The Rebellion

Kalau baru kenalan sama Titin, mungkin kalian ngga akan nyangka kalau Titin zaman dulu adalah anak badung yang cuma bikin kepala semua orang nyut-nyutan. Naudzubillah setan nakalnya. Aku sendiri malu kalau reunian sama teman-teman TK-SD, soalnya mereka pasti akan me-recall semua kejadian yang terjadi zaman dulu. And it’s always talking about my naughtiness. Duh. Nakalnya ngga umum. Pemberontak dan petualang sejati (bahkan ini diakui oleh dr. Tolkha -___-).

Zaman SD sih yang nakalnya masih melekat kuat di ingatanku. Ke sekolah cuma buat berantem, buat adu jotos, buat adu mulut. But I did it because I had a strong reason, to fight for someone who can not fight for themselves. Kalau ada temen yang teraniaya, selalu aku bela. Ceritanya jadi pahlawan pembela kaum lemah tak bersalah gitu.

Ngga akan ada asap kalau ngga ada api. I won’t mess with you, if you’re not crossing my territory.

Selain ngga bisa ngelihat orang lemah tak bersalah terdzolimi, ngga bisa lihat sahabat atau teman dekat disakiti, aku juga ngga bisa banget kalau diperlakukan secara ngga adil. Well, I think that’s human, who doesn’t? But I’ll show the different reaction to that particular person, than other human. Mungkin orang lain akan memilih untuk mengambil sisi baiknya, atau menerima alakadarnya, berdoa pada Tuhannya, bercerita kepada temannya, tanpa melakukan apa-apa. And that is just not me. I’ll strike, I’ll fight, I’ll do anything to get the equity, the justice. *proud*

Jiwa rebel yang sudah tertanam di dalam jiwa itu ngga bisa hilang gitu aja, meskipun udah berulang kali diwejang Papi dan Mami, meskipun aku tau pasti hal ini cuma menghasilkan banyak rugi dan bikin dibenci. But I just can’t get rid of it. Because it pumped through my blood vessels, from my heart to my nerves, it flows to every cells in my body. It’s in me. And it’s dormant until it’s awaken. It can only be controlled, and not be destroyed. It can only be diverted, and not be concealed. Jadi, ngga heran kalau di koas ini kadang aku ngga bisa anteng kalau diperlakukan ngga adil.

If I know that I’m walking on the right path, doing the right thing, then I’ll fight till the very last drop of my blood. #sokiyes

Fire-awareness-fire-marshal-training1.jpg

Merasa diperlakukan ngga adil ini terusik waktu Stase Mata, awal tahun lalu..

Waktu itu, kami baru balik dari stase luar kota, which means saat itu kami masuk week 4 (jadi kakak minggu tertua). Aturan ngga tertulisnya adalah week 4 udah harus persiapan ujian, jadi harus belajar dan recall-recall materi selama 3 minggu di Mata. Dan juga memberi kesempatan sama adik minggu (week 1-3) berjaga di poli untuk melihat kasus sebanyak-banyaknya.

Di Poli Mata ini ada 12 sub-poli, salah satunya adalah visus. Bagian visus (ketajaman pengelihatan) ini adalah garda terdepan dari semua poli, dan (to be honest) it’s boring. Karena kerjaannya gitu-gitu aja dan ngga bisa lihat kasus secara utuh. Cuma nunjuk-nunjuk huruf di Snellen Chart yang terus dibaca sama pasien. Kalau udah jadi kakak minggu, tugas jaga di bagian visus ini diserahkan ke adik minggu.

Nah, ketika kami balik dari stase luar kota, adik minggu kami adalah angkatan 2009, which is our senior, since kami angkatan 2011. Mereka adalah week 2 dan kami week 4. Mulai terjadi konflik ketika Hari Senin, Mas Irfan (perawat poli) masuk ke ruang koas, “siapa yang jaga visus? Pasiennya udah banyak.” Kemudian adik minggu yang adalah kakak angkatan kami, melemparkan tugas itu kepada kami. Hell-o? Awalnya kami nurut, tapi hal ini terjadi lagi di Hari Selasa dan Rabu. Padahal waktu Hari Senin, salah satu anggota kelompok kami udah meminta Chief kelompok 2009 untuk membagi rata tugas jaga di visus. Tapi nihil sampai Hari Rabu. Bahkan mereka nowhere to be found, neither in every poli, nor in coass room. What?! Well, I still could find one or two of them sih.

Puncaknya adalah ketika Hari Kamis, Mas Irfan masuk lagi ke ruang jaga koas sambil agak marah, “Mana koasnya? Jaga visus.” Mas Irfan yang biasanya langsung pergi setelah menyelesaikan kalimatnya, hari itu ngga seperti biasanya. Karena ditungguin, kelompok 2009 ini langsung menoleh ke arah kami sambil ngomong, “dek yang jaga visus dek..”

Karena ngga ada yang berdiri akhirnya aku, Nisa dan Mila berdiri untuk jaga visus. Sementara 2009 (sebagian) di ruang jaga koas, dan (sebagian lain) belum hadir, dan (satu/dua orang) di poli. Di tengah jalan menuju ke bagian visus, aku menarik benang merah dari rentetan kejadian ini.

