Jadi, sebenarnya aku yang gila hormat atau memang adik kelas itu mayoritas ngga ada hormat-hormatnya sama kakak kelas? Atau memang zamannya udah without borders? Sampai se-ngga-ada-itu batas antara adik dan kakak? Antara junior dan senior? Antara mahasisiswa ke dosen? Antara koas dengan konsulen?

Aku yang sok-sok-an aja sih mungkin. Sombongmu, Tin, kurang-kurangin. Banyakin ngaca dan doa aja.

Astaghfirullahaladzim.

Advertisements

28!

Aku ngga begitu suka main games. Di ponsel aja gamenya cuma satu judulnya Peak (semacam daily brain workouts gitu seru deh!) itu aja maininnya kalau bener-bener ngga ada kerjaan.. Nah ngga tau kenapa di stase forensik ini rasanya pingin main game terus dan males ngerjain yang lain. Bahkan lagi pergi sama Mas aja mainan Onet terus. Itu udah pertanda sih menurutku, something’s wrong with me. Ya betul….aku bosen and he can sense it.
*via chat*
Mas: heu adek bosen yah..
Me: huhuhu
Mas: nonton aja po besok? *ngirimin jadwal bioskop*
Me: I think I need that. And a lot of sweet treats..

Kemudian hari ini Mas Yudha ngajakin mampir beli es coklat kesukaan kami berdua (Cokless enak banget! Ngga normal). A very thoughtful move sih, tapi aku lagi pingin Es Bangjo dan akhirnya kami kesana.

*lagi beli Es Bangjo di Jakal yang satu lokasi sama Hokben, terus aku mau ke toilet yang ada di pojok dari area Hokben itu*
Me: Mas tunggu sini ya, adek kebeles pipit (kebelet pipis tapi diplesetin).
Mas: Dimana?
Me: Itu di situ *nunjuk toilet yang di ujung*
Mas: Berani ngga? Bisa sendiri ngga?
Me: Beranilah haha *bingung*
Mas: Aman kan tapi? Adek bisa jaga diri sendiri kan tapi?
Me: *tambah bingung* Iya ya ampun situ doang -.-
Mas: Hehehehehehehe

JPEG image-42BA52274C3B-1.jpeg

Segala naik dan turun hubungan kami berdua ngga bisa sampai di titik ini kalau bukan karena Mas Yudha. Kalau bukan karena kesabarannya meladeni tingkah polah kekanak-kanakanku, kalau bukan karena kesungguhannya ingin memahami mood swingku yang bisa berubah dalam hitungan detik, kalau bukan karena kasih sayangnya kami ngga mungkin bisa ada di zona sekarang.

I can’t thank him enough for his countless efforts (from our second year medschool until now, and still willing to give me the extra efforts), his love. I just can’t thank him enough. I’m learning a lot from him, a lot and I still want to learn for the sake of ourselves, him. This is my process, ours.

I hope that we can be better and do the best together now for the future, love each other better and be the best lover for each one of us, and be the best version of ourselves whenever we’re together, and we can contribute more to do something good for the people around us. Aamiin.

*lagi jajan di APS (Ayam Penyet Suroboyo), aku sibuk mainan Onet*
Mas: Dek, kok mainan terus sih? Ada masnya lho malah ditinggal mainan..
Me: Aaa, ngga apa-apa to Mas.. *manja* *masih tetep mainan*
Mas: Ah yaudahlah.. *ikutan mainan ponsel, ngga tau ngapain*
Me: *mbatin: mesti ngambek deh ini si Mas.. tapi… sek satu round lagi..*
Mas: Dek, sini main sama Mas aja *naruh ponselnya di atas meja di depanku*
Me: wow apa inihhh? *girang*
Mas: Ini namanya game Dakon. Yuk main berdua sama Mas..
*jadi ternyata diem yang aku kira ngambek tadi, buat download games yang bisa dimainin berdua*
Me: ih kok Mas kalahan sih..
Mas: Ya ngga apa-apa, biar adek yang menang, ben seneng. Ntar nek mas yang menang, adek maraaahh..

I know it’s hard to let go and to take a step back and to trust fully.. But I have a good feeling that I’m heading there, we’re heading there, somewhere better. Bismillaah, selamat 2∞!

4&6

The title above stands for “four and six” meaning forensic (homophone, haha!).

