspective yaitu pihak yang melaporkan postingan inappropriate (and actually, I am old fashioned). Kalau boleh menyimpulkan, berarti orang tua zaman sekarang lebih memilih untuk melunakkan cara mendidik anak-anak mereka. ‘Bebasnya’ peraturan di lingkup keluarga memberikan hasil sementara: viralnya fenomena kenakalan remaja.
  3. Selain dari pengaruh orang tua, adek rasa yang dari tadi adek sebut dengan “fenomena” itu terjadi karena budaya kita berbeda dengan budaya yang masuk ke Indonesia. And it shows us that Indonesia is not ready for globalisation, if I could say. Kita masih belum memiliki jati diri Indonesia, kepribadian Indonesia, dan karakter Indonesia. Remaja kita masih terombang-ambing dan semakin hanyut dalam ombak globalisasi, and frankly they have no idea about it, and sadly they are proud of it. Belum sempat memilih untuk menjadi siapa/seperti apa, sudah diracuni dengan budaya orang lain. Belum bisa mencintai budaya sendiri, sudah berani mencintai budaya orang lain. Ibaratnya, kita membuka pintu selebar-lebarnya tapi yang berada di dalam rumah masih berantakan, masih belum siap untuk kedatangan tamu. Dan karena perbedaan kebudayaan itulah yang membuat kita jadi semakin terombang-ambing, “ini memang eranya yang begini, atau aku yang old fashioned?” karena fenomena yang terjadi sekarang di Indonesia adalah mungkin hal yang lazim di luar negeri, tapi tidak untuk kita. Itu yang membuat ada ketidakcocokan antara (dalam kasus ini) pelapor dan yang dilaporkan.”

Mas: Tapi adek aware kan kalau zaman dulu itu ngga bisa dibandingkan dengan zaman sekarang? Eranya kan udah beda.
Me: Yes, that’s why I said all of the things earlier. Dan orang yang bilang, “anak zaman dulu itu beda dengan zaman sekarang” itu membandingkan kondisi sekarang dengan saat mereka masih anak-anak di zamannya. Banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan itu, yaitu beberapa hal yang adek sebut tadi, itu pikiran adek aja sih Mas.
Mas: Hmm.. yasih.. *and the discussion continued*
________

*masih di Calzone, udah ganti topik*
Me: …karena Mas itu seniman, jadinya seenaknya sendiri, semaunya sendiri hahaha
Mas: *talking philosophically about an artist*
Me: Adek setuju banget sih sama yang Mas bilang tadi, bahwa seniman itu seharusnya berada di tempat yang penuh dengan acceptance dan appreciation, dan itu bisa terjadi di tempat yang udah tertata, tempat yang udah ngga mikirin hal lainnya, and it’s obviously not in Indonesia *smirk*
Mas: Ya memang belum kalau di Indonesia… *continued talking philosophically about it*
Me: Oh my God! This is the first time we’re agreeing on each others’ statements ngga sih Mas? Ya ampun seneng ngga sih sama obrolan kita malem ini *grin*
Mas: *nyamnyum* (senyam-senyum)
_______

Btw, maaf ya postnya jadi panjang dan bikin males baca, ngga bisa banget nulis yang singkat-singkat. I’ll try my best for the next posts! ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s