Watez Gemez

Halooo. Lagi week 2/10 stase gemes alias stase anak. Isinya bayi-bayi gembil nan gemes dan anak-anak lucu nan polos dan remaja-remaja puber nan labil.

IMG_1874

Kedapetan stase gemes ini di Wates 5 Minggu. Dan sekarang lagi jaga di NICU/PICU, litterally. Sebenernya jatah jagaku besok Jumat, tapi ini nemenin Linda sekalian manikom (uhuk).

Gemes banget sama debay-debay ini. Nangis-bobo-nangis-pupup-nangis-netek. Kadang ga kenapa-kenapa bisa nangis, baru digendong bentar langsung diem. Caper aja gitu. Ga ding, butuh kehangtan kali ya.. Dan butuh dekapan sang bunda.

Dari jaga ini hikmahnya adalah bisa mengukur diri, super jauh dari kata cocok jadi ibu. Boro-boro jadi ibu, gendong aja masih kaku, gedong bayi aja masih ina-inu, makein pampers aja masih kebalik gitu (suer, malu diketawain sama akper).

Udah gitu harus siap kebangun oleh tangisan debay. Ini cuma nyendokin ASI, besok kalau jadi ibu beneran kudu netekin sendiri (aamiin), yang sepertinya melelahkan..

Cuma bisa berdoa semoga jadi ibu yang kuat, yang ga kena baby blues syndrome (haha!), yang ga mewekan, yang ga menye-menye, dan semoga segala ke-drama-an hidup sirna begitu saja (Allaahuma aamiin).

Semangat Linda & Githa my super partners! Walau banyak yang dipelajarin, walau melek 24jam (even more), walau pengawasan ketat, walau badai menghadang, kita kudu kuat. Kuat jagain anak orang, biar besok kuat jagain anak sendiriūüíē

Advertisements

Kartini

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776

Menurut saya, Kartini adalah jiwa pemberontak yang terperangkap di dalam tubuh seorang putri bangsawan yang hidup di zaman diskriminasi gender yang kental. Hanya saja, jiwa pemberontak (rebel) Kartini ini memberi dampak positif pada perempuan-perempuan di era setelahnya, emansipasi.

Coba kalau ke-rebel-an Kartini tidak memberi dampak baik pada kaum perempuan di era sekarang, pasti dia hanya akan dicap sebagai remaja labil yang tidak dapat menjaga nama baik keluarganya.

Sekarang, ketika perempuan sudah mendapatkan kebebasannya, adalah keharusan bagi mereka (kita) untuk mengupayakan segala bentuk ke-rebel-an mereka agar menjadi suatu hal yang positif atau berdampak baik pada orang lain.

Sebelumnya perlu kita pahami, bahwa ke-rebel-an Kartini ini pun memiliki batasan, yaitu kodrat. Kartini tidak menanggalkan kodratnya sebagai perempuan, anak, istri. Kartini tidak melarikan diri ketika diminta menikah oleh ayahnya. Kartini tidak meminta cerai dari suaminya, bahkan sampai bisa mengandung anak suaminya. Intinya, meskipun rebel, Kartini tetap menjalankan tugas sesuai dengan kodratnya. Mari kita berkaca pada era 2000-an.

“Seorang suami melarang istrinya menjadi artis, sang istri menolak dan memilih untuk pisah ranjang.”

Ilustrasi di atas menggambarkan tentang ke-rebel-an yang tidak berdampak positif pada siapapun, kecuali memberi makan ego pribadi. Assalamualaikum, halo? Melepaskan tanggungjawab dan lari dari kodratnya sebagai istri-ibu, dan mengejar ketenaran dengan berdalih pencapaian cita-cita/meniti karir. Begitu disebut emansipasi wanita? Eman-sih.

Ngono yo ngono tur yo ojo ngono. Emansipasi ya emansipasi, tapi tetap dikembalikan lagi ke diri, sesuai dengan kodrat atau tidak. Toh yang diberontakkan Kartini adalah memiliki hak pendidikan yang sama dengan pria. Bukan segala hal harus sama dengan pria. Lha kalau semuanya sama antara pria dan wanita, terus tupoksinya pria apa dong? ;)

photo

Maybe if Narnia does exist, the trees won’t allow me to live there. Even the wind that blows won’t let the oxygen passes through my veins. And the water won’t let every cells in my body consume it.

Those thoughts you’ve just read maybe the effect of some issues in my mind. See you next (good mood) time!

21 April 2016

Habis gelap terbitlah terang. Hati sudah bungah terisi harap, kini susah terusak malang.

Kuat-kuat bertumpu bukan pada harapan. Cahaya padam karena keadaan.
Memanja di khayalan, terisak di kehidupan.

Lilin sembunyikan panjang sumbunya, entah kapan habis dipantik api. Hanya malam menjadikan yakin, bahwa harapan tersembunyi di dalamnya.
Isak dan tawa berbaur satu. Lelah memantik namun belum habis sumbu. Harap-harap selalu ditumpu.

Habis gelap terbitlah terang. Hati lelah namun tegap, memantik sumbu agar benderang.
Pejuang ia yang mantap. Pejuang ia yang berhenti ketika menang.

Selamat harimu, Kartini! Jangan lelah karena kecewa.

Random lagi ngomongin wayang via telpon.

Mas: kenapa namanya wayang?
Me: mm soalnya kalau Wayan itu nama kakak kelas kita.
Mas: kenapa namanya wayang?
Me: gatau ah.. *nadanya udah naik*
Mas: soalnya kalau sayang itu mas ke adek..

Ngakak sakkayahe.