Keajaiban Mata

4454_1077627261063_4766618_n

Beberapa hari lalu, kelompok koas saya ada biko (bimbingan koas) dengan dr. Sagung Gede Indrawati, SpM. Materi yang disampaikan adalah overview anatomi mata dan penyakit-penyakitnya.

Diameter pupil itu cuma 3mm, tapi kita bisa melihat isi dunia dengan utuh, tidak hanya sebesar pupil kita. Itulah keajaiban mata. — dr.Sagung Gede Indrawati, SpM, 2015

Kalimat beliau tersebut mengejutkan saya, betapa kurang rasa syukur saya terhadap apa yang saya miliki dan yang bisa saya lihat. Bener juga, kalau kita hanya melihat dunia dan isinya sebesar 3mm sebagaimana cahaya yang masuk ke mata, betapa kita harus memutar kepala berkali-kali untuk bisa melihat segala sesuatu secara utuh. Allah Maha Besar!

Banyak manusia yang lupa bersyukur dan ngga memikirkan nikmat Allah hingga sedetail yang disampaikan dr.Sagung, termasuk saya sendiri. Dan karenanya, banyak orang menyepelekan gejala-gejala yang dirasakan pada mata. Pasti denial, “ah paling cuma capek.” atau, “ah besok juga sembuh sendiri.” atau, “ah nanti deh kalau udah beneran parah, ini kayanya cuma perasaan aku aja.”

Hasilnya? Orang-orang datang ke dokter sudah terlambat, kasus matanya sudah parah. Padahal yang namanya mata, kalau udah sakit sedikit, susah untuk kembali seperti sediakala. Organnya kan kecil banget. Hati kamu yang ukurannya lebih besar dari mata aja kalau udah sakit dan terluka ngga bisa pulih seperti sebelumnya, apalagi mata. Dan proses penyembuhannya pun butuh ketelatenan dan kesabaran, prosesnya panjang. Sama kaya hati kamu, yang butuh waktu lama untuk move on. ;)

Yuk kita bersyukur! Dengan cara periksakan mata secara rutin, atau kalau ada gejala langsung periksa ke dokter. Ngga ada salahnya kok berhati-hati. Mencegah lebih baik daripada mengobati, kan? :D

Advertisements

Stase 1: Mata

Baru  Sudah 2 minggu!

Alhamdulillah, saya dapat jadwal stase pertama koas adalah mata. Jadi ngga terlalu capek, dan udah bisa beradaptasi, at least udah bisa bilang, “oalah jadi gini to hidup jadi dokter muda” meskipun belum bisa menggambarkan kehidupan co-ass secara keseluruhan.

Tips? Well, yang terpenting dari koas adalah beradaptasi untuk bertahan hidup dengan bersabar.

Tapi untungnya kesabaran belum banyak diuji di stase mata ini. Soalnya residen dan kosulen semuanya baik dan super mau membimbing koas. Hierarki tak tertulis juga ngga kental, bahkan hampir ngga ada jarak antara residen pin merah dengan pin hijau, residen dengan koas, dan koas – residen dengan konsulen. Ya, ada sih beberapa residen yang saklek, yang harus sesuai sama peraturan, yang harus ini sebelum itu, yang harus begini karena begitu, whatevs. Tapi ya itu semua pasti demi kebaikan kan. ;)

Jadwal di mata juga santai banget. Jaga poli dari jam 8-14, kalau ngga ada biko (bimbingan koas) ya langsung pulang. Kadang jam 13 udah bisa pulang kalau udah sepi pasiennya. Kalau ada biko bisa jam 16an pulang. Jaga bangsal cuma minggu pertama, itu pun dari jam 16-20 aja. Superselow, supermenyenangkan.

