Renungan Sore #2

Halo! Sabtu sore yang cerah setelah langit menumpahkan berkahnya di Kota Yogyakarta, memberikan aroma sendu dan romantis. Waktu yang tepat untuk sejenak merenung dan memikirkan tentang masa depan.

Taukah kalian kalau di Indonesia sekarang ada 83 fakultas kedokteran? Dan taukah kalian kalau 45 persennya berakreditasi C? (sumber: Kompas).

Dari informasi di atas, bisakah kita semua merasakan kengeriannya? Dengan fakultas kedokteran yang dibuka dengan sangat mudah, dengan akreditasi rendah, dengan mahasiswa yang (sebagian dari mereka) hanya mengejar hidup mewah, dengan sistem kesehatan di Indonesia yang masih terbilang susah. Guys, ini bukan tentang seberapa besar gaji kita kelak, melainkan tentang berapa banyak manusia tergeletak (tak bernyawa). Bukan tentang seberapa pintar orang melihat diri kita sekarang, melainkan besarnya harapan yang mereka titipkan kepada kita untuk masa yang akan datang. Ini bukan tentang kehidupan yang layak ketika berprofesi sebagai dokter, melainkan tentang nurani dan kesejahteraan masyarakat luas.

Karena menjadi dokter tidak sebercanda itu.

Apa fungsinya kita bergelar sarjana kedokteran tapi kita kebingungan memberi solusi untuk tetangga yang mengetuk pintu rumah kita? Apa gunanya sekolah lama kalau ditanyai sanak saudara tentang penyakit hanya bisa menjawab, “coba cari di google aja kak.”? Apa manfaat kita hidup di dunia?

Dan satu lagi, sebagai pengingat untuk para pemangku kekuasaan yang sekarang, para dokter pintar yang tidak memiliki waktu untuk mengajar, para konsulen yang tidak berdedikasi pada pendidikan, sebenarnya uang yang mereka nikmati sekarang tidak ada apa-apanya jika mereka berfikir jauh ke depan. Dan waktu yang para dokter senior sempatkan sekarang untuk mengajar-mendidik dokter-dokter muda, adalah investasi besar untuk diri mereka sendiri. Karena jika tiba saatnya mereka tua dan membutuhkan pertolongan medis, yang merawat mereka adalah generasi muda, generasi yang mereka cetak di masa sekarang. Kalau mereka sakit, yang merawat mereka adalah generasi yang mereka ciptakan.

Tidak banyak yang bisa kita lakukan sekarang tentang banyaknya fakultas kedokteran di Indonesia, yang bisa kita lakukan adalah bebenah diri. Tidak masalah dimana kamu kuliah, asalkan ada asa membara, kamu tetap bisa menyelamatkan bangsa.

Marilah kita sejenak menundukkan kepala, rendahkan hati kita, memohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Benahi lagi tujuan hidup kita, benahi lagi nurani kita. Jangan mau hanya menjadi dokter yang mendapat ribuan likes di instagram, tapi mendapat cacian dari senior di bangsal saat jaga malam. Jangan mau menjadi dokter yang hanya berfikir kesejahteraan diri sendiri, karena nantinya kalau generasi berganti, nyawa sudah di ujung peti mati, kita hanya bisa menangisi dan menyesali tentang masa lalu yang tidak serius mendidik generasi penerus. Jangan biarkan generasi penerus menjadi pembunuh generasi sebelumnya, karena kesalahan generasi tua membiarkan generasi penerus tetap bodoh.

*mengheningkan cipta, mulai*

Sekian saja renungan sore ini. Semoga bisa menyentil nurani teman-teman semua. Dan mungkin bisa menjadi ide topik obrolan bagi teman-teman yang mau mengajak gebetannya Malam Mingguan, jadi kelihatan nasionalis gituloh, jangan cuma ngegombal “aku cuma sayang kamu” tapi ditambahin “aku sayang kamu, keluargamu, dan negara kita.” ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s