“…Harusnya adik minggu itu pengertian sama kakak minggu yang mau ujian, harusnya adik minggu itu bersyukur dikasih kesempatan sama kakak minggu untuk berjaga lebih banyak di poli, harusnya adik minggu itu menjalankan tugasnya sebagai adik minggu untuk jaga visus, harusnya angkatan 2009 itu mengayomi angkatan 2011 selayaknya kakak ke adiknya…”

THAT’S IT! That’s enough!

Terpantik sudah alarm ketidakadilan di dalam jiwa raga. Akhirnya saya meminta Mas Irfan untuk memberi keringanan kepada week 4, since Jumat pagi (which was the next day) kami ujian stase mata. Ternyata, Mas Irfan mendukung kami, “nanti aku panggilnya chief 2009, kalian belajar aja. Lagi pula mereka itu ngga pernah ada di poli. Saya jarang melihat wajah-wajah mereka.”

What else can I do? That’s my capacity after all. Aku melakukan hal yang benar, karena memang begitu, week 2 seharusnya berjaga di poli lebih banyak dari week 4. And the days before kami sudah berusaha mendiskusikan dengan chief 2009 dan beberapa orang di kelompok itu untuk bergantian jaga, tapi hasilnya nihil, selalu kami yang jaga.

Beberapa menit setelah perbincangan dengan Mas Irfan, tiba-tiba 2009 yang lain pada keluar dari sarangnya. “Sini gantian, kalian mau belajar kan?” CIADOO. Langsung deh pada gercep kalau udah disentil. Datanglah seorang wanita berhijab, “Dek, kamu ya tadi yang ngomong ke Mas Irfan?” Jeng jeng jeng.

Doi ternyata adalah Chief 2009. Terus doi memaparkan alasan kenapa selama ini doi dan beberapa temannya ngga ada di ruang jaga koas, katanya habis mengurus luar kota. Assalamualaikum? Ngurus luar kota cuma butuh 15-20 menit, dan ngga butuh semua orang buat ngurusin. Kami aja ngurusin kepergian ke luar kota di waktu mepet istirahat, ngga ngeganggu jam poli. Pun kalau kami ngurusin ke luar kota, yang jaga di poli tetep ada, ngga nongkrong di ruang jaga koas. Dan mereka ngga jaga visusnya dari hari Senin, by the way. Masa ngurusin luar kota dari Hari Senin sampai Kamis ngga kelar-kelar? Ew. (Intinya I was being sceptical to whatever their reasons are). Kemudian kami kembali ke sarang koas. Ternyata di sana masih ada beberapa anak 2009, termasuk salah satunya si (sebut saja) Matahari.

“Hey X (memanggil salah satu anak 2009), kalau orang Batak ngga seneng sama orang, pasti langsung didatengin, digebukin. Ngga ada yang namanya main belakang, wadulan, ngadu ke orang. Ngga gentle itu namanya. Ya ngga?” Ucap Matahari keras-keras.

Si Matahari ini mengulang-ulang kata “wadulan, ngadu” tapi digandeng dengan kalimat yang berbeda-beda. Super kreatif!

“Heh, Y, kamu kok baru dateng e? Kamu udah terlambat berapa menit ini? Hati-hati nanti kamu diwadulin ke perawat lho.”

Terpantik lagi, aku bales, “Eh, S (I called my friend), kita besok jadi ujian pagi ngga sih? Harusnya kalau besok ujian, kita udah ngga jaga visus ngga sih? Harusnya adik minggu ngga sih yang jaga visus?” I said, almost yelled.

Waktu aku ngomong begitu, si Matahari ini terdiam, seolah ingin mendengarkan balasanku. “If it’s going to be war, so be it.” I said to Kamilah. She calmed me down, “Diemin aja, Tin, ntaran juga mereka capek sendiri.”

The end of that day, we met Mas Irfan in the elevator, and he told us that he would make the rules clear and would give an extra eyes to 2009, learning from what they did to us.

But turned out those 2009 group told the other group that the trouble maker was US, especially ME, and they said it clearly. The rumour spreads quickly. And it triggers me to write down what was actually happen. :)

Kehidupan koas itu berat dan keras. It’s a battle of cry. Knowing that, seharusnya setiap kelompok koas itu sadar diri, paham posisi dan saling toleransi ke kelompok koas lainnya. Jangan seenaknya sendiri dan bikin yang lain merugi. Seharusnya bisa gotong royong dan membuat atmosfer jaga jadi lebih enak. Toh intinya di sini semuanya sama, ingin cari ilmu bersama, ingin bisa. Terlepas dari tingkat ke-manikom-an setiap individu/kelompok, terlepas dari ke-senior-an angkatan, seharusnya sesama koas itu tidak saling mendahului.

Aku melakukan segala sesuatu bukan tanpa alasan. Ngga akan ada asap kalau ngga ada api. And now the rumours spread that it was me making the rules strict and the atmosphere in the Eye Department become tense.

Blame it to the people how sets fire that causing the smoke to fly.

Baik-baik ya, dek koas. Jangan merugikan kelompok koas yang lain, semales apapun kalian di stase itu. Dan kalau aturannya jadi strict, ya refleksi diri dong, ask yourself WHY.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s