Stase Forensik adalah stase yang bikin insecure setiap kali dering notifikasi Whatsapp bunyi (padahal isinya cuma “eh besok kuliah jam 6 pagi kan?” atau “yang mau tanya-tanya kuliner konsul aja ke Mbak Linda”). Stase yang bikin ngga tenang setiap mau janjian main sama temen, takut ada panggilan otopsi tiba-tiba. Stase yang bikin keimanan dek koas meningkat karena setiap hari kita selalu mengingat Yang Maha Kuasa untuk senantiasa menjaga saudara-saudara kita selamat di perjalanan sampai tujuan. Stase yang doa mau tidurnya ngga cuma “bismika Allahuma ahya wa bismika amut” tapi ditambahin “yaa Allaah lindungilah mereka yang berkendara, limpahkanlah manusia di dunia dengan kasih sayang agar tidak saling membunuh, berilah nikmatMu kepada hamba untuk bisa melanjutkan tidur hingga esok hari tiba, aamiin”.

Intinya: ngga tenang, takut ada kasus.

Pagi tadi ada kasus dan seluruh koas forensik datang untuk melakukan Pemeriksaan Luar (PL). Pertama kali ngelakuin PL itu waktu jadi koas forensik prematur (belum waktunya) di kelompok Reisha (baca disini), dapet kasus pembunuhan. Dari pengalaman pertama itu sampai detik ini masih ada pergolakan batin yang luar biasa. Dulu, waktu diajarin sama guru agama tentang memandikan jenazah, dikasih tau kalau kita harus senantiasa lembut dan perlahan-lahan. Karena, meski udah perlahan-lahan pun (katanya) ruh dari jenazah tadi merasakan kesakitan. Kalau memang benar demikian, lalu bagaimana rasanya jenazah yang diotopsi? :””(( naudzubillaah.

Dan baru tau banget kalau ternyata permintaan otopsi itu 100% kewenangan pihak penyidik (kepolisian). Bahkan pihak keluarga ngga berhak menolak permintaan penyidik, dan kalau tetap menolak, nanti bisa dikenai pasal… lupa …. hehe, padahal habis kuliah -.-  Jadi, kasihan jenazahnya kan malahan :( kasihan arwahnya :(( kasihan keluarganya yang kasihan sama jenazah/arwahnya yang meninggal :(((

Yasudah, sekarang kita cuma bisa berdoa dan berhati-hati. Jalanan licin karena hujan, jangan lupa pakai pengaman dan berdoa sebelum jalan, semoga selamat sampai tujuan. Dan semoga kita semua terhindar dari siksa dunia maupun siksa neraka, aamiin.

Stay safe, everyone! ;)

I woke up happy this morning because (1) no calls from forensic department, meaning: no dead case and (2) he sent me sweet words this morning (which is what I really need every single morning). It’s just 3 pm but I’m feeling exhausted already, sleepy to be exact.. I can’t sleep no matter how hard I try. Just now, I’ve finished my favourite chocolate: Silverqueen almond but it just can’t boost my mood nor even my energy.

Maybe I simply just need you.

Here.

Now.

*lagi cemburu-cemburuan unyu*
Me: Mas kan tau, adeknya cemburuan. Bahkan sama kaktus dikerudungin aja adek bisa cemburu.
Mas: Ya baiklah, kaktus dilipstikin ngga marah kan tapi?
______

*lagi makan bareng, aku ngiris pizza dibagi dua, terus Mas Yudha cuma ngelihatin*
Me: Dipengangin dong Mas.
Mas: *tangannya Mas Yudha megang tanganku* hahahaha. Lha katanya minta dipegangin?
Me: Maksudnya pizzanya -___- (padahal hatinya girang, wkwk)
______

*lagi ngapain ya lupa*
Me: So hot ngga sih ini *kipas-kipas pakai tangan*
Mas: Ini hot yang di depan mas *nahan senyum*
Me: *pasang muka datar, ngga mau senyum* ati-ati keslomot (Jawa: terluka karena kepanasan)
Mas: *ketawa girang*
______

*lagi dinner bareng (cailah dinner)*
Mas: Dek, forensik selo lho, ngga ada alesan buat ngga bales (chat) mas lho ya..
Me: Ih mas juga ngga boleh ngga chat ya kalau udah masuk (stase anak) besok.
Mas: Lho mas kan di stase anak, adek di forensik. Adek dulu waktu stase anak kayanya sibuk banget, sampai ngga punya waktu buat mas. Balesin chat aja singkat-singkat, ngga intens. Makanya mas bilang di forensik adek ngga ada alesan sibuk terus ngga bales chat mas. Mas udah forensik makanya tau kalau forensik itu selo banget.
Me: Iya, tapi mas juga ngga boleh alesan sibuk buat ngga chat adek.
Mas: Iya, mas akan buktikan sesibuk apa sih stase anak sampai waktu itu adek jarang hubungin mas. Dan mas akan buktikan kalau sesibuk apapun mas, mas akan selalu hubungin adek..
______

