Statusmu, Harimaumu

Bukan! Bukan status kejombloan kamu. Status disini maksudnya adalah status di media sosial. :p

Beberapa hari yang lalu, banyak orang mengantri beli bensin dengan damai di SPBU. Ada yang mengisi waktu mengantri dengan check in atau live report di daerah antrian. Semua masih tertib di Kota Jogja. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang…

**

Mungkin teman-teman udah tau tentang berita Florence Sihombing, mahasiswi S2 Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang menyulut kemarahan warga Jogja. Singkatnya, dia mau beli bensin kendaraan roda dua. Berhubung bensin baru langka dimana-mana, jadi harus antri. Melihat antrian motor yang panjang, dia langsung menyerobot ke antrian mobil (mungkin dia kebelet pipis). Ya jelas aja pembeli yang udah antri marah-marah dan menyoraki dia, dan petugas SPBU menolak untuk melayani meskipun dia udah di depan sendiri.

Karena kesal ngga dilayani, dia update status di media sosial bernama Path. Nah, ini nih yang bikin geger warga Jogja:

jogja
Status Path Florence Sihombing

Siapa yang ngga marah baca tulisan kaya gitu? Kota-seisinya dihina sama satu orang yang ‘numpang’ sekolah. :)

Yang bikin geregetan adalah dia bisa-bisanya bilang “Jogja tak berbudaya.” Halo? Ngomongin Jogja ngga berbudaya? Lah situ nyerobot antrian, menurut ngana itu berbudaya? Gini, kalau ngga kuat sama budaya di Jogja ya mending hengkang saja. As simple as that. ;)

Ngomong-ngomong tentang hengkang, beberapa warga sampai bikin aksi demo di Bundaran UGM untuk meminta Florence angkat kaki dari sini.

Aksi demo di Bundaran UGM minta Florence Sihombing angkat kaki dari Jogja
Aksi demo di Bundaran UGM minta Florence Sihombing angkat kaki dari Jogja

Mungkin kalau dia nulisnya ngga bawa-bawa kota Jogja, yang ngehujat dia ngga bakal seluruh warga Jogja, ya? Hahaha. Kesalahan banget.

Florence update status di Path tanpa menyertakan almamaternya. Tapi, salah seorang dosen FH UGM juga ikut menyumbang komentar tentang kejadian ini. Menurut saya, hal ini ngga berlebihan. Karena memang apa yang dilakukan mbak Florence ini keterlaluan.

<span style=
Dosen FH UGM ikut berkomentar melalui akun Facebook beliau.

 

Dipakai atau tidak almamatermu, warna jas itu akan terus melekat pada tubuhmu.

 

Kemana pun kita pergi, daerah asal, almamater, dan nama keluarga akan terus bersama kita. Wajar dong kalau saya meributkan masalah akun palsu yang menggunakan nama almamater saya? Udah paham kan maksud tulisan saya? :p

Kasihan juga sih mbak Florence ini dihujat dimana-mana. Bahkan doi sampai menghapus akun Twitternya, karena banyak yang memberikan kritik tajam gara-gara status di Path miliknya. 

Permintaan maaf Florence Sihombing melalui akun Pathnya.
Permintaan maaf Florence Sihombing melalui akun Pathnya.

Ada dua hal yang aneh dari gambar di atas. Satu, kata mendramatisir. Kalau boleh saya mengingatkan mahasiswi S2 Fakultas Hukum ini bahwa inilah yang disebut dengan bentuk nyata patriotisme-nasionalisme. Mungkin kalau ada orang menghina kota Medan, Anda juga akan sama marahnya seperti kami. Dua, kata menyebarluaskan status Path. Kalau boleh mengingatkan lagi, di status Path sebelumnya, Anda mengizinkan teman Anda untuk me-repath status Anda. Kenapa mempermasalahkan itu? :)

Dari peristiwa ini, kita bisa mengambil pelajaran yang salah satunya adalah harus bijak dalam memilih apa yang baik ditulis di media sosial dan apa yang lebih baik ditulis di catatan harian seorang mahasiswi. Karena tidak akan ada asap kalau tidak ada api. *wink*

Photo, Photo, Photo, Photo

Advertisements

Akun Palsu Pakai Nama Lembaga Resmi?

Selamat datang Gadjah Mada Muda!

