Demotivational #2

Tahun 2012, habis lihat pengumuman kelompok tutorial di papan piramida ternyata satu kelompok sama Izza Zukhrufia. Waktu itu tau nama Izza Zukhrufia karena pernah lihat di kelas dia ditegur dr. Dicky Moh. Rizzal, M.Kes, Sp.And. (wkwkwk). Suatu ketika di Grha Wiyata, ketemu Izza (Opek) terus aku sok kenal aja, “Opeeek, kita satu kelompok lho.” Terus Opek yang lagi jalan bareng perempuan ngga aku kenal di sampingnya bingung, “Oh iya? Owalah namamu tu Agustina to hahaha. Yeeeey asiik ketemu temen satu kelompoook.” Terus aku sama Opek berpelukan (ngga tau kenapa), dan kemudian pelukan itu diikuti oleh perempuan yang ngga aku kenal di samping Opek. Setelah hampir satu semester berlalu, aku sholat di mushola Lab Histologi sama Opek.

Me: Pek, sebenernya dulu kita pelukan itu kenapa ya? Kan kita belum saling kenal.
Opek: Hahaha iya ya? Aku juga cuma SKSD Palapa aja sih itu.. Hahaha kenapa ya beb? Aku juga bingung…
Me: Tau ngga sih Pek, aku sejujurnya ngga tau wanita di samping mu waktu kita pelukan itu..
Opek: Hah? Manda? *melotot* AMANDA PUTERI KAMU NGGA KENAL BEB?! BEB???!!
Me: Ngga ._____.
Opek: Lah lah beb, sek wait. Lha itu dia kan ikut pelukan kan? HAHAHAHAHA BEEEEB GEBLEEEKKK. Jadi kalian ngga saling kenal tapi peluk-peluk? Hahahaha *ngga berhenti ketawa sampai ketemu Manda*
Me: Iya Pek! Jadi dulu itu pelukan palsu ngga sih? Hahahahaha

Setelah tanya ke Manda, “HAAHAHA sejujurnya aku juga ngga tau ‘siapa si ini kok Opek peluk-pelukan’, terus aku mikir ‘kan aku sekelompok sama Opek, kalau Opek bilang satu kelompok sama orang ini berarti aku juga dong’, yaudah kaan makanya aku ikutan pelukan ajaaa padahal ngga ngerti juga kenapa dan siapa wanita ini’ hahahaha.”

Persahabatan kami memang berawal dari pelukan palsu, dan terus diisi dengan curhat-curhatan yang ngga mutu, tapi alhamdulillaah (dan insya Allaah) rasa sayang kami tulus.

IMG_6758.JPEG

Kepalsuan itu cuma terjadi di awal, insya Allaah. Karena dari dulu kami bertiga emang selalu curhat-curhatan (sampai sekarang sih) yang (terlalu) jujur dalam menyuarakan isi hati dan pikiran. Harus gamblang dan ngga mau lip service doang, yang cuma nyenengin buat didenger tapi menyembunyikan kenyataan yang pahit. Saking gamblangnya sampai jadi demotivational. “Udah, Pek, mending putus aja.” dan “Iya, Pek, temenin kita Pek biar sama-sama jomblo.”

Seneng bisa kenal mereka berdua, bisa saling panggil sahabat. Sama mereka itu isinya cuma ketawa dan bebas drama, obrolannya pun tentang cinta dan gosipin lingkaran tetangga (ups). And surprisingly, mereka bisa diajak untuk deep conversation tentang apapun, mulai dari hati sampai bumi pertiwi, mulai dari fakta yang tak pernah terungkap hingga make up. Semoga ngga berhenti di sini dan ngga cuma basa-basi. Pelukan palsu hanya di awal dan berhenti di sana, sekarang cuma ada ketulusan cinta dan untuk seterusnya. aamiin.

Selamat ulang tahun Amanda Puteri dan Izza Zukhrufia! I love you both equally :3

Advertisements

Talitha Fredlina Azalia

Talitha
(noun): The name of a girl who loves every living things on earth deeply, fully, and truly.