By the way, pernah denger tentang “koas penarik” dan “koas penolak”? Jadi, koas penarik adalah koas yang setiap kali kebagian jadwal jaga, entah poliklinik entah bangsal tiba-tiba jadi banyak pasien, banyak kasus. Sedangkan koas penolak adalah kebalikannya. Dan saya adalah koas penolak. :|

Setiap kali saya jaga poli, langsung ngga ada pasien. Setiap kali saya jaga bagian visus, langsung sepi pasien. Waktu saya jaga bangsal juga adem ayem, ngga ada panggilan ke IGD, ngga ada tindakan macem-macem, bahkan pasiennya semua tidur. :| :|

Hal ini sudah dibuktikan oleh partner jaga saya dan beberapa residen yang jaga poli. Agak sedih sih, soalnya waktu koas gini harusnya banyak-banyak lihat kasus, belajar dari pasien, nyocokin teori sama yang asli. Nah kalau ngga ada pasien? Ngga banyak belajar. Tapi kalau berdoa biar banyak pasien, berarti mendoakan orang lain ketimpa musibah dong .___.v Ya walaupun bener-bener ngga ada pasien sih, tapi kasusnya ngga sebanyak temen-temen lainnya.

Jadi mikir, besok kalau buka praktek terus sepi gimana ya … Tapi kalau jadi dokter umum di era JKN (BPJS) gini ya lumayan kaya sih, kalau banyak yang sehat, duitnya masuk ke kantong sendiri. :))

Anyway! Minggu depan saya koas di Wates lho. Cuma seminggu sih, dan itu pun mau ngelaju aja, 1 jam perjalanan dari Yogya. Katanya di Wates banyak pasien gitu. Mari kita buktikan kebenaran mitos bahwa saya adalah koas penolak pasien muehehe.

keluarga baru <3
keluarga baru <3

Bismillahirrahmanirrahim, wish us luck! ;)

Together

Tomorrow is the first day of co-ass. And I am so f-ing scared. Well, I think we all are feeling the same way.

Why are we all scared? Because we don’t know what might happen, and that’s normal. And the only thing to lessen our fear is to be together, to know that you got a friend beside you, and we will always have each other’s back.

Bersama kita bisa. Kita bisa bersama-sama.

There is no need to be the first. There is no need to be the star. There is no need to be the one. Not yet. Always note to yourself that this is not a competition. This is a lesson. A phase that we all need to pass, and we will, together.

IMG_2500

And don’t forget that in the end, what we really have is only memories. Let’s assume that we all have only one chance to pass this phase, so make one that counts. Make this step count as a good memory that you’ll remember until the time comes when your hair turns grey.

The last but not least, don’t worry, With a good intention, a good decision, insya Allah will make a good result. Bismillah!

Koas

Halo!

Hari ini penutupan pembekalan rotasi klinik/clinical rotation (aka koas). Tension Headache udah lumayan berkurang sih, mungkin karena udah tau siapa aja temen sekelompok buat 2 tahun kedepan, dan udah tau stase pertamanya apa, jadi lebih santai. Tapi masih lumayan sakit sih ini kepala :|

Ternyata ngga cuma saya yang cemas dan takut dan khawatir dan lain sebagainya tentang koas. Mungkin 167 anak koas gelombang 1 merasakan hal yang sama. Tapi kadarnya dan yang terbaca di permukaan berbeda-beda. Tinggal coping mechanismnya aja gimana. Mungkin kalau semua menyadari bahwa pendidikan profesi ini adalah proses kita bersama, bahwa kita berada di titik dan nasib yang sama, bahwa beban yang kita pikul itu sama, semuanya akan jadi lebih mudah. Dengan merasakan hal yang sama, kita akan bersama-sama, dan dengan cara itu kita bisa bertahan. Ya kan? “Bersama kita bisa“.

Anyway, anggota kelompok koas saya seru-seru, kayanya sih ngga ada yang manikom (read: maniak kompetensi, orang yang selalu proaktif dalam mengejar kompetensi selama masa pendidikan profesi/koas), ngga ada juga yang males-malesan. Bisa dibilang kelompok koas saya ini lumayan linear (first impression sih). Yang paling bikin bahagia adalah bisa satu kelompok koas sama Sondang Hazewinkel Suringa Siagian, she is one of my best friend di FK. Selain orangnya super baik dan sangat satu frekuensi dengan saya, dia juga asisten dosen Dept. Anatomi. Mantap kali! ;)

Oh iya, stase pertama kami adalah Mata. Kata kakak kelas sih ini stase menyenangkan. Besok Senin, 16 Maret 2015 udah mulai masuk rotasi klinik ke Dept. Mata. Bismillahirrahmanirrahim, semoga beneran menyenangkan, aamiin!

