THT-KL di Purworejo

Stase Telinga, Hidung, Tenggorok-Kepala Leher (THT-KL) udah selesai Jumat lalu. Stase ini (katanya) lumayan selo. Sebenernya mungkin karena gap antara konsulen-residen-koas bisa dibilang sangat minimal (kalau dibandingkan sama stase lainnya, terutama stase besar). Jadi itu yang bikin atmosfer belajar jadi enak dan asik dan selo.

Di THT ini akhirnya bisa dapat jatah stase luar kota di selain Klaten (hahaha!), dapatnya di Purworejo. For the first time in forever lah ini ke RSUD lain, merasakan atmosfer yang lain, berpartner sama koas dari UMY. And turned out, it was cool! Seru banget! Konsulennya juga super duper kocak, ngajarin banget, dan sukanya ceramah tentang kehidupan dan akhirat. :”)

IMG_6795.JPG

Di Purworejo bareng sama Linda, Githa, Billa. And together we formed a crazy group: LGBT :p Kalau sama mereka isinya cuma makan sama ketawa sama nggosip. Baru sarapan udah mikirin makan siang. Baru antri beli makan siang udah mikirin makan malam. Dan begitu terus sampai pulang ke Yogya. Secapek apapun dari poli, kalau masuk kamar kosan selalu ngakak. Ada aja yang dibicarain dan diketawain. Ada aja yang digosipin. Dan mereka sangat sweet, selalu menjagaku,

“Ayo kita pesen makan, keburu Titin kelaparan.”
“Titin harus minum air putih hari ini. Paling ngga sampai tanda yang ini (nunjuk).”
“Tin kamu belum makan malem lho, sana dimakan dulu, nanti maag mu kambuh.”
“Jangan dikasihin Titin ah makanan ini, kayanya udah ngga bagus deh. Nanti dia sakit lagi.”

Uber schweet ga si :”)

Waktu di sana, residen yang ke Purworejo juga adalah dr. Suwardi. Super koplak dokternya, ngga paham. Koas UMY-nya ada Kak Nurul dan Kak Sigit. Sebenernya mereka satu angkatan sama kami, tapi karena mereka adalah kakak minggu kami (udah duluan di stase THT Purworejo), jadi kami panggil kak aja. Besides, they look mature. HAHA ampun kak! :p

Konsulennya adalah dr. Tolkha. Beliau suka ngasih wejangan yang menyentuh hati, dari berbagai aspek kehidupan. Mulai dari agama hingga asmara. Mulai dari mantan hingga manten. Mulai dari tawa hingga duka. Semuanya.

“Tenang, jangan takut, jangan khawatir.”

Begitu beliau selalu mengingatkan. Mungkin guratan cemas selalu tampak jelas di wajah kami. Tapi bisa jadi juga parasimpatis beliau memang lebih kuat daripada kami :p

“Berlatihlah melihat sisi yang berbeda.”

Manusia pasti pernah merasa dirugikan oleh manusia lainnya, merasa tersakiti, terdzolimi, direndahkan dan lain sebagainya. Tapi beliau mengajarkan kami untuk melihat dari sisi yang berbeda. Kalau kita melihat negatifnya, ya akan terlihat negatif. Dan begitu juga berlaku untuk sebaliknya. Hal ini memang menulisnya mudah, dan prakteknya naudzubillah susah. Tapi, kalau dicoba pelan-pelan nanti lama-lama bisa sendiri. Melihat kehidupan dari segi yang berbeda, segi yang lebih positif dan berwarna, tentunya. :)

“Kalau sudah berpasangan, kalau sudah cinta, itu tidak lagi melihat banyaknya perbedaan, tapi melihat satu alasan untuk saling mempertahankan.”

Diingat kembali alasan kenapa dulu kita memilih dia sebagai pasangan kita. “Kalau cuma karena cantik, nanti melihat yang lebih cantik, jadi kepincut.. Tapi, kalau kita niatkan untuk ibadah, untuk saling menyayangi dan menghargai, insya Allaah godaan seperti apapun ngga akan bisa menggoyahkan cinta kita kepada pasangan.”

Hari terakhir di Purworejo, aku ikut jadwal operasi beliau dan dilanjutkan dengan visite bangsal. Di tengah jalan menuju Bangsal Cendana, aku nyeletuk ke Linda (setelah melihat belokan ke koperasi), “Lind, nasi tongkolnya enak ya…” Ternyata dr. Tolkha denger. Beliau yang jalan di depan kami langsung ngerem mendadak dan berbalik, “Opo, piye?”