She is my bestfriend since junior high. She is the most patience girl amongst my circle and also she has the wildest mind too. I love having a deep conversation with her, she’s so critical and open minded and have a very beautiful mind (and heart too!).

She always on her calm mode 24/7 and in every situation, even when her toe was accidentally hit by the moving fence in front of my house, she kept calm and just laughed at our worried expression. Fyi, her toenail was detached and her blood was unstoppable at that time.

She remembers everyone’s birthday and always initiates to make a surprise for the related person. And she’ll put her all on everything. She’ll bake a cake, or make some cookies, or lasagna, or greentea pudding.

She is tough, she is strong, she is brave. She chooses her path with no regret, and she’s doing fine and will always be fine.

IMG_5838.JPG

Happy birthday, Ta!
We love you!
xoxo

Perilaku Profesional

Dapat tugas booster professional behaviour dari fakultas yaitu membuat tulisan tentang kasus perilaku tidak profesional yang ditemukan di lapangan (rumah sakit). Sekalian nulis buat blog deh (tetep).

“Pada September 2016, jenazah kasus pembunuhan dikirim dari Rumah Sakit Akademik UGM (RSA). Jenazah ada tiga, dengan jenis kelamin laki-laki. Salah satu jenazah sebelumnya terlibat percekokan dan kemudian menjadi korban pembacokan, sedangkan dua jenazah lainnya tewas diamuk massa, yang merupakan rekan dari pembacok yang kabur (tapi sekarang sudah tertangkap). Pada saat saya di stase forensik, saya ikut melakukan otopsi ketiga jenazah tersebut.

Sudah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Nomor 8 tahun 1981 Pasal 133 ayat (3) yang berbunyi: “Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut…”. Sikap penuh hormat kepada jenazah/mayat sudah diatur pada KUHAP tersebut menunjukkan betapa pentingnya menghormati jenazah.

Hal tersebut–menghormati jenazah–sebenarnya, jika dilakukan dengan benar, sudah cukup untuk menghapuskan paradigma di kalangan mahasiswa kedokteran bahwa Ilmu Kedokteran Forensik adalah tempat bagi dokter yang tidak mau berurusan dengan pasien hidup, dan tidak perlu memperhatikan kode etik yang berlaku, karena pasien yang dihadapi sudah mati.

Namun, ketika terjadi pada suatu waktu dokter forensik/residen forensik tidak memperlakukan jenazah dengan penuh hormat pada saat otopsi, menjadi suatu pertanyaan besar di benak saya pribadi, “apakah terlalu sering berhubungan dengan orang/benda mati akan mematikan nurani?” Bahwa pasien yang sudah mati pun memiliki hak untuk tetap diperlakukan dengan baik dan penuh hormat, pun dalam hukum Islam dijelaskan pula (namun tidak akan saya bahas lebih lanjut).

Semua pasien adalah sama dan berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama, baik pasien yang masih dapat menyebutkan nama, pasien yang sudah lupa nama, maupun pasien yang hanya tinggal nama.

Begitulah kira-kira tugas yang saya kirim ke email tim perilaku profesional.

Huehehe lagi jaga malah internetan…….dan kesakitan.

Sakit perut dan ngga bawa obat. Cerdasssssss.

Kok ngga minta ke perawat aja? Kan di RS. Ya menurut ngana aja minta-minta, perawatnya jam segini udah tidur juga kali. #malahngomyangopotoiki.

*Update!*
Mas Yudha datang ke Bangsal Teratai tengah malam hanya untuk mengantarkan antasida dan asam mefenamat untukku :”) sweet ya? Tapi kasihan :( Tapi habis itu jadi bisa tidur soalnya udah ngga kesakitan lagi… makasih Mas, maaf merepotkan .___.v

Ngga Mau Ngaku

Tahun pertama kuliah di Fakultas Kedokteran, merasa penuh tekanan dan merasa salah masuk jurusan. Badan ada di ruangan, tapi hati dan pikiran melayang ke kahyangan. Dan selalu merasa tidak pantas untuk disebut “Putri Pak Profesor”, then I lied all the time.