IMG_2500

Primum, no cere. Wish us luck!

Don’t downgrade your dreams just to fit your reality. Upgrade your conviction to match your destiny.

I Think I Want This Kind of Guy But I Don’t Think I’m Ready

Sejak papi sakit sampai beberapa bulan terakhir, saya masih menganut aliran “pingin fokus kuliah dulu”. Paham pikir semacam itu akhirnya membentuk pribadi yang pingin kenalan sama banyak orang, yang ngga mau terikat sama satu orang, dan cenderung untuk ‘menclok sana-menclok sini’. Karena kenalannya banyak, disangka yang ‘ngedeketin’ juga banyak. Dan akhirnya berujung pada digosipin sana-digosipin sini, disangka php-in yang sana, disangka mempermainkan hati yang sini. Capek. Banget.

IMG_2128

Nah, belakangan ini sering kepikiran buat punya satu orang yang bisa diajakin diskusi, menggila, ngomongin hal random, sharing our dreams and hopes, main kesana kemari, nonton teater bareng, berkunjung ke tempat-tempat wisata dan bersejarah bareng, belajar bareng, ngegosip, cerita ngalor-ngidul, sampai cuma duduk di warung kopi tanpa ngobrol atau melakukan hal spesifik tapi ngerasa nyaman aja berduaan. Satu. Orang. Aja.

It’s like, you have someone, only one, that always be there for you, through every of your moods, the ups and downs. And for me, someone who can handle my mood swing (yes, please). You have that particular someone who accepts you as who you are and never complains about how moody you are, how ugly you are when you are sad, how funny you look when you can’t find a match dress. Someone who listens to every of your stories and never gets enough of it. Enak kali ya setiap pulang dari rumah sakit, lagi capek-capeknya, terus taunya ada orang yang siap mendengarkan keluh kesah mu. God! I want this kind of guy.

Susah sih emang nyari orang yang bisa menerima kita apa adanya. Karena setiap orang itu beda. Kalau dia bisa menerima apa adanya itu hebat, berarti dia berhasil mengugurkan ego dia untuk menerima individu lain. Dengan dia menerima apa adanya, it shows us that s/he value her/his relationship that high. Keren aja gitu. Tapi ya sebagai orang yang diterima apa adanya bukan berarti kita jadi seenaknya juga sih.

“When I told you to be yourself, I didn’t mean you to bring out the worst in you, hon.” — @catwomanizer

This post is not for any particular person. Those thoughts just flashed to my mind few weeks ago, and I could’t handle myself but to continue making those thoughts getting bigger and bigger each day. Ya intinya, seneng kan ya kalau punya orang yang stick with you no matter what, dan kaya bikin hari-hari yang dijalani penuh semangat aja, we know for sure that we have someone waiting for our calls, texts, or our smile. Ha ha ha ha ha ha ha…

(ininulisapaansih) ._________.v

My Anxiety Lately

Awal Maret adalah hari-hari super bikin tension headache. Ngurusin berkas-berkas wisuda, verifikasi data, ngukur toga, pembekalan KKN, pembekalan pra koas, dan janji koas (OMG).

Pembekalan pra koas adalah yang paling berat, menurut saya. Dokter-dokter senior pada ngasih tau rules di rumah sakit, the do and the don’t, hierarki tak tertulis di rumah sakit, dan segala macam tentang per-koas-an yang menurut saya sangat menyeramkan.

