Ketika kau terlalu melihat yang tak terlihat,
tapi di dekatmu ada yang dengan sungguh melihatmu.
Sungguh, orang yang di dekatmu menetapkan kamu sebagai mimpinya.

Ia selalu melihatmu saat kau melihat yang lain, ia selalu memperhatikanmu saat kau memperhatikan yang lain. Kau setia dengannya. Begitu pun yang berada di sampingmu, setia kepadamu.

Mencari yang terbaik itu mudah. Semisal yang selalu kau lihat itu, semisal yang kau tetapkan sebagai mimpimu itu. Tapi, hargailah ketika di sampingmu ada seseorang yang dengan baik ingin menjadi baik… untukmu.

Panji Ramdana

Barisan kata di atas menggambarkan kami.

Dulu, aku berpindah dari satu pria ke pria lainnya, tanpa sebelumnya melihat pria yang selalu ada di setiap hariku. Aku sibuk mencari tapi tak sadar diri kalau ada pria di sampingku yang selalu menungguku, selalu memperhatikanku, selalu merindukanku.

Aku merasa spesial karena pria ini melihatku disaat mereka belum, pria ini memperhatikan aku disaat aku belum menyadari kehadirannya. Pria ini melihatku sebagai seutuhnya aku, mengenaliku melebihi aku mengenal diriku sendiri.

“Aku melihat orang bukan dari masa lalunya, tapi dari keinginannya berubah dan perubahan yang dibuatnya.” ujarku ketika terlibat perbincangan serius dengannya, beberapa waktu setelah kami memutuskan bersama. Memang betul, pria ini baik dan dengan baik ingin menjadi baik. Dan lebih baiknya lagi, ia ingin menjadi baik bukan hanya untukku, tapi juga untuknya.

Pria ini tahu betul apa yang diinginkannya, apa yang dirasakannya. Dan aku merasa beruntung ketika tahu akulah satu-satunya yang diinginkan pria ini. Belum pernah aku merasa seberuntung ini, mendapatkan kasih sayang setulus ini, merasakan cinta kasih yang sedalam ini. Aku menyayangi pria ini, yang lebih senang melihatku apa adanya, yang memperhatikanku meski ia tahu aku belum menoleh kepadanya, yang menyayangiku dengan segala yang ia punya.

IMG_3996.JPG

Advertisements

 

Waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi hari, matahari mengikutiku dari belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

-Sapardi Djoko Damono-

untukmu yang memperjuangkanku

Sekeras-kerasnya hatiku adalah menjadi lembut karenamu yang telah melafalkan namaku di dalam setiap doamu.
Terimakasih karena telah meluangkan waktu berhargamu untukku.
Kau mendekatiku dengan cara yang baik, dengan cara yang berbeda dengan lainnya.
Kau mengejarku dengan anggun dan gagah berani, bukan terus selalu menggodaku di sepanjang waktu.
Melainkan dengan benar kau mendekati siapa Yang Telah Menciptakan kita,
kau meminta dengan tutur kata yang setulusnya.
Itulah mengapa aku menjadi bangga menjadi aku yang kamu pilih.

Keluarga100

Stase bedah week 1 adalah selo (literally). Isinya cuma biko, minimarket, biko, kantin, biko, mushola, biko, pulang. ;) Karena selo banget, dek koas yang ngga bisa diem akhirnya download Telegram karena ada fitur gamesnya.

Jadi, bikin grup terus invite robot gamesnya. Ada banyak pilihan games, ada SambungKata, UNO, Family100, Warewolf dan banyak lagi. Kami (24 dek koas) sampai bikin 2 grup, 1 buat Family100, 1 lagi buat Warewolf (WW). Seru banget, semua anak langsung diem megang ponsel dan berlomba-lomba untuk jadi pemenang. Mungkin kalau kami mainan Telegram sejak di stase radiologi, adminnya (Mbak Dian) bakalan seneng dan nilai kondite kami bagus, soalnya ngga ada yang ribut kalau lagi pada main. Literally diem semua suer. Soalnya main game Family100 butuh kecepatan dan ketepatan mengetik, cepet-cepetan gitu. Kalau yang WW harus super diem karena peraturan dari kami sih, jadi semua harus didiskusikan di grup, ngga ada yang boleh ngomong.

Entah karena masih baru atau emang seru, jadinya gamesnya dimainin mulu. Dan bahkan saking addictednya sampai bangun tidur juga udah pada main. Parah banget, bikin ponsel cepet panas dan habis baterai, ya gimana engga, sekali pada main notifnya bisa ribuan :))

IMG_4167.PNG

See? :)

By the way tulisan ini ngga disponsorin Telegram ya, ini cuma share aja (habis ini pasti dek koas lain pada pingin main juga hahaha). Maafin banget ngga penting banget blog post ini (emang biasanya penting? wkwk), cuma seneng aja gitu sama Keluarga Besar 15105-15106 bisa kompak gitu. Ya ini urusan games sih, gimana ngga kompak, tapi rasanya beda. Udah lebih dari setahun kami koas bareng, tapi baru ini aja rasanya kaya nempel, bersatu, dan super asik semua. :’)

Gambar di atas diambil waktu pada asyik main. Meskipun asiknya terasa via ponsel, tapi semoga bisa terjalin sampai ke hati ya :* Maaf banget ngga bagus kualitas gambarnya, maklum cuma di ruang koas (uhuk, minta fasilitas, uhuk).

