Random Weekend Activities

Weekend ini super random dan bikin deg-degan tapi bikin super duper bahagia. Sore hari ketemuan sama Laras setelah 500 juta tahun ngga pernah ketemu (lebay). Cerita sana-sini, update info tentang kehidupan masing-masing, yang biasanya cuma lihat update-an dari snapchat atau instagram. Nyobain gelato di Myoozik Cafe, ada promo gitu beli 2 cone gelato dapet gratis 1 cup isi 2 scoops gelato. Yum!

IMG_7177.JPG
Super bahagia temu kangen sama manusia cantik ini. :”)

Habis itu terus jemput Reisha di Istana Kodok (kontrakan) buat ke Hotel @Hom Premium. Jadi, saudara-saudaranya Reisha lagi di Yogya gitu terus buka kamar hotel dan Reisha diminta tidur di hotel gitu. Alhasil upik abu ini (read: me) kecipratan seneng hehehe. Baru beberapa hari secara random mikir pingin tidur di kasur hotel terus sarapan di hotel, alhamdulillaah langsung diijabah Allaah :”)

Sekitar jam 11 malem gitu baru sampai hotel, ganti baju dan bersih-bersih. Tiba-tiba negara api menyerang…

“INNALILLAAHI TITIIIIN! Kesel banget lah ini, ada panggilan otopsi sekarang. Gimana doooong..” Reisha teriak-teriak. Doi lagi stase forensik gitu, jadi memang harus standby kalau ada otopsi sewaktu-waktu, ngga mau tau lagi ngapain, pokonya harus dateng dan batas maksimal 30 menit setelah panggilan. Gila.

Kemudian berangkatlah kami ke RSS (RS Sardjito) untuk otopsi. Permasalahannya adalah aku belum pernah sama sekali forensik, bahkan ngga ngerti sama sekali harus ngapain. Cuma inget sedikit dulu zaman S1 praktikum forensik.  Tapi tetep aja jobdesc-nya beda kan kalau udah koas. Super oon lah.

Waktu sampai di ruang koas forensik, temen-temen langsung heboh, “Titin sama siapa ke sini?”, “Titin ngapain sama Reisha sebenernya?”, “Titin emang lagi stase apa?”, “Titin besok week 1 forensik?”, “Titin udah selesai forensik?”, “Titin ngapain di sini?”, “Loh, Tin?”

Nah, awalnya aku disuruh buat ngekor Reisha, tapi karena doi lagi di sub-stase medicolegal, which is bakalan berurusan sama polisi (thanks, goodbye), akhirnya aku dititipin ke Ghana, Stella, dan Chessie. “Pokonya kamu ngikutin mereka aja, terus kamu bilang kalau kamu week 1 stase PF.” Gitu doang instruksi Reisha.

Terus si Ghana ngambilin segala keperluan di sub-stase PF dan sambil ngejelasin dikit what to do gitu. Nah, waktu itu ada 2 jenazah yang dateng. Terus semua koas forensik masuk buat otopsi, dengan sebelumnya yang sub-stase medicolegal udah tanya kronologis kejadian ke saksi dan keluarga korban.

“Week 1 UGM mana angkat tangan!” Kata residen forensik mengumpulkan koasnya. Nah, harusnya kan aku angkat tangan ya, tapi aku mikirnya si residen ngga akan perhatian sama aku, jadi aku pikir ngga perlu angkat tangan. Toh koasnya itu sekitar 30 orang. “Week 3 UGM angkat tangan!”, “Week 1 UMY mana?”. “Week 1 Trisakti angkat tangan!”

Sambil ngabsen gitu, beliau sambil membagi koas jadi 2 tim. Gladly Ghana, Stella dan Chessie jadi satu tim, akhirnya aku ngekor mereka aja, langsung masuk ke lingkaran tim mereka. “Lho, kamu week berapa?” Kata residennya sambil nunjuk aku. *meninggal* “Week 1 UGM, dok”, jawabku. Beliau menghitung atau mengingat ulang koasnya, “Tadi angkat tangan ndak kamu?”. Aku cuma bisa mematung, amazed by her memory.

“Angkat tangan kok, dok.” Jawab Stella menyelamatkan nyawaku, kalau doi ngga sigap mungkin jenazah yang diotopsi nambah satu lagi kali. “Stase apa kamu?” Tanya residennya ngga puas. Sigap, langsung aku jawab stase PF (yang bahkan aku masih berfikir PF itu adalah pemeriksaan fisik, padahal sebenernya adalah Patologi Forensik, lol). “PF? Lha mana kertasmu? Week 1 tidak boleh tidak bawa kertas!!” Kata residennya sambil agak marah. Aku langsung balik badan kebingungan. Thank God, ada Chessie yang langsung nyodorin kertas PF sama bolpoin punya dia. Langsung aku tunjukin ke residennya. Syukurlah langsung gerak buat kerja semua, ngga bikin masalah.