Sekitar seminggu yang lalu, kami calon koas gelombang satu melalui tahap pemeriksaan kesehatan. Salah satunya ada psikotes. Waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu semacam self reflect dan tiba-tiba ngerasa, “gila, I am healthier than ±2 years ago.” Karena setelah masuk kuliah tahun ke empat, saya udah ngga pernah lagi ngerasain tension headache, mual-mual ngga jelas, pusing, dan demam tanpa sebab. Ya, mungkin karena masuk semester tujuh itu saya mulai bisa menikmati kuliah di kedokteran kali ya ._. Tapi, setelah ikut pembekalan pra koas, rasanya segala tension headache dan penyakit-penyakit lain yang udah lama sirna itu muncul lagi. I am so f-ing scared.

Super takut sama segala per-koas-an. Takut bakal ketemu pasien sungguhan, nyawa beneran, di hadapkan antara Surga dan Neraka, darah beneran, udah bukan pewarna lagi. Takut kalau ngga bisa bawa diri dan jaga sikap besok kalau di rumah sakit. Takut kalau ngga bisa beradaptasi sama lingkungan kerja. Takut kalau kena marah terus sama tenaga kesehatan yang udah senior. Takut kalau… etc. Se-takut-itu.

Sampailah di hari Selasa, 10 Maret 2015, kami angkatan 2011 melaksanakan janji koas. Waktu baca janji koas bareng temen-temen rasanya merinding disko, dan pingin nangis. It is a big deal. The white coat, the hospital name tag, and the responsibilities. Allah Maha Besar!

La hawla wala quwwata illa billah. Udah ngga tau lagi harus nulis apa. Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah memberi kemudahan dan kelancaran, aamiin. Mohon doanya supaya bisa melalui koas dengan penuh menyenangkan, dapat pengalaman yang baik dan berharga, bisa menyelesaikan koas tepat waktu dan nilainya maksimal semua, Allahuma aamiin. Oh  iya, yang paling penting: semoga teman sekelompok koasnya super menyenangkan dan bisa diajakin main dan belajar secara simultan, yang ngga manikom (maniak kompetensi), yang humble dan mau share materi dan keterampilan, mau diajakin explore the city (hahaha), aamiin.

Note to self: Semangat! Apapun yang terjadi nanti dihadapi dan harus berani. Kaya kata salah satu dosen pemateri kemarin, “Hadapi tembokmu!” Dan harus sehat, no more tension headache! Masa iya mau menyehatkan orang tapi sendirinya ngga sehat. And “God didn’t bring you this far to leave you.” ;)
 Pardon my face :p
Pardon my face :p

All I can say for now is that you can do this. It’s normal to feel scared. – Laksita Kartikaratri, March 2015.

Kabur ke Solo

Membuka bulan baru dengan pengalaman baru!

Minggu, 1 Maret 2015 lalu saya ke Solo! *yeay* Sebenernya bisa dibilang saya ini perempuan kuper (kurang pergi). Saya ngga pernah pergi tanpa izin orang tua, main keluar kota, melakukan perjalanan jauh tanpa orang tua. But I did it yesterday, all the above! Saya ngga izin, ke luar kota, tanpa orang tua. HAHAHA anak durhaka. Ya gimana, kalau izin pasti ngga dikasih pergi. Kalau ngga pergi, kapan lagi? :p Lumayan deg-degan sih waktu di jalan, takut terjadi sesuatu, tapi ya disitu seninya ngga izin: bisa menambah keimanan (read: dzikir terus sepanjang jalan).

Sebenernya, ngga ada tujuan khusus sih ke Solo, pingin pergi jauh dan foto-foto aja gitu. Akhirnya saya, Yohan, dan Ageng pun memutuskan untuk menghabiskan sisa Hari Minggu untuk wisata kuliner Solo. Berangkat dari Yogya jam 12.15 naik mobil, mampir drive thru McD buat sangu, beli bensin, terus tancap gas ke Solo. Perjalanan sangat lancar, ngga ada macet dan ditempuh ± 1,5 jam.

Tujuan pertama adalah Warung Selat Solo Mbak Lies, di Jalan Serengan 42. Tempatnya lumayan nyempil dan masuk gang gitu. Tapi worth it! Must try!