Suatu hari yang bolong, ada bimbingan sama dosen pembimbing akademik (DPA). Setiap anak diabsen dan ditanya tentang latar belakang keluarga. Mahasiswa yang menjawab anak dokter selalu ditanya hingga detail nama, dokter apa, lulusan mana, angkatan berapa, staf dimana, praktek dimana, sama siapa, semalam ngapain aja (what). Mbak Qia menjawab kalau ayahnya dokter bedah. Sondang menjawab kalau ibunya dokter di Singkawang. Hingga tiba giliranku, “Bapak atau Ibunya dokter, mbak?” Ku jawab enteng, “Bukan, dok.” *passed, langsung lanjut ke mahasiswa lainnya* *langsung dipelototin Sondang sama Mbak Qia* *bodo amat*
_______________

Berhasil lulus S1 dan melanjutkan pendidikan profesi (ngga nyangka ngga sih? Oemji). Waktu stase interna di Klaten, tahun 2015. Sama dr. Hatman diminta nulis biodata di hari-hari terakhir, dan dibaca satu-persatu sambil ditanya detail (persis kaya DPA S1-ku. WHY).

Nisa: Tin, kamu bakal ngaku ngga kamu anaknya siapa? (Nisa ini anaknya konsulen anak di Sardjito, jadi memiliki nasib yang sama sepertiku huhuhu, tos Nis!)
Me: Ngga, kamu?
Nisa: Nah, aku bingung. Kalau ngga ngaku berarti aku bohong dong? Nanti ketahuan gimana?
Me: Ngeles aja lah.

Tiba giliran Nisa ditanya dr. Hatman (DRH), “Ayah kamu PNS apa?”
Nisa: Dosen, dok. (she told the truth, karena ayahnya memang dosen)
DRH: Dosen dimana?
Nisa: UMY, dok. (she told the truth, karena ayahnya memang dosen juga di UMY)
DRH: Mengajar apa?
Nisa: Manajemen, dok. (LIED! Haha! Nisa bilangnya, “Dalam hati aku bilang, manajemen pasien, jadi ngga bohong-bohong amat lah ya hahaha”)

Tiba giliranku.
DRH: Ayah kamu PNS apa ini?
Me: Dosen, dok. (I told the truth, karena papi dosen juga)
DRH: Dimana?
Me: Filsafat, dok. (LIED! Haha! And everyone was like “wth?!”)
DRH: Filsafat? Ngajar apa?
Me: Ilmu Pancasila, dok. (Half lied. Karena papi memang mengajar ilmu pancasila, tapi bukan dosen di sana)
DRH: *ngga percaya* Filsafat? Gelarnya apa?
Me: *what?!* *mendapat bisikan dari Fahmi* “S. Fil, dok”
DRH: *tetep ngga percaya* S.Fil? *blank* *lanjut ke Fahmi* *HAHAHA*

Setelah selesai sesi biodata itu Nisa menegurku, “Eh bukannya kalau gelar zaman dulu itu Drs. ya?” Duerrr. Ketahuan bohongnya hahaha. Tapi hari berlalu tanpa dr.Hatman tau identitas asliku. Bahkan di tumpukan biodata itu masih tertulis identitasku sebagai anak dosen filsafat hahaha! Setahun berlalu, beliau masih juga ngga tau (yaudahlahya ngga penting juga untuk kehidupan beliau).
_____________

Stase Jiwa. Oleh dr.M diminta membuat biodata juga dan ditanyai juga tentang detailnya…..

Besok lagi aja ya ceritanya hahahaha #ngeselin

Deep Conversation

*setiap kali aku tanya ke Mas*
Me: Mas sayang ngga sama adek?
Mas: Sayang banget.
Me: *being sceptical* Tapi?
Mas: Ngga ada tapi..
Me: Tapi?
Mas: *silent for a while* Tapi banget.
________

