Kisah Kasih Nyata

Ngga kerasa ya udah 2 bulan aja. Udah kelar aja KKN-nya. Udah harus balik lagi ke kehidupan per-koas-an. Huft.

Rasanya waktu awal-awal KKN jarum jam berdetik lama banget. Waktu di tengah-tengah KKN tiba-tiba cepet banget, sampai ngga sadar udah kelar KKN, udah harus pisah sama adik-adik sekolah sore, sama anak-anak KKN yang kampret (wek), sama karang taruna, sama bapak-ibu kesenian hadroh, sama Bu Jiah dan Pak Dukuh, sama Farel. :(

Sub Unit 1 – Dusun Banyunganti Lor

IMG_6145.JPG

1. Yasfi Firmansyah (kormasit), Elins 2010.

Panggilan: Cemplung, Chupik, Maschupilami.

Hari kedua tinggal bareng, udah bikin ngakak sepondokan (dan seunit) karena dengan polosnya menceritakan ke-oon-annya. “Tadi malem aku ngga bisa tidur soalnya perutku mules banget. Aku ngga tau WC-nya dimana, di dalem kamar mandi ada lubang kecil di pojokan, aku pikir itu WC, yaudah aku jongkok aja di situ.” Tempat doi boker adalah jamban cemplung yang bahkan udah ngga dipakai oleh penghuni rumah, karena di sebelah kamar mandi udah ada WC yang bagus. Setelah hari itu, KKN adalah suram bagi Yasfi, karena dia dipanggil satu sub unit dengan “cemplung”.

Orangnya tenang banget, dan sangat mendahulukan logika dalam menyelesaikan masalah. Tapi asilnya, doi punya hati selembut sutra. Lumayan ditakuti sama anak-anak sub unit (waktu awal), soalnya doi super pendiem dan ngga gabung ke anak-anak kalau lagi pada nonton film bareng atau sekadar ngobrol ngga jelas. Super ngga peka dan dingin. Tapi mendekati berakhirnya KKN sepertinya doi mulai berubah (hazeg). Selalu menjadi kesayangan Bu Jiah, untuk dimintain nganter ke pasar dan layatan dan jagong bayi dan hadroh. Selalu bilang mau berhenti ngerokok tapi kalau diingetin selalu marah.

Turns out, Yasfi adalah orang kesayangan sub unit, bahkan unit. Dengan segala tingkah oon-nya, kesabarannya dibully, dan ke-sweet-annya yang tak terduga. And to be honest, Yasfi adalah tangan kananku. Yang selalu mendengarkan ide-ideku dan curhatanku tentang unit. Dan yang paling bisa menenangkan aku dan mengingatkan aku untuk tetap fokus ke target.

Motto hidup: mandi untuk meningkatkan konsentrasi.

It’s good having you here, Pik.

2. Rimang K. Rizal (kormater soshum), Hukum 2011.

Panggilan: Cikumang

Rimang orangnya sabar dan laki banget. Sabar menghadapi segala kecerewetan kaum Hawa di sub unit, dan laki banget dalam memperlakukan perempuan satu unit, he treated us like a princess.

Rimang lumayan emosian untuk beberapa hal (kalau lagi rapat misalnya), tapi masih bisa ngontrol (dan dikontrol) lah. Selalu punya ide-ide yang ngga terpikirkan olehku sebelumnya. Ngerokoknya naudzubillah, bal-bul-bal-bul. Tapi katanya mau mulai mengurangi rokok sih setelah KKN, mari kita doakan saja. Allaahuma aamiin.

Rimang selalu adu mulut sama Bu Jiah, soalnya setiap dimintain tolong ini-itu selalu banyak alasan. Heran juga, ada aja gitu alasannya. Paling picky sama makanan, dingin dikit udah ngga mau makan, ngga cocok dikit milih makan di luar. Selalu rebutan kamar mandi sama Ryna di kamar mandi PAUD. Selalu jadi korban kemanjaan Ryna dan Mila. Herannya, kalau disuruh sama dua bidadari ini, doi langsung gas. Kalau sama Bu Jiah…. :p

Motto hidup: perempuan ngga akan bisa memisahkan aku dan rokokku.

Jujur, kalau Yasfi itu tangan kananku, Rimang ada di kiriku. Ngga tau kenapa rasanya tenang aja kalau habis cerita ke mereka tentang ide-ide program, dan ketika rapat unit mereka bisa mendukungku. My two wings.

3. Kamilah

Panggilan: Cumil

Terkenal galak, bahkan sampai adik-adik sekolah sore takut sama doi. Paling sigap melakukan segala sesuatu di sub unit. Tiada hari tanpa telponan, dan selalu mojok di sudut halaman untuk dapat signal. Selalu menggantikan Bu Jiah dalam urusan masak-memasak. Paling rajin ngisi kartu individu-1. Pagi-pagi selalu bikin Top Coffee.