“Eh, ngga dok. Nasi tongkolnya koperasi enak hehehe.” Terlalu polos ngga sih Titin. Dan beliau langsung banting stir, belok kiri ke koperasi. “Kalau begitu, mari kita lihat keberuntungan kamu, apakah masih ada tongkolnya jam segini.” Buset. Ternyata masih ada! HAHAHA. Kemudian beliau membelikan kami nasi tongkol, yang berujung dimakan bersama di ruangan selepas poli.

Sebelum berpamitan, kami minta tandatangan dan nilai dari beliau. Mata kami langsung berbinar terang waktu lihat beliau ngasih nilai 95 di logbook. Sembilan puluh lima! Gila kali. For the first time in forever banget ada konsulen ngasih nilai 95 (well, at least for me).

“Saya ngasih nilai bagus itu ngga ada ruginya buat saya. Toh murid saya juga senang kan? Kalau senang, saya pasti didoakan yang baik-baik. Siapa tau nanti yang membuat saya masuk Surga ya karena ngasih nilai bagus begini. Urusan kompetensi, biar alam yang menyeleksi.”

FullSizeRender-4.jpg

IMG_6836

Terima kasih, dr. Tolkha, Bu Asih, dr. Suwardi, Kak Nurul, Kak Sigit, Purworejo. And the last but not least, Thank you LGBT! :”)

Advertisements

Pertahankan dan Perjuangkan

Dia yang

setia menunggu rutinitas dan kesibukanku tanpa pernah mengeluhkan sedetikpun akan hal itu,
mendengarkan setiap ceritaku dengan menatap lurus kepadaku tanpa mengalihkan pandangan meski sedetik,
menghargai perbedaan di antara kami berdua namun tidak pernah memperdebatkannya,
tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar di depanku ataupun kepadaku,
tidak pernah memintaku untuk berubah, dan menerima segala buruk dan busukku,
selalu mengapresiasi setiap karyaku,
selalu mendorongku untuk menghasilkan lebih, yang mendukung maju aktivitas dan duniaku,
menghargai pendapatku, meski tidak sependapat dia tidak berusaha mendebatku,
menghormati segala keputusanku,
selalu merindukanku,
bisa menahan emosi negatifnya karena takut kehilanganku,
selalu, “sebentar ya, mas baca chat dulu” setiap ada pesan masuk ketika kami sedang bertemu,
tidak malu membelikan pembalut untukku,
bisa memaklumi setiap kali aku tertidur saat dia akan/sedang menelepon,
memahami kalau aku punya banyak sahabat pria,
selalu berusaha menjaga perasaanku, baik dengan perkataan maupun perbuatan,
selalu berusaha menuruti kemauanku tapi juga bisa mengatakan tidak dengan tegas kepadaku,
tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain tapi juga tidak merasa lebih rendah dari orang lain,
memahami aku,
menyayangi keluargaku sama besar seperti dia menyayangi keluarganya sendiri,
berusaha memenuhi semua yang diharapkan ayahku,
lupa lelah dan kantuknya ketika bertemu denganku, dan selalu menyunggingkan senyum lebar saat menyambutku,
memintaku dengan cara yang berbeda,

“muluk-muluk nggak, seorang Yudhanto menginginkan Agustina?”

adalah dia yang pantas untuk aku pertahankan dan perjuangkan.

Semester 1

“Dek, ga kerasa ya udah mau satu semester aja asmara kita, kasih sayang kita.”

Kata orang, kalau udah berhasil melalui KKN tanpa cinlok, dan masih bertahan sama pasangannya, itu berarti hubungannya udah kuat. Karena baru aku yang udah KKN, berarti aku yang udah lulus ujian semester gasal (November-Desember 2015). Tinggal dianya aja gimana nanti ujian semester genapnya, KKN periode Februari 2016.

“Kalau udah saling tau kita sama-sama pingin bareng, tapi terus memilih mendua, berarti kebangetan.”

Sama aja kaya masa kuliah S1, semester 1 ya untuk orientasi dan adaptasi. Masih seneng-senengnya, masih banyak kepinginannya, masih semangat “ubyang-ubyung“, masih seneng bikin janji-janji untuk masa depan yang lebih indah, tapi juga banyak belum taunya, masih banyak salah pahamnya, masih belum ngerti “slah-slahan“nya, masih sering konsultasi ke senior tentang ini-itu.

