From the Eyes to Our Hearts

Hai! Stase mata udah berakhir sejak 10 April lalu, tapi baru sempat update sekarang._.v

Empat minggu di stase mata adalah menyenangkan. Semua residen dan konsulennya baik dan luar biasa hebat. Sempat ada sesi biko sama dr. Hartono, SpM(k), padahal beliau udah pensiun sejak tahun lalu. Tapi beliau masih bersedia membagikan ilmu dan pengalaman ke junior-junior beliau. Terharu dan kagum sama semangat mendidik beliau. :’)

Dokter Hartono adalah dokter yang kondang, bahkan waktu saya rotasi klinik di Wates, beberapa pasien minta dirujuk ke beliau. Beberapa juga mengeluhkan kalau dirujuk ke dr. Hartono itu antrinya bisa satu bulan sendiri. :”|

Kemudian berpikir…. Dokter yang hebat-hebat udah sepuh dan satu per satu pensiun. Regenerasi sepertinya berjalan sangat lambat. Lalu siapa yang akan meneruskan jejak hebat beliau? Kemudian timbul ketakutan kalau nantinya ngga ada yang bisa sehebat beliau. :(

**

Anyway, setelah ujian stase mata, kelompok saya mengadakan acara makan bersama (karena sama-sama kelaparan). Rencananya dalam sesi makan-makan itu diselipkan juga beberapa acara yang “seru”. Tapi, berhubung udah pada capek ujian jadi acara itu ditunda. Nanti kalau saatnya tiba saya akan jabarkan keseruan acara itu di sini. ;)

Cukup 1x stase mata dan ujian stase mata. Bismillahirrahmanirrahim, semoga satu kelompok saya lulus semua stase mata dengan nilai yang memuaskan dan tidak ada yang mengulang, aamiin. Semangat koas15106! Here are some pictures from the past month (maaf kalau ngga enak lihatnya, males ngedit hehe):

Ruang Visus
Ruang Visus
Selfie gabut, waktu Bayu meriksa pasien :p
gabut, waktu Bayu meriksa pasien :p
Selfie gabut waktu ngga ada pasien :p :p
gabut waktu ngga ada pasien :p :p (Mila, Nisa, Githa)

 

Jaga di retina, sempet selfie sama Kak Dipus
Jaga di retina, sempat foto (ngumpet-ngumpet) sama Kak Dipus
Fahmi dan Bila nyobain Slit Lamp di Wates, waktu dr. Fransisca, SpM belum datang
Fahmi dan Bila nyobain Slit Lamp di Wates, waktu dr. Fransisca, SpM belum datang
Selfie kenang-kenangan di Wates bersama tonometer :')
kenang-kenangan di Wates foto bersama tonometer :’)
Kemesraan Nisa dan Bayu :3 just kidding. Ini waktu Nisa lagi coba meriksa mata Bayu pakai opthhalmoscope. ;)
Kemesraan Nisa dan Bayu :3 just kidding. Ini waktu Nisa lagi coba meriksa mata Bayu pakai ophthalmoscope. ;)
Selfie di ruang EED, waktu residen baru keluar :p
di ruang EED, waktu residen baru keluar :p (Reinhart, Kak Dipus, Sondang, Linda, Bila)
di ruang jaga koas :")
di ruang jaga koas :”) (Fahmi, Bayu, Githa, Linda, Reinhart, Kak Dipus, Sondang, Nisa, Toro, Mila, Bila)
Fahmi waktu epilasi di Wates. :D
Fahmi waktu melakukan tindakan epilasi di Wates. :D
Belajar di ruang jaga koas
waktu biko sama residen di ruang jaga koas
Intan, anak kelompok sebelah. Bersama dr. Widyandhana di EED :p
Intan, anak kelompok sebelah. Bersama dr. Widyandana di EED :p
makan siang bareng koas15106 (belum pernah bisa dapat foto yg proper)
makan siang bareng koas15106 (belum pernah bisa dapat foto yg proper dan lengkap. Cowo-cowonya pada males foto)
foto sebelum masuk ruang jaga koas, habis curhat sama Mas Irfan :p :p
foto bareng Nisa dan Mila sebelum masuk ruang jaga koas, lumayan palpitasi habis “curhat” sama Mas Irfan :p :p
belajar bareng H-1 ujian mata
belajar bareng H-1 ujian mata
makan-makan post ujian mata
makan-makan post ujian mata (cowo-cowonya pemalu semuaaaaa)
Bayu, gemeli saya di mata
Bayu, gemeli saya di mata
Geng gosip :p (Nisa dan Bila)
Geng gosip :p (Nisa dan Bila)

