Udah ngga sabar pengen cepet-cepet masuk stase jiwa.

Advertisements

Dua, Delapan, Agustus

Hi! Mau mengabarkan kalau sekarang bayi kucing yang bernama Dua, Delapan, dan Agustus udah berbahagia bersama induknya. Barusan aja Mbak Jum melakukan misi penyelamatan Dua dari kecemplung got (ngga tau gimana ceritanya bisa nyemplung di got depan rumah). Dan kami berdua berhasil menemukan si induk dan menyatukan kembali Dua, Delapan, dan Agustus dengan emak yang lumayan dzolim itu. Ya ngga mau ngejudge sih, mungkin si induk diperkosa sama kucing kampung lain, terus kaya ngga mau mengakui ketiga anaknya kan bisa juga (halah, drama). Intinya cuma mau mengabarkan kalau Dua, Delapan, Agustus udah kembali ke pelukan bunda. Jadi ngga perlu khawatir lagi. ;)

Terima kasih banyak untuk Titha dan semua orang yang udah membantu sampai udah bersedia nganter ke IGD RSH pagi-pagi (Mas Yudha :*), menawarkan untuk nganter ke IGD RSH (Dhani), me-repost instagram dan tulisan di blogku, mencarikan adopter maupun memberi saran what to do to keep them alive.

Special thanks to Papi yang udah mengikhlaskan senter kesayangannya untuk menghangatkan Dua dan Delapan semalam, “Dek, kamu ngijoli (menukar) batu baterai saya lho”, canda Papi pagi tadi. Dan terima kasih banyak untuk Mbak Jum yang berdedikasi tinggi mencarikan box dan mengambil kemejaku untuk kehangatan Dua dan Delapan (thanks -_-), dan sampai rela nyemplung ke got depan rumah untuk menyelamatkan Dua yang berada di genangan air. I can’t thank you all enough.

This is just a quick update, semoga ngga memperpanjang masa kekhawatiran teman-teman tentang nasib Dua, Delapan, dan Agustus.

Thank you so much! ;)

Dua & Delapan

Minggu yang cerah, Minggu yang bungah. Mungkin ini juga yang membuat induk kucing melahirkan bayinya di depan pintu rumahku pagi tadi, yang kemudian ditinggal pergi. Dasar kucing. Setelah itu, debaynya dicarikan Mbak Jum box sepatu sama kain buat menghangatkan tubuh mungilnya.

Tapi sebenernya waktu itu induknya baru ngelahirin satu kucing, terus karena kaget lihat Mas Yudha yang dateng mau menjemput buat Minggon (ihir), si induk langsung lari ngibrit ngga tau kemana. Nah malamnya waktu aku pulang, aku denger ada suara anak kucing di depan pintu, padahal box sepatu yang tadi aku taruh di dekat pot bunga di depan pintu lainnya.

“Kucingnya udah bisa jalan keluar sendiri(dari box) mungkin, dek.” Kata Mas Yudha polos.

Setelah aku cek, ternyata ada 1 debay lagi di pojokan tembok, ngga tau tujuan hidupnya apa ndusel-ndusel tembok gitu.

Sejujurnya dulu aku sempat takut sama kucing, setakut itu. Karena waktu SMP pernah ada kucing malang yang ditinggal induknya, terus aku sama Titha (pecinta kucing sejati) berinisiatif untuk merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tapi ya gitu, kasih sayang tanpa logika dan ilmu kan jadinya bego, bayi kucingnya dikasih susu Frisian Flag hangat, diplastikin, dikasih sedotan. Kebegoan yang cuma mempercepat kematian debay kucing aja ngga sih. :(

Semenjak itu aku jadi takut kalau lihat kucing. Takut tiba-tiba kucingnya beranak lagi dan terus anaknya ditinggal lagi. Tapi, Allaah mengujiku lagi dengan menghadirkan si Pitiks dan si Unyil ke hidupku (di kampus ketemunya). Lagi-lagi gagal merawat bayi kucing Unyil, he’s gone. Dan sekarang dipertemukan lagi dengan bayi kucing yang dilahirkan di depan pintu rumah. Why, Lord. Why.