Kalau mau minta saran untuk melakukan hal yang simpel, Kamilah adalah orang yang tepat. Walau kadang ke-simpel-an dia menurut beberapa orang adalah sangat ngawur dan ngga memikirkan beberapa aspek kehidupan. But it’s good having her in my sub unit.

Motto hidup: tiada hari tanpa Top Coffee.

Kalau Yasfi dan Rimang adalah my two wings, Mila adalah my swords.

4. Nisryna (kormater medika), Kedokteran Umum 2011.

Panggilan: Ryna

Ryna orangnya super heboh, ngga umum. Ada aja gitu yang dibicarain, dikomentarin, dan selalu ada ide buat ngerjain Rimang. Nyuruh beli bartagor lah, ke indomart lah, nganterin boker lah, ngambilin handuk lah, jemput ke sub unit lain lah, dan banyak lah.

Lumayan moody. Kalau lagi kumat badmoodnya, selalu minta izin buat pulang ke Cilacap atau ke Yogya, atau cuma minta dianterin main ke AAW (Alun-alun Wates).

Pondokan kalau lagi ditinggal Ryna langsung sepi, dan Rimang selalu komentar, “sepi banget ya pondokannya.” Ryna yang selalu matahin rokoknya Rimang, atau membuang beberapa batang rokok ke tempat sampah. Ryna yang sabar kalau Rimang lagi adu mulut sama aku. Ryna yang super jago menghandle uang.

It’s good having you in my sub unit, Ryn.

5. Andhika Yudha P., Teknik 2012

Panggilan: Dhika

Mantan kormanit di KKN periode sebelumnya. Doi harus ngulang 8 hari KKN karena doi harus ke Amerika buat pertukaran pelajar di tengah-tengah waktu KKN.

Meskipun Dhika cuma mengganti 8 hari, he’s like a family already. Rasanya seneng aja gitu kalau ada Dhika. Komentar-komentar dia itu yang ngangenin dan bikin suasana tambah hangat. Dhika lumayan jadi penengah antara Yasfi dan Rimang, meskipun lumayan jarang buat ngobrol sama yang perempuan sih, as far as I know.

It’s good having you with us, Dhik!

6. Lusi Mira A., Sastra Nusantara 2010.

Panggilan: Mba Lusi

Mba Lusi orangnya senggol bacok, tapi ngga mau mengakuinya hahaha. Selalu ngomong, “ngga, ngga, ngga” sebelum berpendapat, terlepas dari pro dan kontra hahaha. Super ngga nyangka kalau doi udah punya 2 anak, badannya masih kaya perawan :p

Mba Lusi kerja sana sini banting tulang untuk sebotol susu dua anaknya. Nyanyi di Gendhis (Sagan), jualan di Sunmor, jualan online. Selain itu Mba Lusi juga harus ngejar target nyelesaikan skripsi. Gile, perjuangan seorang mahasiswi dan istri dan ibu untuk putra-putri.

Mba Lusi kalau nonton film, selalu gantian ditonton sama filmnya, dan akhirnya harus mengulang nonton film itu besoknya. Dan kembali ke siklus awal, ditonton sama filmnya. Terus aja gitu.

Mungkin karena beban hidup yang berat ya, Mba Lusi sering ngeluh capek dan udah ngga kuat lagi, padahal cuma ngeberesin kamar (hahaha). Ngga ding. Cuma setiap ketemu aku isinya ngeluh capek. Apa jangan-jangan karena ketemu aku ya jadi capek? :(

It’s nice having you here, Mba.

7. Lilis S., Kedokteran Hewan 2006.

Panggilan: Mba Lilis

She’s a mother of one. Dulu doi udah pernah KKN tapi karena masalah administrasi, jadinya gabung di KKN periode sekarang deh.

Karena putranya masih kecil, doi jadi jarang gabung sama sub unit. Dan seringnya main ke sub unit lain. Lumayan jarang berinteraksi sih. Tapi kadang nyambung kok sama beberapa guyonan sub unit. Hihihi.

**

Well, itu tadi sekilas tentang anak-anak sub unit. Semakin ke bawah semakin sedikit ya tulisannya ha ha, maafin ini ngantuk tak tertahankan tapi ngga mau tulisan ini kadaluwarsa di draft.