Sekian \m/

Advertisements

Manners

*coughed*
*bought a cold soda*
*coughed*
*took a sip of it*
*coughed again*

Papi: Kamu batuk dek?
Me: Lumayan *coughed again*
Mami: Titin sukanya ngeyel sih. Tau lagi batuk malah belinya es. Pagi-pagi udah minum es.
Me: Kalau ngga pakai es tu rasanya kaya ngga minum je. *coughed*

*Papi took my soda, drank it all till the last drop*

Mami: Tuh diminum semua sama Papi biar ngga diminum kamu.

20140913_113341

Papi is the sweetest man on earth I’ve ever known. He knows me so well. He understands my mood swing and never complains about it. He knows that I have one or two days off because of my dysmenorrhea and he always restock my meds. He forbids anyone at home who tries to wake me up on Sunday morning. He knows exactly how to handle me. And he understands how to treat me as a girl.

This morning, me and mom had a conversation about men. She told me that a man, should’ve known how to treat other woman, like my father. Because it’s a basic manners that everyone knows. And you can call someone as “a man” is not by his gender written on his ID card, but by his behavior, his knowledge of basic manners, and his gesture of treating other people, respecting other people, especially a woman.

Manners maketh man. – Kingsman-The Secret Service, 2015

“Kalau cari pasangan itu yang kaya Papi.” My mom said,

“Yang sayang sama kamu, yang selalu khawatir sama kamu, yang mikirin kamu. Jangan mau sama yang ganteng mukanya, pinter sekolahnya, kaya raya tapi manners aja ngga punya. Dari temenan kaya gini kan kamu udah bisa menilai, laki-laki mana yang bisa memperlakukan kamu dengan cara yang bener. Meskipun dia tau kamu itu mandiri, seharusnya ya dia tetep tau diri, semisal malam-malam kamu janjian pergi, ya kamu ngga boleh berangkat atau pulang sendiri. Terlepas dia lagi ndeketin kamu atau ngga lho, kan tetep aja dia laki-laki dan kamu perempuan.”

I kept silent, processing.

A lecture from my mom this morning makes me understand how manners really important in this life. And with so many of my friends getting married this year or next year is making me freaked out. Where do I find a man with manners? Or at least a man like my father? Well, only God knows.

Balikan

Never go back to your EX. It’s like reading the same book over & over again when you know how the story ends.

Well, that’s not completely true sih.

Buku itu saklek. Apa yang ada di dalamnya ngga bisa berubah, ya udah gitu aja, kecuali kalau ditipe-x terus dicoret-coret sendiri. Ya wajar kalau baca buku berulang-ulang kita bisa bosen, karena udah tau jalan ceritanya dan endingnya. Gitu-gitu aja kan. Karakter tokohnya juga gitu terus, mau dibaca ribuan kali juga ngga akan berubah.

Sedangkan manusia itu ngga ada yang saklek. Takdir aja bisa berubah, karena manusia itu berproses. Manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu. Ketemu sama orang baru, dapat ilmu baru, cara pandang baru, pola berpikir baru, kemudian menciptakan keputusan-keputusan baru dan akhirnya menjadikannya pribadi baru. Ya itu manusia.

