It’s Their Destiny

Dari dulu, turun temurun ada istilah “koas pemanggil” meaning koas yang kalau jaga selalu ramai pasien (bisa pasien yang tadinya stabil mendadak jadi demam semua, bisa yang tadinya IGD sepi jadi ramai, bisa yang tadinya ngga ada kasus otopsi forensik jadi banyak kasus, dsb). Dan “koas penolak” untuk keadaan sebaliknya. Percaya ngga percaya aja sih itu.

Sekarang di stase forensik, baru week 1 udah 7 kasus dengan 3 diantaranya PL-PD. Sampai bikin residennya bilang, “Grup kalian kenapa e? Kok panen”. Sampai kakak minggu kami di forensik, “Kalian udahan dong ‘manggilnya'” karena saking banyaknya. Bahkan Mas Yudha aja sampai, “kok forensik kalian ngga santai sih?!” karena setiap chat si Mas, akunya cuma ngabarin “otopsi”, “nulis visum et repertum”, “revisi visum”, “otopsi lagi” dan begitu seterusnya. Sampai salah satu dokter kami, dalam kuliahnya pada Hari Kesaktian Pancasila, meminta kami untuk meluruskan niat dan memperbanyak istighfar,

“…biasanya kalau kasusnya banyak itu karena koasnya yang lagi stase forensik banyak bermasalah (bikin masalah)…”

Kemudian semua mata tertuju padaku -__-

Tertohok itu pasti, since dari kecil aku memang sering bikin masalah (uhuk, lirik temen-temen TK eh sama SD juga, eh SMP juga ding, uhuk SMA juga ding dikit, uhuk, sama waktu koas juga ding uhuhuhuhuk). Ya, memang dari lahir udah bikin masalah, menciderai uterus ibuku. *mulai drama*

Sejujurnya, perkataan seperti itu yang kemudian dilegitimasi oleh sejawatku (meskipun hanya mata mereka yang berbicara), sudah cukup menciderai hatiku (halah). Because I (then) felt responsible for those one week cases, I kept thinking that those victims–those 6 dead people–were dead because of me, of my presence in this forensic department, because I’m the trouble maker like the doctor said.

It gets on my nerves so much, when someone pointing their fingers to my nose. Mungkin benar juga yang dibilang dokter itu, bahwa hidupku yang penuh dengan drama, yang membuat onar dan kerusakan di sana-sini, menyebabkan kasus berdatangan ketika di stase forensik. It made me thinking like I’m the one to blame on this matter.

But then I stopped. It needs to stop.

Because when someone says this to you: “…gara-gara ada kamu jadinya banyak kasus kecelakaan/kasus pembunuhan/pasiennya gawat/etc…” for me, they’re saying indirectly that the victims were dead because of you, and the patients were falling into shock or even coma because of your presence (highlight: your presence). And by that they’re blaming their interlocutors on anything bad that happened on that day. And that’s not funny, not even when they’re just kidding or trying to engage a conversation to anybody.

To anyone who has the same experience as I do, feel the same feeling as I do, here’s some words: Stop blaming yourself, don’t listen to them. You’re not the cause of anyone’s death and your presence is worth more than anything and you are loved. Note that.

Mari kita mulai berfikir positif dan ngga mudah menghubung-hubungkan segala sesuatu, atau bahasa Pakistannya “otak-atik mathuk”. Mari menjadi pribadi yang ngga mudah menyalahkan orang lain, tapi lebih pada menghargai kehadiran orang tersebut di dunia ini. Dan mari kita pahami bahwa jodoh, rejeki, dan mati sudah tertulis di kitab takdir kita. Jadi, koas juga sudah punya jatah rejeki jaganya. Dan begitu pula dengan mati, “bahkan kejatuhan bolpoin aja kalau udah waktunya juga bakal mati.” They have their own destiny and has no correlation with your presence.. at all. And from now on, to all young doctors, please don’t blame anyone’s death/misfortune to anybody around you, just because the coincidence of their presence with the amounts of patients on that day. Please stop. because it hurts. So much. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s