*lagi jajan di Calzone*
Mas: Dek, ada Awkarin.. *mata Mas mendarat ke arah perempuan di belakangku*
Me: *waited for the girl to pass me by* *saw the girl* Ngawur!
Mas: *chuckled* Tau ngga dek, habis dia (Awkarin) dilaporin itu dia kan liburan ke Bali, terus dia upload hal yang serupa coba hahaha orang tuanya ki piye jal…
Me: *didn’t know anything about what happened on the instagram because I deactivated my account, duh* Mas, adek punya beberapa pikiran.. (btw, bismillaah semoga aku bisa merangkaikan kalimat di blog ini dengan baik sehingga mudah dipahami dan tidak terjadi salah interpretasi, mohon maaf ya kalau ada yang kurang berkenan dengan ocehan tanpa arti ini uhuhuhu, mungkin baca yang udah aku bold aja ya sebagai kesimpulannya):
“Sebenarnya, we can’t blame anyone on this matter–the social media effect. Ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya uploading (for some people) inappropriate posts dan laporan atas postingan tersebut. Kalau menurut adek, ini pengaruh dari orang tuanya juga, since pendidikan paling dasar adalah di keluarga.

  1. Orang tua zaman dulu (eyang kita) did a great job dalam mendidik orang tua kita, sampai di era keemasan beliau semua/orang tua kita (sekarang kan lagi zamannya orang tua kita menjabat: jadi menteri, dekan, rektor, direktur, dan lain sebagainya). Dan dari keberhasilan beliau semua (yang bisa kita lihat dan rasakan sekarang) itu (mungkin) merupakan wujud dari keberhasilan eyang-eyang kita dalam mendidik orang tua kita, dengan cara “zaman dulu yang keras dan sangat otoriter”, dengan hirarki yang jelas, yang (mungkin some of our parents mengalami) pendidikan semi militer di keluarganya. Kalau boleh menyimpulkan, berarti pendidikan yang “keras” itu (sudah) membuahkan hasil yang baik.
  2.  Orang tua kita (mungkin) merasakan bahwa pendidikan yang mereka terima dulu adalah pendidikan yang tidak seharusnya mereka terima, dalam artian, there must be some other ways to discipline their children and their children deserve better and what they felt about being told of what to do and couldn’t speak their hearts out were so frustrating. Apa yang mereka rasakan dari pendidikan yang keras itu (mungkin) memunculkan ide tentang cara parenting yang berbeda, mereka lebih memposisikan diri sebagai “sahabat” daripada “orang tua” dan memberi keleluasaan dan kelonggaran kepada kita (anak-anak mereka). I didn’t say that it’s wrong and I wasn’t suggesting them to change their parenting ways, because we haven’t see the result yet, it’s still too far from conclusion. But we can see it from the phenomenon these days, dimana banyak kenakalan remaja yang viral di media, murid susah diatur, menentang gurunya, ugal-ugalan, dan terkesan “bebas”, dan kalau boleh saya mengkategorikan, postingan di instagram yang inappropriate itu termasuk dalam kenakalan remaja. I am sorry, I’m so old fashioned and conservative but I’m trying to see this case from other perspective yaitu pihak yang melaporkan postingan inappropriate (and actually, I am old fashioned). Kalau boleh menyimpulkan, berarti orang tua zaman sekarang lebih memilih untuk melunakkan cara mendidik anak-anak mereka. ‘Bebasnya’ peraturan di lingkup keluarga memberikan hasil sementara: viralnya fenomena kenakalan remaja.
  3. Selain dari pengaruh orang tua, adek rasa yang dari tadi adek sebut dengan “fenomena” itu terjadi karena budaya kita berbeda dengan budaya yang masuk ke Indonesia. And it shows us that Indonesia is not ready for globalisation, if I could say. Kita masih belum memiliki jati diri Indonesia, kepribadian Indonesia, dan karakter Indonesia. Remaja kita masih terombang-ambing dan semakin hanyut dalam ombak globalisasi, and frankly they have no idea about it, and sadly they are proud of it. Belum sempat memilih untuk menjadi siapa/seperti apa, sudah diracuni dengan budaya orang lain. Belum bisa mencintai budaya sendiri, sudah berani mencintai budaya orang lain. Ibaratnya, kita membuka pintu selebar-lebarnya tapi yang berada di dalam rumah masih berantakan, masih belum siap untuk kedatangan tamu. Dan karena perbedaan kebudayaan itulah yang membuat kita jadi semakin terombang-ambing, “ini memang eranya yang begini, atau aku yang old fashioned?” karena fenomena yang terjadi sekarang di Indonesia adalah mungkin hal yang lazim di luar negeri, tapi tidak untuk kita. Itu yang membuat ada ketidakcocokan antara (dalam kasus ini) pelapor dan yang dilaporkan.”

