Nyeri dan Sugesti

Yuhuu!

Pagi tadi, saya ikut kuliah dengan topik yang sangat menarik. Semenarik itu sampai saya tulis dan publish. Judul kuliahnya adalah Pain (Nociceptic and Neuropathic), yang disampaikan oleh dr. Yudiyanta (Consultant on Pain and Headache, Sub-Depepartment of Neurology UGM). Too bad kuliahnya cuma satu jam, padahal materinya banyak dan sangat menarik. Well,

pernah dengar tentang sugesti?
Kalau tentang sugesti positif bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan rasa nyeri, pernah?

Jujur, saya percaya adanya keberhasilan sugesti terhadap segala yang terjadi di dunia ini.

Kalau kamu berfikir positif terhadap sesuatu (sugesti positif), maka alam raya dan isinya akan membantumu mewujudkannya. — Dini Maynanda, 2007

Hanya saja mekanismenya belum terjangkau oleh logika saya. Jadi, saya percaya akan hal itu semacam telan mentah saja gitu. Lalu kuliah pagi tadi menjawab rasa penasaran saya dan membuat yang saya telan ngga mentah lagi. Saya akan coba menjabarkan dengan bahasa saya, semoga ngga ada bias makna karena kesalahan redaksi. Dan semoga yang saya tulis ini benar adanya, supaya ngga jadi dosa jariyah. Please let me know kalau ada yang perlu dikoreksi. ;)

 

Sebelumnya, kita perlu tau 1) Apa itu nyeri?

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional, dimana persepsi nyeri itu sendiri sangat subjektif dan terdiri dari beberapa dimensi. Pengalaman sensori contohnya: waktu kecil Anda ketusuk jarum dan merasa nyeri, sejak saat itu sampai sekarang Anda tau kalau tertusuk jarum itu akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pengalaman emosional contohnya: detik-detik menjelang ujian atau presentasi proposal penelitian, Anda merasa mules (rasa ngga nyaman di perut), atau Anda melihat mantan pacar yang pernah menyakiti Anda lalu muncul rasa mual dan keringat dingin, itu ada keterlibatan emosi. Mengenai dimensi ngga akan dibahas di sini, meskipun berkaitan.

 

Nah, sekarang kita bahas 2) Kok kita bisa merasakan nyeri?

Jadi, di tubuh kita itu ada saraf yang jobdes-nya ngurusin nyeri, namanya nociceptor (reseptor nyeri). Gampangnya, semisal kita ketusuk jarum, nah si nociceptor ini akan menyampaikan ke otak kalau ada nyeri di lokasi ketusuk jarum tadi. Lalu otak akan memproses sinyal dari nociceptor tadi. Penjelasan barusan kita kenal sebagai ascending input (dari nociceptor sampai ke otak). Sinyal tadi diproses sama otak dan menghasilkan persepsi, yaitu nyeri. Akhirnya, persepsi tadi dikembalikan lagi ke lokasi ketusuk jarum. Jadinya, kita bisa merasakan nyeri di lokasi tersebut. Penjelasan barusan kita kenal sebagai descending modulation. 

 

Akhirnya kita sampai pada pertanyaan inti 3) Pengaruh sugestinya di mana?

Sinyal yang disampaikan saraf dari lokasi nyeri ke otak adalah sinyal dengan intensitas yang asli. Misalnya, ketusuk jarum itu nyerinya sebesar 10 mV (cuma contoh), maka yang diterima otak rasa nyerinya sebesar 10 mV, melalui ascending input. Ketika otak memproses sinyal tersebut, ada faktor yang mempengaruhi hasil dari proses tadi, yaitu sugesti. Persepsi yang sudah ada unsur sugesti tadi akan disalurkan kembali ke lokasi nyeri melalui descending modulation.

Semisal Anda ketusuk jarum, lalu Anda bersugesti positif–bahwa jarum tadi hanya melukai setitik dari bagian tubuh Anda dan tidak akan menimbulkan efek apa-apa, dan ngga akan merasa nyeri hebat–nantinya, sinyal nyeri yang tadinya sebesar 10 mV, hanya akan dikembalikan sebesar 5 mV ke lokasi nyeri. Bisa juga ketika Anda ketusuk jarum, lalu lokasi nyeri tadi diraba dengan lembut oleh kekasih Anda, kemudian Anda merasa nyeri tadi hilang seketika.

Namun, jika Anda bersugesti negatif--bahwa nyeri ketusuk jarum ini rasanya sebanding dengan nyeri digigit harimau, dan Anda akan segera mati–nantinya, sinyal nyeri yang tadinya sebesar 10 mV, akan dikembalikan sebesar 15 mV.

 

Terjawab sudah pertanyaan mengenai hubungan nyeri dan sugesti. Tapi, jangan berfikiran kalau sugesti positif itu bisa menyembuhkan nyeri. Yang ada, sugesti hanya memanipulasi  rasa nyeri. Karena, sugesti tadi tidak mengobati penyebab nyerinya (ketusuk jarum), tapi hanya mengelabuhi otak terhadap sinyal nyeri.

 Mulai sekarang, mahasiswa kedokteran kalau punya pacar harus bisa melihat, calon Anda itu kira-kira kalau jadi suami atau jadi istri bisa menahan atau tidak menghadapi goncangan yang terjadi di dalam rumah tangga. Bisa dilihat dari sekarang, dengan memahami descending modulation ini. — dr. Yudiyanta, 2014

 

Maksudnya, orang yang bersugesti positif terhadap apa yang terjadi pada dirinya, melalui descending modulation persepsi terhadap nyeri ngga akan lebay, jadi orang ini ngga akan bawel, atau bahasa Jawanya ora kakehan sambat.

Yuk bersugesti positif, biar enteng jodoh. *wink*

4 thoughts on “Nyeri dan Sugesti

  1. Kulit kita ini secara kodrati, sakit kalo dicubit, luka kalo kena jarum. Di sisi lain, rasa sakit itu juga anugerah Allah yang alamiah, bahwa ada sesuatu yang merusak jaringan kulit dan daging. Pembahasan yang menarik. Nice post. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s