Stase 3: Jadi Pasien Interna-Cardiology

Sekilas cerita tentang 10 minggu di stase Interna, karena kalau ditulis langsung semuanya, tulisan ini bisa jadi novel. Happy reading! ;)

Fahmi, Hanan, Uti Kak Dian, Gustav, Della, Nisa. (VIP 2 ICCU)
Fahmi, Hanan, Uti Kak Dian, Gustav, Della, Nisa. (VIP 2 ICCU)

Stase Interna, ada satu minggu jaga Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) di RSUP Dr. Sardjito (RSS). Urusannya sama jantung dan pembuluh darah terus setiap saat. Nah, cerita ini bermula ketika lagi duduk santai di nurse station ICCU. Well, not really, aslinya cerita ini dimulai saat saya stase di Klaten. Waktu itu, saya, Nisa, Kak Dian dan Uti bercengkrama di kamar asrama. Tiba-tiba saya merasa sesak dan berdebar-debar, so weird. Iseng, saya dengarkan sendiri katup jantung saya pakai stetoskop. And I thought that I hear something strange, something abnormal..

Saya minta tiga teman saya untuk mendengarkan juga. Nisa dan Kak Dian bilang suaranya normal. Tapi Uti bisa mendengar apa yang saya dengar, meskipun dia ngga yakin kalau suara yang didengar itu adalah bising katup jantung.

Waktu di ICCU RSS (sekitar 3 minggu setelah stase di Klaten), iseng-iseng saya dengarkan lagi suara katup jantung saya. Dan… I could hear it well, even louder than before (when in Klaten). I asked all of my friends to hear it also.

Mereka bilang memang ada bisingnya, tapi Nisa dan Kak Dian masih kekeuh pada pendirian mereka. Kemudian, untuk memastikan, saya memberanikan diri untuk meminjam stetoskop milik residen cardiology, which is more expensive one, not like mine yang harganya cuma 200ribuan -.-

Ada harga, ada rupa. Suara bising katup jantung saya terdengar sangat jelas. Waktu itu di katup pulmonal yang terdengar jelas. Nisa dan Kak Dian pun akhirnya percaya bahwa ada ketidaknormalan pada suara katup jantung saya. Kami berdiskusi sebentar tentang kemungkinan apa saja yang bisa menyebabkan bising katup pulmonal. Well, masih bingung dan kopong, akhirnya kami bertanya pada residen.

Waktu itu, saya tanya ke dr. Anggoro, “dokter, mohon izin bertanya. Kalau bising di katup pulmonal itu kemungkinannya apa ya, dok?”

Dokter Anggoro berhenti menulis rekam medis, “Tergantung. Bisingnya saat sistolik atau diastolik? Ya nanti bisa mengarah pada CHF (congestive/chronic heart failure = gagal jantung) juga.”

Saya lumayan deg-degan sih itu, “Kalau klinis pasiennya baik, tapi ada bising katup pulmonal bisa dok?”

“Bisa saja. Klinis baik itu maksudnya gimana? Pasien bed berapa ini maksudnya?” He asked, interested.

“Ehm.. saya, dok, pasiennya.” I answered, shamelessly.

“Ha? Kamu dek?” dokter Anggoro berdiri dari duduknya, langsung mengambil stetoskop saya pegang (itu stetoskop beliau yang saya pinjam tadi, btw haha). Saya diminta menempelkan sendiri ujung diafragma stetoskop ke dada saya. Kemudian beliau mendengarkan. Belum ada 10 detik, “Sudah pernah diecho? Diecho mau ya?” He asked,

“Belum pernah, dok. Mau.” I answered without thinking.

Nisa dan teman-teman lain langsung kaget, “seriusan kamu mau diecho Tin? Kamu udah siap mental sama hasilnya nanti?” They asked. And I was like, damn it just do it. I want to know what’s wrong with my body and fix it as soon as possible. Simple, I love myself (and my parents and my future), so I want to be healthy. Whatever it is, so be it, and let’s fix it. ;)

Dokter Anggoro kemudian meminta residen lain untuk melakukan echocardiogram dan mendengarkan katup jantung saya. Bahkan residen lain juga mendengarkan, and he was like, “paling-paling PR (pulmonal regurgitation).” Uh-oh.

