Dilema Memilih Dokter

Judul di atas bukan mengarah pada “memilih” untuk pasangan hidup ya, just in case you are reading this post for that matter. ;)

I chose dr. House’s picture for a reason that I will tell you in other space, not now. But this picture is really related to this post, for you who have already watched the dr. House series.

Sebagai pasien atau keluarga pasien, pasti kita memilih dokter terbaik untuk kesembuhan diri atau orang yang disayangi. Dan semua pasien atau keluarga pasien berfikir seperti itu. We always want the best for someone we love.

Akhirnya dokter terbaik tadi banyak dipilih pasien, yang berujung pada kesibukan sang dokter bertambah. Kalau sudah sibuk, jadwal visite (dokter berkunjung ke pasien opname/rawat inap) dan waktu untuk sekadar berbincang atau eksplorasi masalah pasien jadi berkurang. Ditambah pemeriksaan fisik jadi ngga menyeluruh karena, kembali lagi, waktu yang terbatas.

Jadwal visite berkurang bisa berdampak pada (1). Perasaan “terbuang” yang dirasakan pasien. Pasien akan merasa ngga diperhatikan oleh dokternya. Dan keluarga pasien akan (kemudian) mempertanyakan keseriusan sang dokter dalam merawat pasien. (2). Tindakan (entah memberi obat atau sekadar memasang jalur infus) untuk pasien jadi tertunda, karena perawat ngga berani melakukan tindakan kalau belum ada acceptance dari dokter yang menangani pasien tersebut, ujungnya? Bisa dibayangkan. (3). Dokter terbaik tadi ngga tau keluhan tambahan pasien yang ngga dilaporkan ke dokter jaga atau perawat. Siapa tau keluhan tadi bisa mengarah ke diagnosa, kan?

Waktu untuk ngobrol dengan pasien atau keluarga pasien berkurang bisa berujung pada (1). Dokter terbaik tadi ngga paham dengan kekhawatiran pasien atau keluarga pasien. Hal ini—paham kekhawatiran—penting, karena dengan dapat memahami kondisi dan kekhawatiran pasien dan keluarga, dokter jadi tau apa yang harus/ngga boleh dilakukan. Jadi bisa membuat nyaman semua pihak. (2). Dari ngobrol sama pasien, dokter bisa melihat kondisi umum pasien dan tau perubahan atau perkembangan yang terjadi pada pasien. Nah, kalau waktunya berkurang? You know the answer already, I know right.

Pemeriksaan fisik ngga menyeluruh, bisa dibayangkan bahayanya? Yang menyeluruh saja kadang ngga menemukan apa-apa untuk menegakkan diagnosis, apalagi yang ngga menyeluruh, kan?

Lalu, hal ini menimbulkan dilemma tersendiri bagi keluarga pasien.

Begini, saya orang Indonesia. Hidup dengan kebudayaan Timur, yang penuh dengan basa-basi. Mungkin bagi sebagian orang di luar sana, dengan kesibukan yang luar biasa, hal tersebut dinilai hanya buang-buang waktu saja. Padahal, perlu Anda ketahui bahwa penegakan diagnosis itu 80% dapatnya dari anamnesis (tanya-jawab dokter kepada pasien). Betapa besar porsi anamnesis dalam menegakkan diagnosa suatu penyakit, kan? Itu karena dari sekadar basa-basi (baca: eksplorasi masalah pasien), Anda bisa menemukan apa yang tidak Anda lihat, dengar, sentuh, ketuk, dan tekan. Selain itu, penting bagi dokter pilihan pasien untuk tau perkembangan pasien dari mata kepala sendiri, bukan hasil laporan via telepon atau sms dari para perawat atau dokter jaga. Dengan cara? Tatap muka, bicara, dan dengarkan. Saya paham dengan kesibukan para “dokter terbaik”. Karena saya paham hal tersebut, dan saya memosisikan diri pada point of view pasien-keluarga pasien, saya jadi bertanya, “Apakah pasien akhirnya harus memilih dokter “sembarang” untuk bisa memenuhi basa-basi ketimbang memilih dokter terbaik tapi pelayanan basa-basi sangat minim?”

Dear doctors, treat your patiens well, or someone else will. (Alternatif, dukun, kyai, rerumputan, etc.)

Semoga tulisan ini dapat menginspirasi teman sejawat calon praktisi kesehatan atau yang sudah terjun di bidang tersebut.

No, you are not deja vu. I, actually, tweeted some of the point of my thoughts on Twitter. And I thought it would be better if I write them down in my blog, so the messages will be delivered better. And this is it!:)

Photo Courtesy of unegunegeneg.wordpress.com/2011/03/29/hugh-laurie-as-dr-house/

2 thoughts on “Dilema Memilih Dokter

  1. Tulisan yang menarik..hmm. itu dilema bagi calon pasien. Bagaimana dengan dokternya?Apakah diperbolehkan membatasi jumlah pasien yg ia tangani, sehingga bisa lebih fokus dalam menangani pasiennya? atau menerima banyak pasien tp konsekuensinya penanganan kurang maksimal? #dilema

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s