What’s better than being loved by someone who sees the beauty in you, no matter how ugly you think you are, whenever you look yourself in the mirror?
What’s better than falling in love with someone who loves you no matter what you do, no matter what you’ve done in the past?
What’s better than being loved by someone who leads you to the right path, back to the right track, back to Allaah?
What’s better than falling in love with someone who gives you his all, who dares to lose everything for you?
What’s better than falling in love with Yudhanto Utomo and being loved by him fully and deeply and seriously?

IMG_4007

He is the best boyfriend I could ever ask. Alhamdulillaah.

Our Problem

As we all know, nowadays, we have free access to watch TV shows or social media posts about violations, including traumatic events. It is a strange phenomenon for me that many people are enjoying those shows/posts, and many people are providing those news to be consumed not only by the adults but also the teenagers and all, and the children have the free access to watch those violent posts whenever they want, and their parents allow them to watch those, and SEVEN BILLIONS people in the world don’t seem to care about it and thought that it is okay and nothing bad will happen in the future.

But excuse me, those media news/posts of traumatic events traumatised me anyhow and at some point it hits the fear button in my head. Well, my father made the right call forbid me to watch those kinds of things back then when I was a child and I thanked him for that.

I am not qualified talking about psychology or somewhat, but I just wanted to show you how terrible this topic could bring in the future. As written in Association for Psychological Science about Repeated Exposure to Media Images of Traumatic Events May Be Harmful to Mental and Physical Health that it really is not okay to have a free access to those images of traumatic events. According to The Psychological Effects of Violent Media on Children, children playing violent video games can cause later aggressive behavioral problems. In retrospect studies have also shown a twelve percent increase in aggressive behavior after watching violent television as well. And also The American Psychological Association says there are three major effects of watching violence in the media (i.e.: video games/television) children may become less sensitive to the pain and suffering of others, children may be more fearful of the world around them, and children may be more likely to behave in aggressive or hurtful ways toward others.

Are you kidding? Will this world become a better place for living in the next 20 years to come? Can you imagine how awful and how terrible our world could be if the next generations of us become less sensitive to the pain and suffering of others and be more likely to behave in aggressive or hurtful ways toward others? Is this really the world you’re planning to live in for your elder time?

FullSizeRender 2

I don’t want to judge the young parents who allow their children to do anything as they like without thinking the consequences to their growth and development, their psychology, their mentality and the future. I don’t want to criticise how they raise and educate our next generations that built the anti-social character, chose to show off their mobile phones in the school, instead of their ranks or trophies, and still thinking that it is okay. I don’t want to blame the young parents who let their children free from the parental guidance. I don’t want to tell them what’s best for their children and how to educate their children, because hey I haven’t even married yet, I don’t feel what they feel.

I don’t have any suggestions for all of us to at least minimise the effects in the future. This is all that I could, writing it in the blog and hoping that someone with “the power” will spread the news and open a discussion that coming up with solutions of how big the problems that we’re dealing with right now and in the future. This one is freaking me out, guys. Don’t you?

photo

 

We Need a Cool Head and a Warm Heart

*lagi berantem tentang hal besar*
Me: *ngomel*
Mas: Ra masuk blas nesu-nesune. Ngisin-ngisini tenan. Pengen tak banting hp-ne.
Me: Jangan. Mahal..
___

*lagi berantem tentang hal kecil, intinya si mas kangen dan akunya nanggepinnya biasa aja terus jadi miskom gitu*
Mas: Ga bilang apa-apa trs kemana itu ngilang kan. Dah cuma itu.
Me: Yaaaa maafin yaaaa. Salah adeknya superngilang gitu. Untung mas belum sempat lapor polisi bikin surat kehilangan calon istri..
___

*lagi berantemin hal sama*
Me: Mas jangan marah-marah terus dooong ntar kumisnya tambah panjang loooh.
Mas: Kumisnya mas panjangnya kalo bulan purnama. Ga ada hubungannya sama marah-marah.
Me: Ngakak sih. Tambah cinta deh..
Mas: Cintanya kalo pas dimarahin doang ga
Me: Gaaa. Mas ga cinta ya sama adeknya ya :(
Mas: Mas cinta tp takut bertolak, takut ditinggal..
___

We’ve made an agreement that whenever we argue, we have to laugh when it gets too intense. We know that we will have so many things to argue about, to yell about, to blurt about. But we both know that we can not solve any problems without a cool head and a warm heart. So, we need to chill and remember that no matter what the problems are, it is because we want us to be better, we want us to stay together and we want us to last forever, it is because of the heart and we need to ask our heart about the solutions. Well not really, we need our brain and be smart about it, right? ;)

“every time you are able to find some humour in a difficult situation, you win.”