Moving on. Di tim kami, Ghana memimpin berdoa sebelum mulai otopsi. First time ever lihat jenazah, first time ever ikut otopsi di forensik (yang bahkan jadwal stase forensikku adalah akhir tahun ini), first time ever tau cara otopsi dan segala aktivitasnya, mencium bau jenazah yang udah lebih dari 24jam meninggal, lihat pembusukannya, dan sebagainya. “Tin, kamu jangan pingsan ya”. Bisik Stella waktu dia lihat aku cuma bisa mematung di tengah kesibukan semua koas.

Sub-stase PF ini kerjanya mencatat (untuk week 1, yang week 3 harusnya udah hafal) yang diomongin abduktor (pemimpin otopsi). Super detail, kaya: jenazah perempuan/laki-laki, menggunakan baju warna apa, motif apa, bahannya apa, merk apa, berlogo apa, ukuran apa, diperiksa dalam posisi terlentang atau gimana, dibungkus pakai apa, warna apa, berlogo apa, dan lain sebagainya.

Waktu itu aku baru nungguin Chessie yang lagi diskusi sama Ghana tentang perlukaan yang ada di tubuh jenazah. Tiba-tiba seorang perempuan datengin aku, sambil mepet gitu, “kamu week berapa?” Tanya sambil ngedeketin muka dia ke aku. “Ha? Week 1”. Aku jawab singkat. “Week 1 kok udah $@%#!*^”, dia nanya lagi, tapi suara dia ngga jelas.

Me: Ha?
Her: Week 1 kok udah nulis?
Me: Iya, aku PF
Her: Kok kamu nulis?
Me: Hah? PF bukannya emang nulis? (Super bloon, soalnya emang ngga ngerti jobdesc setiap sub-stase kan).
Her: Kok kamu masuk?
Me: Soalnya tadi disuruh masuk semua sama residennya.
Her: Kamu week berapa sih? Dari UGM bukan?
Me: Iya, week 1 UGM
Her: Kamu luar kotanya mana? Aku minggu depan ke Klaten. Kamu kemana?
Me: *ini apaan sih* Klaten juga.. eh ngg… lupa ding.. (ngga bisa ngeles dengan sigap) Eh, aku kesana dulu ya..

Aku langsung ngekor Chessie lagi. Super horror si mbak tadi. Soalnya kan di ruang otopsi semuanya pakai masker dan APD lengkap, jadi ngga bisa identifikasi wajah gitu. Waktu udah selesai otopsi, aku langsung kabur ke ruang koas. Di sana aku tanya sama anak-anak tentang mbak misterius tadi. Ternyata dia adalah week 1 juga, sekelompok sama Reisha tapi anak 2010. Jadi, wajar lah ya kalau dia bingung kenapa ada anak week 1 UGM (yang harusnya kelompok dia) tapi dia ngga kenal. Maybe.

Otopsi yang dimulai jam 00.20 akhirnya kelar sekitar jam 1.15, langsung tancap gas balik ke hotel. “Tapi bingung sih beb, soalnya logika aja deh forensik UGM tu semuanya di Klaten, dan PF itu week 1 emang nulis. Ah tau ah bingung juga”, oceh Reisha di mobil. Sampai di hotel, super ngga bisa tidur, ngobrol ngalor-ngidul dan baru bisa tidur jam 4 pagi (ha!). Terus sarapan jam 9 lebih soalnya baru bangun he he he e e.

FullSizeRender-4.jpg
Reisha, si Princess dari Istana Kodok

Super seneng, keinginan random (tidur dan sarapan di hotel) bisa terwujud dan dapat bonus nginepnya sama Reisha. Nginep di hotel yang berujung bisa ikut nyusup di stase forensik sebentar, alhamdulillaah wa syukurillaah :”)

Thank you Laras & Reisha, you girls made my day! Thank you Stella, Chessie, Ghana, and all for covering me! :”)

“Rei, I think the world should know that doctors and co-ass adalah orang-orang hebat ngga sih?”
Well? Ngga peduli rumahnya dimana, semalem/sepagi apapun itu, kalau ada pasien/jenazah ya harus langsung ke rumah sakit, harus sigap “ngumpulin nyawa” untuk menyelamatkan nyawa atau mengidentifikasi jenazah. Ngga peduli secapek apapun kita, ngga peduli sebanyak apapun masalah pribadi kita, ngga peduli itu hari apa (itu Malam Minggu, by the way), ngga peduli kita baru apa, tetep aja melayani pasien/korban adalah yang pertama.

Herannya, masih ada aja masyarakat yang berpikir buruk tentang dokter, menuntut ini-itu dari dokter. Kurang apa lagi sih pengorbanan dokter untuk bisa melayani masyarakat? Sekolahnya susah, lama, dan mahal.

Untuk jadi dokter itu menghabiskan  tenaga, masa muda, dan biaya.

Udah lulus juga masih belum bisa mapan, masih harus berjuang lagi melewati barier senioritas. Dengan tuntutan kerjaan luar biasa berat, tekanan dari senior, dari pasien, dari staff. Belum lagi dengan sistem kesehatan di Indoensia dinilai masih belum begitu baik. Tapi masih aja ada yang ngomongin dokter itu gini, dokter itu gitu. Nuntut harusnya dokter itu gini, dokter harusnya gitu. Ngga paham.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s