Semester 1 itu dibilang berat juga engga, dibilang ringan juga engga. Pikirannya masih seneng-seneng, unyu-unyuan, ga mau mikir jauh-jauh. Apa yang ada di depan dihadapi dulu. Apa yang belum pas satu sama lain dipas-pas-in dulu. Namanya juga adaptasi dan orientasi. ;)

FullSizeRender-2

Me : Mas, sebenernya kita genap satu semester tanggal berapa sih?
Mas : Kemarin.
Me : Sumpah?
Mas : Iya. Tapi kemarin malah cekcok. Terus aku mbatin, ‘iki mesti lali bocah e..’
Me : Sumpah? Lho bukannya awal bulan ya itu?
Mas : Pret. Orang itu aja mas (nembak) malah diajak TTM-an sama adek.
Me : Masa sih? Hahahahahaahahahaha.
Mas : Bahkan mas masih inget tanggal mas nyusulin adek ke Klaten, 150615. Tanggal cantik lho itu.
Me : Sumpah? Hahahaha, yaudah kita jadiin tanggal jadian aja yuk!
Mas : Emooh.
Me : *masih ngakak*

I forgot all of the dates of our moments, but he’s fine with it. I’m so so so so very sorry. :( But I still remember the moments though! #pembelaan

Satu semester ini ngga akan berjalan kaya gini kalau ngga ada rasa sayang dan sabar. I admire his patience of taking care of me, of handling my anger, of controlling my mood swing, of following my tempo, of my jealousy, of my childish wishes, and all. I just can’t thank him enough. We can’t make it this far if he’s not THIS patient, I believe.

Semoga kami bisa lulus ujian semesteran ke depan dan seterusnya, sampai diwisuda. Allahuma aamiin. :”)

Sahabat Nyeni

FullSizeRender 5

Kenal pertama sama Komang waktu PPSMB 2011, sekelompok. Pertama kali nyambung sama Komang ya ngobrolin tentang teater dan segala macam pementasan. Doi cerita tentang proses latihan dan pementasan di Bali, yang belum pernah ku alami selama berproses di Yogyakarta. Segala totalitas tanpa batas, persiapan yang matang, penjiwaan naskah, dan lain sebagainya.

Langsung membara dalam jiwa, “Harus bisa berproses sama orang ini.”

Komang orangnya koplak banget, ngga umum. Nekat tapi tau aturan, membela yang lemah tak bersalah. Orang paling nyeni yang pernah ada di FK UGM yang aku kenal.

Hmm, doi tenar duluan di FK (hahaha). Orangnya supel dan unik sih, jadi mudah diingat dan dikenal banyak orang. Begitu masuk FK langsung mengobrak-abrik divisi minat bakat, membuat pementasan yang belum pernah ada jenisnya di FK (agak lebay sih ini, tapi emmm emang bener sih. duh gimana ya? Hahaha). Dan kemudian doi kebanjiran orderan, setiap acara kesenian selalu Komang yang megang. Akhirnya bisa satu wadah sama Komang untuk pentas dan menggarap pementasan bareng.

Seru banget bisa bertukar ide sama orang yang sefrekuensi, sekali ngomong langsung ngerti mau digimanain pentas ini nanti. Ngga usah menjelaskan panjang-lebar, udah ngerti naskahnya mau diarahkan kemana, panggungnya dibikin gimana, lightingnya nyorot dari mana aja, make up-nya kaya apa, dan semuamuamuamuamuanya.

Orang yang serba bisa dan serba-mengusahakan-untuk-bisa. Orang yang selalu percaya sama kemampuan orang lain dan bisa mengembangkan potensi orang lain. Orang yang percaya sama segala kemungkinan baik di depan. Orang yang kehadirannya di hari H-1 dan H pementasan bikin aku tenang, meskipun H-3bulan dia kadang datang kadang menghilang.

FullSizeRender 4

Sahabat menggila di panggung, sahabat diskusi di meja konsep, sahabat tepuk tangan di barisan penonton.

Selamat kamu hebat, I Nyoman Adikarya Nugraha, S.Kep! Sukses terus, Mang! Jangan lupain upik abu satu ini. Kalau udah jadi perawat yang sukses (atau apapun itu), jangan lupa untuk terus bikin pementasan yang spektakuler (dan undang aku)! Kalau rindu berproses, ingat ada upik abu disini yang siap untuk jadi bakul gorengan di setiap pementasanmu. HAHAHA.

Suatu kebanggaan tersendiri bisa memanggilmu ‘sahabatku’. :”)

Stase 5: THT

Sekarang lagi stase THT, 4 minggu. Setelah libur 1 bulan dan pseudoholiday (KKN) 2 bulan. Lumayan bersemangat buat kembali ketemu pasien, tapi lumayan stres juga. Setelah 3 bulan ngga nyentuh apapun tentang kedokteran, sekarang kembali lagi sama nama-nama latin, anatomi, fisiologi, etiologi, patogenesis, farmakologi. Kembali lagi seragaman jas putih. Kembali lagi kerjarodi dari jam 7 pagi sampai 5 sore, atau kalau jaga bangsal ya jam 7 pagi sampai 7 pagi esok harinya.