Kemudian saya diecho, ditemani Nisa, Kak Dian dan Uti. Waktu itu, dokter yang melakukan echo tidak percaya kalau saya ada bising katup pulmonal. Sambil melihat ke layar echo, beliau hanya bilang kalau gambarannya bersih dan tidak ada regurgitasi (aliran balik).

“Dok, cara taunya ada regurgitasi atau tidak gimana ya?” Uti bertanya saat dokternya pakai doppler, jadi tau aliran darahnya.

“Ya kalau ada berarti nanti kelihatan warna birunya ini ke bagian sini, yang warna merah.” She said while pointing at the monitor. Right after she pointed and said those things, we all could see what she was saying about. Kami semua bisa melihat aliran biru ke bagian merah. And that means…….

But once again, she said that I was okay and It’s normal. Okay..

Kemudian kami tidak bisa menemukan keberadaan dokter Anggoro. Besok paginya, beliau menanyakan hasil echo saya saat saya sedang melakukan kompresi manual pada salah satu pasien di ICCU. Karena hasilnya tidak diprint, jadi tidak bisa diskusi.

Siangnya, kami ada biko (bimbingan koas) dengan beliau. Lagi-lagi beliau menanyakan hasil echo dan keadaan saya (how sweet!). I brought my pulse oximeter and he asked me to check my Oxygen saturation. And it was 88%. Everyone was shocked, so did I (normalnya di atas 95%). Kemudian semua orang mencoba menggunakan alat itu, siapa tau alatnya yang rusak. Ternyata semua orang di atas 95%, kembali lagi ke saya, 89%.

“Dek, dilakukan EKG mau ya?” dokter Anggoro langsung menawari saya melakukan ekokardiogram (bedanya sama echo, alat ini untuk merekam electricity jantung saja, kalau echo kan bisa gerakan jantungnya, ruang jantung, katup jantung gitu).

Saya pun akhirnya diEKG, di ruang VIP 2 ICCU (kalau bukan karena perintah dr. Anggoro ngga bakal bisa ini hahaha). Sadly, sudah terpasang semua alatnya di dada saya, tapi bocah-bocah calon dokter ini belum cek alatnya sebelum digunakan. Alhasil, semua orang bingung cara pakainya. Sampai-sampai alatnya difoto sama Hanan terus dia keluar untuk tanya sama dr. Anggoro gimana cara makainya -_- Kemudian masuklah perawat perempuan. And she was like, “I don’t know either. Maybe this thing is broken.” -_________________________-

Akhirnya kami batal merekam jantung saya. Dan dokter Anggoro waktu itu sudah susah dicari lagi dan kesimpulan tentang sakit saya masih tanda tanya.

Oh iya, sempat dibahas juga sama residen cardio, lupa namanya (sorry, doc). Beliau bilang katanya saya memenuhi kriteria ASD (atrial septal defect), biasanya yang ASD itu perempuan, usia 20an, kurus, tinggi, putih, dan cantik (HAHAHA, thank you, doc!). Tapi serem sih kalau beneran ASD. Dokter Harris aja sampai minta saya periksa ke konsulen, supaya ditangani dengan segera, “…ya kecuali kalau kamu mau mati syahid untuk anakmu sih. Kalau orang ASD itu bahayanya waktu hamil dan melahirkan…” Naudzubillah yaa Allah :'(

Waktu saya cerita ke Papi, he didn’t seem to shocked or something. And when I told him about what dr. Harris told me, he was like, “Coba sini papi dengerin.” I took his stethoscope and he listened to my heart valves’ sound. “Hmm, very minimum. Dulu waktu kamu kecil sepertinya memang ketemu ASD dek, tapi sepertinya ndak masalah. Coba saja besok periksa lagi ke konsulennya.” He said.

I will take it very seriously. I will.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s