Muslimah Jawa

Menurut hemat saya, perempuan yang lahir di tanah Jawa, yang masih kental dengan budaya ‘ketimuran’ dan juga dibesarkan dengan dasar ajaran Agama Islam adalah perempuan yang memikul beban mental lumayan berat. Terlebih lagi kalau perempuan tadi punya sifat dasar rebel dalam dirinya. Dua hal tersebut (Jawa dan Muslim) jika dipadukan akan membuat formasi seperti kerangkeng besi untuk manusia yang terlahir dengan jenis kelamin perempuan, yang rebel.

Kerangkeng itu bentuknya adalah norma-norma di masyarakat dan ketentuan hukum Agama Islam, yang mengikat dan membatasi gerak para Muslimah Jawa. Bukan hanya geraknya, tapi juga cara berpikir dan berkeputusannya pun seperti terbelenggu. Melulu harus seperti itu, seperti yang dahulu, seperti kata para pendahulu.

Sejak di bangku SMP saya berpikir bahwa Muslimah Jawa tidak akan pernah memiliki dirinya sendiri. Ya gimana, sebelum menikah ia milik ayahnya, dan setelah menikah, ia jadi milik suaminya. Yah, kalau suaminya bisa diajak kompromi-kongkalikong, beruntunglah perempuan tadi. Lha kalau suaminya sama aja kaya ayahnya? Atau malah lebih parah? Mending mati aja ngga sih?

The worst thing in the world is when you can speak but no one is listening. Or you can’t even say a word.

Selain itu, tentang norma..

Perempuan, kalau pulang setelah adzan maghrib berkumandang akan dipandang sebagai perempuan yang ngga baik. Wanita muslim yang ngga berhijab dibilang belum “utuh”. Wanita muslim yang berkarya (main musik, bernyanyi, menari, pentas teater, baca puisi, story retelling, etc) disangka mengumbar aurat. Duh.

Perkara-perkara kecil seperti itu sering jadi besar kalau sudah diselenggarakan sidang di meja pedagang sayuran ideran, yang dihadiri jaksa penuntut umum aka ibu-ibu rumah tangga yang ngga ada kerjaan. Bagi mereka, dunia hanya sesempit kacamata dan seluas pandangan mata. (hmm).

Padahal kan..

Bisa jadi perempuan yang pulang larut malam itu sedang berusaha mati-matian untuk mengembangkan senyum bahagia dan bangga dari kedua orang tuanya. Untuk dapat gelar sarjana, misalnya.
Bisa jadi perempuan yang kepalanya ngga ditutup kain hijab itu hatinya sudah berhijab lebih baik daripada yang sudah menutup kepalanya.
Dan tentang berkarya…. saya cuma bisa bilang, tergantung niatnya. Kalau sedikit-sedikit dikaitkan dengan aurat, ya bye aja perempuan di Indonesia cuma bisa mengikuti anekdot Jawa, “dapur, pupur, kasur.” Memang di sinilah terkadang dilema muslimah yang ingin (dan bisa) berkarya, dimana ada karya terbentur agama.

Jadi, selain ngga bisa memiliki dirinya sendiri, Muslimah Jawa ini juga terbatasi dengan “cibirian ibu-ibu yang nongkrong di tempat jual sayur pagi hari” yang kemudian disebut norma yang berlaku di masyarakat. Muslimah Jawa ini hanya bisa diam dan patuh dan mencari hikmah. Tau sendiri kan, manusia kalau udah kepepet cuma bisa mencari hikmah. Ambil sisi positif dan selalu berdoa supaya Allah memberi kekuatan kepada hamba-Nya. Ya supaya jadi perhiasan terindah di bumi. *smirk*

Parents always seem to forget that it’s their kids’ lives, not theirs.

6 thoughts on “Muslimah Jawa

  1. Yang pertama, jngan terlalu menghemat pikiran mbakyu, kadang terlalu hemat jga krang pas. Yang kedua mngkin bsa coba untuk mengintegralkan agama dan kehidupan mbakyu bukan untuk menyeimbangkanya.
    Yang ketiga, jangan lupa kita ini makhlukNya, udah untung dikasih hak buat berpikir,tp d smping hak jga ad kewajiban. Nah smoga aj ngga sllu mnuntut hak, tp jg mnjlnkn kewajiban. Mengenai ttg hijab bsa d bilang klo itu cara Tuhan melindungi muslimah .
    Semangat mbakyu, ngapunten niki malah cerewet :)

    1. hi! thank you for stopping by and leaving a comment. uhm, I think you’re missing a big point that I wanted to say on this post, dear. I know this post is very debatable (especially if you are Javanese and Moslem), but it’s okay. Please look at the big picture I tried to capture there. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s