<span style=
PPSMB Palapa 2014 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta


Gambar di atas dibentuk oleh seluruh mahasiswa baru yang menjalani OSPEK di Universitas Gadjah Mada 2014 lho. Keren kan? ;)

Anyway! Semester baru, adik kelas baru, tapi status masih sama aja kaya tahun lalu. Hahaha ngga apa-apa. Mending kita ngomongin hal baru yang lagi hits banget di Kampus Biru, adalah akun-akun palsu di media sosial Instagram (IG) yang isinya bidadari dan bidadara (?). Lahan banget buat para jomblo yang dikejar-kejar umur :p (wait, that sounds familiar).

*benerin kerah*

Jadi, sekarang lagi pada ramai ngebahas akun-akun palsu yang mengunggah foto milik mahasiswa/i yang kecantikan dan kegantengannya melebihi ambang batas nalar manusia. Sebenernya ada juga akun yang bawa nama Indonesia, tapi ngga begitu ngehits di kalangan mahasiswa, mungkin karena ngga bersinggungan langsung dengan kehidupan perkuliahan kali ya (dan aslinya saya ngga begitu tertarik untuk ngebahas itu sih). Entah siapa yang mulai duluan, yang jelas akun-akun palsu tersebut membawa nama lembaga perguruan tinggi. Akun-akun tersebut bukan paparazzi yang mengunggah foto hasil ‘hunting’ mereka, melainkan mengambil foto dari akun IG resmi milik para mahasiswa/i yang bersangkutan.

Kemudian pertanyaan yang muncul adalah: Bolehkah menggunakan nama lembaga resmi untuk akun palsu di sosial media?

Saya ngga tau pasti jawabannya, makanya saya tanya (hahaha). Kalau boleh jujur ya, call me old fashioned, saya ngga setuju dengan akun palsu yang membawa nama lembaga resmi, terlebih lagi lembaga pendidikan. Walaupun saya yakin ngga ada diantara admin akun-akun itu yang memiliki niat buruk terhadap suatu lembaga (terlebih lagi jika mereka berada di lembaga tersebut), dan sebenarnya not a big deal juga sih, toh mereka cuma bersenang-senang dan memanfaatkan waktu luang (?). Tapi, kalau menurut saya nama lembaga pendidikan ngga cocok untuk dijadikan bahan bersenang-senang.

Saya mendapati ada akun IG yang membawa nama UGM, menjawab pertanyaan dari sesama akun palsu dengan pemilihan kata yang kurang tepat (via ask.fm). Mungkin karena tersulut emosi si penanya ya, soalnya yang nanya juga keterlaluan sih.

Bahkan, lebih parahnya lagi, admin dari akun yang membawa nama UGM tadi menceritakan kalau dia sampai diteror oleh akun palsu lain yang mengaku dosen salah satu fakultas (sadly ngakunya dari Fakultas Kedokteran, hiks), intinya minta untuk aktivitas mengunggah foto dari mahasiswa/i tersebut dihentikan. Sebenarnya, menurut saya pribadi, kalau masalah mengunggah foto itu terserah pemilik fotonya, yang menjadi sorotan saya pada tulisan ini adalah nama lembaganya, nama UGM-nya.

Dari situ, terkesan kegiatan bersenang-senang tersebut mencoreng nama baik UGM dan fakultas yang dibawa-bawa. Ngga tau ya, mungkin saya yang terlalu lebay memikirkan nama baik UGM dan fakultas, padahal yang dipikirin santai-santai aja (hiks). Tapi, hati saya masih belum bisa legowo dengan penggunaan nama lembaga, khususnya UGM, untuk kepentingan bersenang-senang tadi.

Saya sudah coba melihat dari sudut pandang admin akun palsu, tapi saya belum bisa menemukan manfaat dari dibuatnya akun itu selain ‘mendapat popularitas’. Mungkin, jika akun itu tidak hanya mengunggah kecantikan dan kegantengan, tapi juga mengunggah prestasi dari mahasiswa-mahasiswinya akan lebih bisa diterima. Karena, toh, cantik itu bukan prestasi. Pretty face is a gift from your God. Tapi ya, zaman sudah beda sih ya. Hahahahahahaha.

Mohon maaf lahir dan batin untuk semua admin akun palsu yang secara ngga sengaja membaca tulisan ini. Mungkin admin-admin yang punya banyak waktu luang bisa bantu saya menjawab pertanyaan di atas. ;)

*sungkem*

Photo