Mas: Tapi adek aware kan kalau zaman dulu itu ngga bisa dibandingkan dengan zaman sekarang? Eranya kan udah beda.
Me: Yes, that’s why I said all of the things earlier. Dan orang yang bilang, “anak zaman dulu itu beda dengan zaman sekarang” itu membandingkan kondisi sekarang dengan saat mereka masih anak-anak di zamannya. Banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan itu, yaitu beberapa hal yang adek sebut tadi, itu pikiran adek aja sih Mas.
Mas: Hmm.. yasih.. *and the discussion continued*
________

*masih di Calzone, udah ganti topik*
Me: …karena Mas itu seniman, jadinya seenaknya sendiri, semaunya sendiri hahaha
Mas: *talking philosophically about an artist*
Me: Adek setuju banget sih sama yang Mas bilang tadi, bahwa seniman itu seharusnya berada di tempat yang penuh dengan acceptance dan appreciation, dan itu bisa terjadi di tempat yang udah tertata, tempat yang udah ngga mikirin hal lainnya, and it’s obviously not in Indonesia *smirk*
Mas: Ya memang belum kalau di Indonesia… *continued talking philosophically about it*
Me: Oh my God! This is the first time we’re agreeing on each others’ statements ngga sih Mas? Ya ampun seneng ngga sih sama obrolan kita malem ini *grin*
Mas: *nyamnyum* (senyam-senyum)
_______

Btw, maaf ya postnya jadi panjang dan bikin males baca, ngga bisa banget nulis yang singkat-singkat. I’ll try my best for the next posts! ;)

No Reason

*lagi di Bale Bebaqaran habis sholat, aku mau ke toilet dulu sebelum balik ke meja*
Me: can you please bring this for a second? Thank you..
Mas: *menggendong ranselku* adek jangan lama-lama ya (di toiletnya)
Me: *bingung* Hah?
Mas: adek jangan lama-lama
Me: why?
Mas: because I miss you..
Me: *chuckled*
*kembali ke meja makan*
Me: masih merindukanku?
Mas: Always
__________

*lagi di WS, mau bayar. Since aku di stase forensik yang on call, jadi kemana-mana (termasuk kencan) harus selalu siap peralatan tempur (jas koas, buku, papan, lembar otopsi, dsb) jadinya bawa tas ransel instead of tas kecil buat kencan :3 sedangkan si Mas stase anak enteng aja ngga bawaa apa-apa (huft)*
Mas: *tiba-tiba* Dek, sini tas
Me: *bingung* ha? *puter badan menghadap ke Mas*
Mas: *menarik tasku* sini tasnya adek
Me: *masih bingung* oh.. *ngasih tas ke Mas*
Mas: *menggendong ranselku* dah yuk jalan
Me: *baru mudeng* #bego
__________

*lagi di WS sambil nunggu makanan*
Mas: Dek, dari satu sampai sepuluh, berapa rasa rindu adek ke mas? Seberapa pingin adek ketemu mas malam ini?
Me: Emmmm tujuh?
Mas: Oh.. *muka kecewa*
Me: Emang mas berapa?
Mas: Sembilan setengah..
Me: *feeling bad* *trying to explain* *too late* *huft*
__________

*di chat masih dilanjutin tentang conversation di atas*
Mas: Makasih dek, mas cuma rindu, mas pgnnya adek juga bisa serindu mas..
Me: *langsung super sedih* *pasangan macam apa*
__________

Yesterday, I don’t know why, he was so cute and nice and sweet and full of “sayang”, “cinta”, “sayangku” which was very rare in this life. And I felt so…… afraid. I told Nabila that I was afraid of his sweetness. I’m afraid that I might fall in love even deeper to him..

But thank you for all, Mas. I really am thankful that I have you, and feeling the love from you. I know that I have no reason at all to be afraid, now, insya Allaah.