IMG_2056

Rasanya enak banget ngga bohong! Saya pesen yang kuah seger sih, tapi lebih photogenic kuah saus punya Yohan. Rasanya manis seger gitu, mungkin yang ngga begitu suka manis bakal merasa kemanisan ya, apalagi kalau dimakan bareng sama yang manis-manis (ehem) #apasih.

IMG_2057

Selesai mencicipi Selat Solo langsung di Solo (biasanya cuma makan dari catering di hajatan orang), kami berpindah ke Ralana Eatery di Jalan Brigjen Slamet Riyadi No. 301. Kata Ageng ini tempat baru gitu. Tempatnya bagus deh, harganya juga bagus. Dasarnya cuma mau numpang foto, ya akhirnya kami makan tengah (read: beli 1 untuk bersama).

0f9127c0d80a48ac876bf5ae408ceada

IMG_2053

IMG_2055

IMG_2054

IMG_2058

c02ff32a67b4441cb2768ffdbe8c6f8e

Selepas Ageng check in, dan saya puas foto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke Zappelin Eatery, di Jalan Imam Bonjol No. 12. Tempatnya juga lumayan bagus, designnya unik. Sebenernya Zappelin ini sempit gitu tapi dekornya dikasih kaca-kaca jadi kesannya luas. Di sini kami juga makan tengah.

8abd33daa34d4289a4c2dc7a1f39d011

IMG_20595c27bd22d7d04cf4a056e974e4c783d3
Setelah agak lama nongkrong di sana, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Gede Hardjonagoro. Masih suasana Imlek, jadi banyak lampion di sana. Sayangnya waktu dateng udah agak gerimis gitu jadi fotonya kaya keburu-buru. :(

1734fcc6392845aab55c24bf99f3ea1e

IMG_1972 IMG_2043

e98373459e7d4c028e8aa8005aa59880

IMG_2045
Sebelum hujan deras mengguyur Solo, kami sudah sigap masuk ke mobil dan menuju Cafe Tiga Tjeret di Jalan Ronggo Warsito No. 97. Karena saya sudah kekenyangan, akhirnya yang jajan cuma Yohan dan Ageng. Model angkringan gitu tempatnya. Design interiornya kreatif!

IMG_2060

IMG_2022

IMG_2061 IMG_2062

Cafe Tiga Tjeret menutup kuliner Solo, dan kami menuju Yogyakarta. Sampai di rumah jam 21.36, jadi ngga dicurigai papimami hahaha.

Well, perjalanan tanpa izin (kabur) ini mungkin adalah my wrong move as a child. I know, it was a big mistake. Tapi, untuk ukuran anak yang ngga pernah pergi-pergi tanpa orang tuanya, kebahagiaan dari sebuah perjalanan yang berhasil dilakukan tanpa izin itu melebihi kebahagiaan dari perjalanan itu sendiri. It means something bigger than just a trip. There was a freedom in it, and more importantly ada perasaan semacam ‘pembuktian diri’. I don’t know what I’m trying to say here, but the thing is I was so happy and I still am. If you were in the same car with me as we touched down the city, you’d see my big happy non-stop smile hanging on my face, all the way. As my mind kept saying, “Oh my God I did it!” until I reached my bed at home. So, yes, it was my new achievements of this year.

Terima kasih banyak sahabat dahsyat, Yohan, for helping me checked my bucket list of 2015. It is a big deal for me. Terima kasih juga sahabat unyu, Ageng, yang udah jadi tour guide paling heboh dan menyenangkan dan memuaskan! Semoga makin laris “disewa” untuk memperkenalkan Solo. ;) By the way, orang tua saya sudah tau tentang kepergian tanpa izin ini dari salah seorang saudara saya. Tapi beliau berdua biasa saja menanggapi cerita saya. Mungkin kalau saya tiba-tiba ke Semarang beda cerita ya :p 

My goals are to be happy, healthy, and surrounded by loved ones. – Kiana Tom

I swear I won’t do this anymore and any further, chill daddy-mommy, chill. I know who I am. ;) AND I am so welcoming March with a new bright hope and can not wait to see new achievements! *grin*