FullSizeRender 3
Elevator selfie. :”) Numpuk-numpuk kaya ikan teri :”(

THT mitosnya sih selo. Tapi ngga tau kenapa kelompok koas kami ngga merasa THT ini selo. Ya meskipun kalau koas di RSS adanya cuma menyatu dengan tembok sih, soalnya kami cuma boleh pandang (ngga boleh melakukan tindakan). Capek berdiri sih kalau ngga ide buat cari tau ke residen jaga tentang kasus pasien. Kalau lagi ngga bejo ya pasiennya banyak tapi residennya ngga sempat ngajarin. :(

Tapi waktu perkenalan sama Dosen Pembimbing Klinik (DPK), rasanya termotivasi dan bangkit lagi. Padahal yang disampaikan oleh beliau hanya mengulang apa yang udah kita ketahui. Tapi rasanya ngena banget, bikin semangat belajar, bikin semangat untuk bisa. :)

‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)

dr. Agus Surono, Sp. THT-KL mengingatkan tentang ayat Al-Quran di atas. Bacalah. Males kan pasti? Tapi kalau dipikir-pikir, kita cuma tinggal baca dan memahami, ngga perlu mengalami dan meneliti, kenapa males? Toh kita cuma tinggal duduk manis dan baca sambil sruput-sruput kopi di cafe yang kece.

Berikan ilmu dan kebaikan untuk orang lain dan merasa senanglah ketika kamu bisa memberi. – dr. Agus Surono, Sp. THT-KL

Berbahagialah ketika bisa membantu orang lain. :”)

Berat memang hidupnya dek koas. Tapi worth it kok, insya Allaah. Niatkan untuk kebaikan orang banyak, niatkan untuk membantu saudara-saudara kita, niatkan untuk ibadah. Bismillaahirrahmanirrahim.

Semangat! Jangan mengeluh :D

Lagi Sakit Ngejagain Orang Sakit

Barusan sampai rumah setelah dari Jumat pagi di RSS. Super bingung sama kondisi kesehatan sendiri, pagi baik-baik aja padahal, tapi siangan dikit udah mulai kerasa ngga enak badan. Waktu biko (bimbingan koas) rasanya udah nggregesi (meriang), terus langsung ke bangsal sama Bila dan tidur di ruang jaga koas (ngga sopan).

Untung residen jaganya super duper baik yaitu dr. Veby, “dek nanti cek tanda-tanda vital (TTV) sama balans cairan (BC) jam 6 sama jam 8 malam ya, sekarang kalau mau sholat – makan dulu ngga apa-apa, tapi jam 6 balik ke sini.” Super baik kan! Padahal koas yang kemarin jaga malam di bangsal bahkan izin buat makan aja ngga dibolehin, dan itu jam 7 malam. Kami jam 4 sore udah izin makan (haha!).

Tapi di perjalanan perut rasanya mules dan mual, ngga karuan. Bila sabar banget ngedengerin rengekan sampahku. Bahkan waktu makan di dekat Talenta 2 sebelah RSS, Bila sempet beli obat sama air mineral buat aku. Waktu jalan balik ke RSS, perut tambah ngga karuan, mual parah. Akhirnya muntah di jalan :( tiga kali di tiga tempat berbeda :(( masih pakai jas koas :(((

Tadinya mau tukeran jaga sama anak koas yang lain, tapi ngga jadi soalnya ngga enak kan udah punya jatah jaga sendiri-sendiri (sok kuat). Terus balik ke bangsal langsung TTV. Sempet dicariin residen sama perawat sih, untung beliau semua bisa memahami koas yang penyakitan ini…..

Jaga THT ini lumayan selo. Pas selo aja sih, soalnya dari laporan anak-anak, jaga sebelumnya sampai pada ngga bisa tidur gara-gara ada panggilan ke IGD. Sedangkan semalam IGD cuma ada 1 pasien dan bukan gawat darurat, dan di bangsal semua aman. Lumayan bingung sih harus seneng apa sedih. Seneng soalnya bisa istirahat :) sedih soalnya cuma pindah tidur doang :( Tapi,

Allaah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hamba-Nya.

Jadi, ya patut disyukuri kalau semalam dikasih aman sama Allaah. Alhamdulillaah wa syukurillaah.

Anyway, terima kasih banyak Nabila Kirtti P. (Princess), yang udah merawat dan menjagaku, membantuku untuk tetep kuat. Love you! :*

IMG_6416

Oh iya, Nurida sempet dateng ke bangsal buat ngasih oleh-oleh dari Lombok (doi KKN di sana). Super sweet ngga sih! Makasih banyak kesayangan aku :*

FullSizeRender 2

Memang harus membiasakan diri dengan tempo koas (yang udah ditelan 3 bulan ale-ale/santai-santai). Harus jaga kondisi, biar bisa total dan fokus jagain pasien, bisa belajar banyak dan ngga cuma jadi koas spesialis TTV dan BC. Bismillaah, sehat-kuat-semangat!