*pagi tadi dijemput Mas Yudha buat ke kampus, di motor si Mas meraih tanganku. Udah GR dong dikira mau dielus-elus apa dipegangin sepanjang jalan kenangan biar sweet romantis gimana gitu, ternyata… ngecek pakai cincin apa engga -_- terus tangannya kembali ke stang motor -___-*
Mas: Dek, cuma forensik lho, cincinnya dipakai terus lho ya.
Me: -__________-

Renungan Sore #2

Halo! Sabtu sore yang cerah setelah langit menumpahkan berkahnya di Kota Yogyakarta, memberikan aroma sendu dan romantis. Waktu yang tepat untuk sejenak merenung dan memikirkan tentang masa depan.

Taukah kalian kalau di Indonesia sekarang ada 83 fakultas kedokteran? Dan taukah kalian kalau 45 persennya berakreditasi C? (sumber: Kompas).

Dari informasi di atas, bisakah kita semua merasakan kengeriannya? Dengan fakultas kedokteran yang dibuka dengan sangat mudah, dengan akreditasi rendah, dengan mahasiswa yang (sebagian dari mereka) hanya mengejar hidup mewah, dengan sistem kesehatan di Indonesia yang masih terbilang susah. Guys, ini bukan tentang seberapa besar gaji kita kelak, melainkan tentang berapa banyak manusia tergeletak (tak bernyawa). Bukan tentang seberapa pintar orang melihat diri kita sekarang, melainkan besarnya harapan yang mereka titipkan kepada kita untuk masa yang akan datang. Ini bukan tentang kehidupan yang layak ketika berprofesi sebagai dokter, melainkan tentang nurani dan kesejahteraan masyarakat luas.

Karena menjadi dokter tidak sebercanda itu.

Apa fungsinya kita bergelar sarjana kedokteran tapi kita kebingungan memberi solusi untuk tetangga yang mengetuk pintu rumah kita? Apa gunanya sekolah lama kalau ditanyai sanak saudara tentang penyakit hanya bisa menjawab, “coba cari di google aja kak.”? Apa manfaat kita hidup di dunia?

Dan satu lagi, sebagai pengingat untuk para pemangku kekuasaan yang sekarang, para dokter pintar yang tidak memiliki waktu untuk mengajar, para konsulen yang tidak berdedikasi pada pendidikan, sebenarnya uang yang mereka nikmati sekarang tidak ada apa-apanya jika mereka berfikir jauh ke depan. Dan waktu yang para dokter senior sempatkan sekarang untuk mengajar-mendidik dokter-dokter muda, adalah investasi besar untuk diri mereka sendiri. Karena jika tiba saatnya mereka tua dan membutuhkan pertolongan medis, yang merawat mereka adalah generasi muda, generasi yang mereka cetak di masa sekarang. Kalau mereka sakit, yang merawat mereka adalah generasi yang mereka ciptakan.

Tidak banyak yang bisa kita lakukan sekarang tentang banyaknya fakultas kedokteran di Indonesia, yang bisa kita lakukan adalah bebenah diri. Tidak masalah dimana kamu kuliah, asalkan ada asa membara, kamu tetap bisa menyelamatkan bangsa.

Marilah kita sejenak menundukkan kepala, rendahkan hati kita, memohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Benahi lagi tujuan hidup kita, benahi lagi nurani kita. Jangan mau hanya menjadi dokter yang mendapat ribuan likes di instagram, tapi mendapat cacian dari senior di bangsal saat jaga malam. Jangan mau menjadi dokter yang hanya berfikir kesejahteraan diri sendiri, karena nantinya kalau generasi berganti, nyawa sudah di ujung peti mati, kita hanya bisa menangisi dan menyesali tentang masa lalu yang tidak serius mendidik generasi penerus. Jangan biarkan generasi penerus menjadi pembunuh generasi sebelumnya, karena kesalahan generasi tua membiarkan generasi penerus tetap bodoh.

*mengheningkan cipta, mulai*

Sekian saja renungan sore ini. Semoga bisa menyentil nurani teman-teman semua. Dan mungkin bisa menjadi ide topik obrolan bagi teman-teman yang mau mengajak gebetannya Malam Mingguan, jadi kelihatan nasionalis gituloh, jangan cuma ngegombal “aku cuma sayang kamu” tapi ditambahin “aku sayang kamu, keluargamu, dan negara kita.” ;)