Yogyakarta (katanya) Kota Pelajar

tugu jogja

“Belajar dimana lagi nih kita?”

Pertanyaan tersering mahasiswa di Kota Pelajar. Biasanya ditambahi embel-embel:

  1. Koneksi internet cepat,
  2. Ada colokan (untuk charger laptop dan ponsel),
  3. Ber-AC,
  4. Buka 24 jam,
  5. Menjual snacks and drinks,
  6. Tidak remang-remang,
  7. Nyaman,
  8. No smoking area (atau sebaliknya),
  9. Murah (khas mahasiswa).

Tapi, yang namanya hidup, ngga ada yang sempurna. You can have it all, but you can’t have it all in once. Belum ada tempat yang menyediakan fasilitas selengkap keinginan mahasiswa di atas, baik dari wiraswasta maupun dari pemerintah kota.

Lucu ngga sih? Katanya Kota Pelajar tapi tempat-tempat baru di Yogyakarta adalah apartemen, hotel dan mall? Atau cafe remang-remang, yang bahkan harga es teh manisnya aja ±Rp. 20.000,-? Belum lagi kalau kelaparan, harga mie instan aja bisa ±Rp. 30.000,- sendiri, belum termasuk pajak. Setiap bulan selalu ada episode “Fifty K of cry” (read: episode mengeluarkan uang 50k untuk belajar di luar). Fasilitas yang disediakan kampus/sekolah (perpustakaan, internet gratis, dsb) pun dinilai kurang mendukung semangat belajar mahasiswa/pelajar. Perpustakaan Kota saja buka hanya hingga pukul 11 malam, kalah dengan minimarket yang buka 24 jam dan pegawainya masih ramah meskipun sudah tengah malam, “selamat datang di ……maret, selamat belanja.”

Karena di Yogyakarta fasilitas untuk belajar kurang memadahi (poin 1-9 di atas), akhirnya mahasiswa/pelajar banyak yang ke cafe-cafe untuk mengerjakan tugas/belajar. Mereka rela mengeluarkan uang untuk secangkir kopi seharga ±50k supaya bisa duduk dan mengerjakan tugas/belajar di tempat tersebut, dan hampir setiap hari.

Yogyakarta Kota Pelajar, tapi mahasiswa/pelajarnya sering kebingungan mencari tempat belajar.

Tidakkah hal ini mencuri perhatian pemerintah kota? Apakah Kota Pelajar sebentar lagi akan tinggal kenangan? Kalau saja pemerintah kota sensitif terhadap isu ini, mungkin uang yang dikeluarkan mahasiswa/pelajar tidak lagi tersedot ke cafe-cafe, tapi terfokus pada hal-hal yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan mereka. Mungkin akan menambah semangat dan keinginan belajar mereka. Dan mungkin akan mengubah trend foto di social media dari “foto makanan” jadi ” foto buku pelajaran”.

Saya, Chandra, dan Aristo pernah mendiskusikan tentang hal ini. Kemudian kami berkhayal untuk bisa mengelola usaha One Stop Study. Usaha ini adalah jawaban dari setiap jeritan dompet dan tangki bensin mahasiswa/pelajar di Yogyakarta. Tempat yang menyediakan fasilitas belajar, yang lengkap dengan:

  1. Reading Room
    Dalam bentuk reader box/individu, ataupun reading table/2-10 orang, reading only. Tempat ini didesain khusus untuk membaca, mulai dari ketenangan, pencahayaan, hingga kursi dan meja yang ergonomis dan nyaman untuk belajar.
  2. Discussion/Meeting Room
    Dalam bentuk ruangan yang bisa digunakan 3-15 orang untuk diskusi/presentasi. Dilengkapi dengan fasilitas LCD-Projector, dan desain ruang kedap suara.
  3. Browsing Room
    Menyediakan beberapa unit laptop/komputer, yang juga termasuk fasilitas print and copy.
  4. Library
    Yang menyediakan fasilitas sewa buku.
  5. Cafetaria
    “Tidak ada logika kalau tidak ada logistik.”
    Yang menyediakan snacks hingga main course dan beberapa variasi beverages, tentunya yang sehat dan bergizi.
  6. Prayer Room
    Yang didesain khusus, bukan hanya menggunakan space sisa.
  7. Rest Room
    Yang nyaman dan bersih.

One Stop Study harapannya bisa melayani mahasiswa/pelajar 24/7 non-stop, dengan mencakup poin harapan mahasiswa (1-9 di atas). Sehingga mahasiswa/pelajar tidak kebingungan lagi untuk mencari tempat belajar. Pegawai di One Stop Study ini juga tidak boleh kalah dengan pegawai minimarket, “selamat datang di One Stop Study, selamat belajar.” Tapi, konsep One Stop Study di atas masih berada di alam pikiran kami, belum bisa terealisasi karena kendala dana (duh).

Please don’ get me wrong, I’m not talking about business here, the concept I wrote the above is just an example of a facility the government should provide. It is just making me sad that we (students) do not get the adequate facilities to do our activities, that we spend our time thinking about places we’re heading next, that we spend our money to those pricy cafes just to sit and do our things. Ask yourself, it’s true, isn’t it? That Yogyakarta needs more places like the above (One Stop Study). Well, maybe not all of the points can be fulfilled at once, but hey.

The students need that place. Where they can freely study and browse some references. Where they can safely do their homework without getting any exposure of negativity outside there (you-know-what). Where they can spend their time without spending a lot of money. Where they can find one place to go whenever they need to discuss about something, to share, to connect, and to learn something new. Where they can save their energy, money, time, and fuels because they can do all of their activities in one place only.

Right? ;)

and in the end, Yogyakarta (katanya tetaplah) Kota Pelajar..

photo source

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s