Dari KKN ini kerasa banget, kalau anak kedokteran itu dari tahun pertama sampai sebelum KKN semacam “dipenjara”. Ngga ngerti apa-apa tentang dunia luar. Ketemunya kalau ngga jas putih ya sama darah merah terus. Kalau ngga sama ibu-ibu kantin ya ibu-ibu perawat. Kalau ngga sama slide laporan kasus ya sama berlembar-lembar status (medical record). Tapi di KKN, anak kedokteran bisa ketemu orang banyak dengan berbagai macam karakter, visi-misi kehidupan, budaya-tradisi, warna kulit, kebiasaan dan manners. Di KKN juga dituntut untuk bisa kerjasama bareng orang-orang dari berbagai macam lapisan, termasuk dengan tim KKN sendiri. Dealing with them, dealing with the problems, try to find the win-win solution, see from another perspective, etc.

Tadinya anak kedokteran berhenti diskusi kalau udah ada referensi, sekarang berhenti diskusi kalau udah ada solusi.

KKN ini terlihat merepotkan di awal (ya memang). Tapi sesungguhnya kalau dilihat dari sisi yang berbeda, KKN ini jauh lebih banyak memberi ilmu kehidupan dibanding ilmu kedokteran-yang-erat-dengan-kehidupan/kematian. Well..

Ternyata dunia ngga sesempit lapang pandang mikroskop, sejawat Dokter Muda.

Advertisements

Beban

“Mas optimis ngga kita bisa menikah?”

“Ngga besok kan tapi?”

“Terus kapan dong? Lusa?”

“Lusakit ya?”

IMG_5820 2

“Pohon Jati akan menggugurkan daunnya ketika kemarau, untuk mengurangi beban penguapan pada dirinya.”

Akar pohon tidak akan mengutuk batang yang merelakan daun pergi meninggalkan dirinya. Ia pun tidak akan marah kepada tanah ketika daunnya jatuh ke permukaan tanah, meski jauh dari dirinya. Akar justru berterima kasih kepada batang, karena dengan menggugurkan daunnya, ia masih bisa bertahan hidup, hanya dengan menggugurkan daunnya, beban kerja akar banyak berkurang. Ia pun akan berterima kasih kepada tanah yang sudi menerima daun dan membiarkannya membusuk di situ, daun yang dulu menjadi miliknya.

Hidup itu membutuhkan penerimaan dan kerelaan.

Rabu Sendu

“Tin, Bu Hariyanti guru Bahasa Indonesia kita meninggal. Besok mau ikut layat enggak?”

Chat LINE dari Dicky, sahabat SMP saya, masuk hari Rabu, 2 Desember. Baru saya buka hari Kamis, 3 Desember. Nyeselnya bukan main. Lahir-batin.

Saya sedang KKN di Sentolo, Kulon Progo sejak 2 November lalu. Di sini signalnya kaya ABG, labil. Jadi kalau komunikasi via SMS, atau WhatsApp. Buka LINE buat nunggu pesan masuk aja bisa sampai ngantuk. :| *ini bisa update blog aja dengan perjuangan kabur ke daerah Pengasih, untuk ke cafe, sekalian rapat program.

Bu Hariyanti adalah guru Bahasa Indonesia yang luar biasa baik, sesedih itu saya mendengar kabar kalau beliau sudah menghadap Yang Maha Kuasa. Beliau adalah guru yang benar-benar digugu dan ditiru. Seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau bukan karena beliau, I wouldn’t be someone who I am right now. Like, really.

Saya orangnya doyan cerita, doyan ngobrol. Disaat semua guru merasa terganggu dan mengekspresikannya dengan melempar penghapus papan tulis ke meja saya atau menyuruh saya untuk keluar dari kelas, Bu Hariyanti malah melihat potensi saya dan mengarahkan saya ke arah yang benar.

Bersama beliau, saya dan teman-teman menjadi pelopor berdirinya Teater SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta (SMP Muga). Kami difasilitasi untuk maju pementasan di 0km, ikut perlombaan di sana-sini, membuat pementasan intern, mengadakan perlombaan teater antarkelas, dan lain sebagainya.

Beliau yang selalu memotivasi saya, mendengarkan ide-ide saya dengan penuh semangat dan berusaha untuk merealisasikannya. Beliau adalah sosok yang luar biasa. Dan ketika beliau tidak ada, saya sedang tidak di Yogya. Hari itu, tiba-tiba menjadi kelabu. Rabu Sendu.

Hanya doa yang dapat saya kirimkan kepada beliau. Hanya ucapan terima kasih yang bahkan tidak dapat didengar oleh telinga beliau sendiri, yang dapat saya ucapkan. Hanya perjuangan untuk negeri yang mampu saya berikan sebagai wujud bakti saya kepada beliau.

2015-12-05

Selamat jalan, Bu. Kami akan teruskan perjuangan Ibu. Baik-baik di Sana nggih, Bu. Kami sayang Bu Hari.

Kami yang kehilangan,

Alumni Muga’08

photo source: https://www.facebook.com/miq.jogjasyamsundm?pnref=story