Renungan Sore

Senja menyelimuti langit, cahaya oranye menembus sela pepohonan mengisi setiap sudut jalanan. Angin berhembus semilir seolah bersalaman dengan dedaunan di pohonnya, mengabarkan bahwa malam akan segera tiba. Bertengger dua ekor burung di salah satu pohon di depan rumah kecil berdinding gedek. Di teras rumah itu, duduk seorang bapak tua di atas dipan anyaman, seperti ingin menyapa senja sebelum ia tergantikan malam, menyapa malam sebelum terusir cahaya semprong temaram.

“Pak, dicariin lho, ngapain sih di luar? Ntar masuk angin lagi..” Tanya seorang laki-laki, berdiri di pintu rumah yang terbuka. Bentuk wajahnya mirip seperti bapak tua itu, hanya terlihat lebih muda dan bugar. Sepertinya laki-laki ini adalah anaknya.

“Maaf, nak, bapak ingin bernostalgia sebentar, apa boleh?” Laki-laki itu kemudian melangkahkan kakinya, duduk di sebelah bapak tua yang kurus itu.

“Bernostalgia apa sih, Pak?”

“Kamu ingat? Dulu saat kamu masih berusia 1 atau 2 tahun, bapak pulang dari kerja. Sore-sore begini kamu minta bapak temani bermain di lapangan depan sana bersama teman-temanmu. Di lapangan itu, kamu sangat asyik bermain sampai hinggaplah dua ekor burung di salah satu pohon di sana.” Bapak tua ini kemudian mengusap-usap buku bersampul hitam yang sudah usang, yang ada di pangkuannya. Sang anak hanya memandangi ayahnya, matanya menerawang, pikirannya seperti bersarang pada tumpukan memori masa kecilnya.

Perlahan, dengan tangan bergetar karena usianya, sang ayah membuka halaman demi halaman buku usang itu. Ia berhenti pada satu halaman dan tersenyum, “Di sini bapak tulis..

Dio anakku yang pintar semakin besar. Ini pertama kalinya ia melihat burung jenis itu. Dia bertanya padaku di lapangan. “Pak, itu apa?” Dio menunjuk kedua burung itu, bertanya dengan cadel lucunya, khas anak batita. Ku jawab, “Itu burung, Nak.” Dia terdiam, seakan mengingat-ingat.

“Pak, itu apa?” Ditunjuk hal yang sama.
“Itu burung, Nak.” Ku jawab, lalu ia terdiam kembali.
“Pak, itu apa?”
“Itu burung, Nak.”
“Pak, itu apa?”
“Itu burung, Nak.” Dio terdiam lagi. Ku amati cara dia memasukkan kata burung ke dalam ingatannya dan memadankan dengan burung yang sesungguhnya.
“Pak, itu burung ya?” 
Aku tersenyum dan aku usap kepalanya, “Dio pintar, betul itu burung.”
Hari ini, Dio sudah belajar mengenal burung secara langsung.

Yogyakarta, Maret 1980.”

Ditutupnya buku itu, dan pandangannya beralih ke arah dua burung yang berdiam di pohon depan rumahnya.

“Bapak tidak pernah marah ketika kamu bertanya berkali-kali tentang segala sesuatu. Bapak tetap tersenyum menanggapi pertanyaanmu.. Meski berulang-ulang, bapak tidak keberatan..” Bapak tua itu kemudian melepas kacamatanya yang mulai berembun, “Maafkan bapak yang sudah pikun ini, tadi bapak hanya bertanya dimana kacamata bapak, kenapa kamu memarahi bapak?”

Dio langsung bersimpuh di bawah kaki ayahnya, menangis tersedu-sedu sambil memegangi lutut sang ayah.

“Pak, maafkan Dio…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s