Barusan aja aku konsultasi ke Titha, dia menyarankan untuk ngasih lampu penghangat biar debay ngga kedinginan. Aku langsung nyuri senter besar punya papi dan aku taruh di box bayi (wkwk). Waktu lagi memasang posisi yang pas, I swear I heard another kitten meowing not far from my house, but far enough for me to walk and search the poor kitten in this cold night. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh papi yang juga terkejut oleh perilaku ngga wajarku.

“Itu tadi udah ditemukan kok ibunya, ngga jauh dari sini, dek. Ibunya ngelahirin 2 atau 3 anak tadi. Terus yang 1 ini tadinya di tengah jalan, lalu sama pemuda dimasukkan ke teras rumah kita. Sudah kamu tenang saja, tidur.” Kata papi menenangkan aku (haha he knows me so well).

Thank God! Padahal tadi udah sempet minta tolong Mas Yudha buat menjemput debay dan dibawa ke IGD RSH besok pagi. Tapi, sepertinya besok induknya akan datang ke teras untuk ngelonpara debay.  Jadi bisa tidur tenang malam ini. ;) Tapi untuk yang mau adopt atau mau kasih saran harus gimana, tolong banget feel free to leave a comment, that would help so very much!

Ngomong-ngomong, nama kucing-kucing ini adalah Dua (yang ditemukan duluan) dan Delapan. Nama Dua & Delapan sesuai dengan tanggal kelahiran mereka, dan tanggal 2-semester-lebih-1-bulan-nya aku dan si Mas hehehehehe ehehe ehe ehe he. Kalau yang satu lagi ketemu namanya jadi Agustus. ;)

Anyways, you can click here for a video I took a second ago. And here are some pics of them. Thanks for reading, and please suggest me what to do.

 

Best (demotivational) Friends

FullSizeRender 3.jpg

Persahabatan kami yang setipis kertas diawali dari pelukan palsu, dimana Manda dan Titin sebenernya ga saling kenal tapi main peluk2 aja (gebleeekkkk wakakaka) dilanjutkan dengan saling mendemotivasi satu sama lain, temennya lagi ada masalah sama pacarnya malah disuruh putus :)))) Yang disamperin jauh-jauh ke rumah gataunya malah diem-diem mau nemuin mantan?!?!? Wkwkwk. Inget jaman dulu kelar kuliah sering banget “Belum mau pulang ga sih guys?” “Iya nih kemana dulu gitu yuk” dan akhirnya cuma di mobil di lapangan basket berjam-jam ngecengin mas-mas *whoopss* Mungkin ada satu dua orang atau mungkin juga banyak orang yang terheran-heran kok bisa ya 3 manusia ini temenan :)) I miss you already girls 😘 — Izza Zukhrufia, 2016.

Sebelum Cahaya

Letto

Ku teringat hati yang bertabur mimpi,
Kemana kau pergi, cinta?
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri,
Kuatkanlah hati, cinta.

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja?
Yang menemani mu sebelum cahaya.
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra?
Yang ‘kan membelai mu, cinta.

Kekuatan hati yang berpegang janji.
Genggamlah tangan ku, cinta.
Ku tak akan pergi meninggalkan mu sendiri,
temani hati mu, cinta.

‘Kan membelaimu, cinta..

Kalau lagi super seneng rasanya pengen update blog. Kalau sedih banget juga pengen update blog. Kalau bahagia juga pengen cepet-cepet update and tell the whole living things in the world. Baru marah dan emosi jiwa-raga terus pengen langsung update. Tapi ujung-ujungnya ngga jadi update dan tulisannya mengendap di draft sampai lumutan entah sampai kapan. Mungkin kalau hati merasakan sesuatu berlebihan jadi kacau dan ngga selaras dengan otak. It simply means segala sesuatu yang berlebihan itu memang ngga baik, yes? :)