Bukan berarti melalui tulisan ini saya ngode-ngode pingin balikan sama mantan, tapi ya ngga terus antipati juga buat balikan sama mantan. It’s like, selow yaude siape aje. Poinnya adalah jangan melihat manusia sebagai makhluk yang statis, yang ngga bisa berpikir, yang ngga bisa berubah, yang dilihat dari masa lalunya. Lihatlah masa sekarangnya, effort dia untuk belajar, untuk berubah, dan perubahan itu sendiri.

Pengalaman bertemu-berpisah dengan individu lain (PDKT, pacaran-putus, pertunangan, pernikahan-perceraian, perselingkuhan, long distance relationship, HTS-an, TTM-an, kakak-adik-an, sahabat tapi elus-elus-an, atau apapun itu sebutannya), pasti akan berdampak pada cara pikir individu itu, keputusan yang dibuat, dan pribadi individu itu. Sekecil apapun itu pasti akan memberi dampak. Ya itulah proses, yang dialami semua manusia.

Ngerti kan maksud tulisan ini? Jadi, masih mikir kalau balikan sama mantan adalah sama dengan membaca buku lama, yang bakal  tau endingnya? :)

Mata di Wates

Akhirnya weekend tibaaaa! Gila, satu minggu rasanya kaya satu windu!

Kebagian koas stase mata di Wates is a blessing yet so tiring. Dokternya baik, petugasnya ramah, karyawannya sampai tukang parkirnya ramah. Cuma ya itu, pasiennya… subhanallah. Saya, Nabila, dan Fahmi kebagian rotasi klinik di Wates. Setiap hari ngelaju, mulai 30 Maret sampai 4 April 2015.

Langit dari Wates
Langit dari Wates

Day 1. Berdoa supaya mitos kalau saya adalah koas penolak itu ngga bener. Hasilnya? Pasiennya 60 orang! Mau nangis rasanya, secapek itu. :'(
Day 2. Berdoa semoga warga Wates sehat-sehat matanya. Hasilnya? Pasiennya 50-an orang, dan sebagian dari mereka minta surat keterangan sehat dari dokter. Tetep mau nangis. :'(
Day 3. Berdoa semoga warga Wates sehat-sehat dan ngga ada yang minta surat sehat. Hasilnya? Pasiennya 50-an orang, dan sebagian besar dari mereka hanya kontrol (mayoritas post operasi mata, atau kontrol penyakitnya). Tetep mau nangis. :'(
Day 4. Berhenti berdoa. Pasiennya 60, dan alasan mereka datang ke rumah sakit adalah campuran dari day 1-3. Udah ngga bisa nangis. :’|
Day 5. The last day, cuma berdoa dapat nilai memuaskan. Dan… ya, alhamdulillah. :”)

Hari Rabu, kami ikut operasi katarak. Baru pertama masuk ruang OK (Belanda: Operatie Kamer/Indonesia: Ruang Operasi). Berdiri 1 jam 15 menit, pandang (cuma lihat dokternya melakukan prosedur). Alhamdulillah, walaupun kaki rasanya kaya mau patah tapi pengalaman ini tetep bikin sumringah. :”)

pre-op katarak
pre-op katarak

Hal menyenangkan lainnya adalah dek koas bisa pakai semua alat canggih, yang bahkan di Sardjito adalah haram hukumnya untuk dek koas menyentuh alat tersebut. Yeay! Meskipun bukan kompetensi yang harus kami capai, tapi namanya dek koas ya pasti bahagia lah dibolehin pakai alat yang tadinya di kandang cuma ngelihat sambil nggumun.

IMG_3113

wefie sebelum pulang :3
wefie sebelum pulang :3

Well, 1 minggu di Wates adalah capek. Salut sama dokter dan petugas poli mata di Wates, bahkan ngga pakai minum atau makan siang lho. *standing applause* Pulang dari Wates langsung refleksi kasus sama dokter Tepo di Sardjito. Kemudian sadar kalau ilmu mata yang saya dapat adalah masih jauh dari kata cukup. Gila udah 3 minggu di stase mata masih ngga ngerti apa-apa. :”(

Bismillahirrahmanirrahim, 1 minggu lagi di stase mata! :)