Mybundazole

Bagi yang bingung, mybundazole itu asal katanya dari my-bunda-zole, yang merupakan plesetan dari Mebendazole (obat parasit/cacing).

Saya orangnya emang gitu, suka ngeganti nama orang lain, manggil dengan panggilan lain, termasuk juga manggil ibu sendiri, because sometimes I found it funny and cute hihi.

Waktu masih kecil, saya manggil orang tua dengan ‘bapak-ibu’. Dan katanya, waktu ayah saya pulang dari sekolah di luar negeri, saya manggil ‘bapak’ di bandara dengan sebutan ‘papi’, sampai bikin beliau bingung, “ini yang ngajarin siapa?”. Dan keterusan sampai sekarang, manggilnya ‘papi-mami’.

Seiring berjalannya waktu, saya sering mengganti panggilan untuk mami. And surprisingly, mami selalu menoleh atau menjawab panggilan saya, apapun panggilan yang keluar dari mulut saya, funny and cute, no? Here are the examples:

  1. Mami
  2. Momsky
  3. Bundanya akhu
  4. iBunda
  5. Mybundazole
  6. Bundabundida
  7. Ummiya
  8. Umsil
  9. Umichu
  10. Muchi Kuchi
  11. Muchimucho
  12. Momochi
  13. Mushiro
  14. Bunduy
  15. Bunchu
  16. Bundangdut
  17. Buntel
  18. Kue Mochi

Ha-ha. Right. Bahkan dipanggil Buntel dan Kue Mochi aja tetep nengok. Emang kesayangan. *hug*

Ya paham sih, harus memanggil dengan sebutan yang baik. Papi selalu kotbah tentang itu ke saya. Tapi ya mau gimana…… :”)

Saya sering banget ngegodain beliau sampai jengkel atau marah. Sengaja sih, habis lucu. Seringnya habis marah gitu terus ketawa. Lucu kan? Mihihi. Saking seringnya, saya sampai ngga bisa kalau ujian terus belajar di rumah, pasti endingnya cuma nguyel-uyel mami.

karena memelukmu memberi energi tersendiri untukku..

Sifat dari beliau yang sangat menonjol itu gengsian (yang diwariskan ke saya, ehem); ngga mau ngomong sayang meskipun sayang, ngga mau nunjukin kalau peduli meskipun peduli, ngga suka bermanis manja atau yang romantis atau yang menye-menye (saya suka tapian, ehehehe). But deep down inside, she’s softer than a softener (eh?), she cares too much, she loves so much, and she hides too much pain but never, never just a blink of eye, she showed it to us. Never.

Beliau ngga pernah ngeluh, tentang apapun yang terjadi dan apapun yang beliau rasakan. Dan itu yang selalu beliau usahakan untuk bisa saya lakukan (and I’m still learning on how to do it). I admire her silence.

She is always complaining about my lazy behaviour, my messy room, my constant-8 a.m. waking up patterns on holiday, my non-stop-kissing-and-hugging-and-gigitin-her habit, and all. I know she’s doing her job very well. If it counts as a sin, then I don’t know how many are my sins to her. :(

FullSizeRender 45

She’s the first person I look for, setiap pagi dan setiap masuk rumah dari pergi. I love her so very much. :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s