Pitiks Bermuka Dua

Post ini lagi-lagi melanjutkan kisah dari post-post sebelumnya. (Bisa-bisa blog ini jadi catatan harian Pitiks).

Jumat pagi, 6 Desember 2013.

Saya ngga ada jadwal kuliah pagi. Tapi teringat kalau Pitiks mungkin sudah kelaparan dan dia harus minum obat. Jadi saya tetap berangkat ke kampus. Sebelumnya, saya beli makan untuk Pitiks di sebuah warung dekat kampus. Menunya sama seperti malam lalu, ikan tongkol bagian ekor.

Pagi ini saya miskom sama Chandra, saya kira dia ngga bisa bantu saya kasih makan Pitiks terhitung dari pagi ini. Jadi, saya kasih makan Pitiks sendirian, dengan sebelumnya cari bala bantuan (Adit, yang ngga berani kucing tapi bersedia nemenin. Tapi karena udah telat jadi batal nemenin. Dan Farid yang belum bangun waktu di-Line).

Sampai di kampus, buka kardus Pitiks, dan ternyata dia sudah bangun. Yang lebih mengejutkan lagi, ikan tongkol yang saya, Chandra dan Farid tinggal semalam sudah habis, tinggal tulang; bahagia itu sederhana. Lalu saya bawa ke semacam tempat duduk di bawah kanopi depan gedung kuliah. Prosesnya sama seperti yang sudah-sudah, pasang APD, lalu kasih makan dulu. Nah, berhubung saya cuma sendirian, Pitiks ini sangat pengertian. Dia makan sendiri ikan tongkolnya (dengan lahap), padahal sebelumnya harus disuapin.

Karena saya kasih makannya di pinggir jalan umum, jadi banyak yang mampir untuk melihat apa yang saya kerjakan. Sedikit ngga nyaman sih, tapi ya mau gimana lagi.

Nah, selagi Pitiks sarapan, saya nyiapin obatnya. Terus dia “meow-ing” (meong-meong), tanda kalau udah selesai makan. Dan saya mulai masukin obat ke mulutnya. Yang bikin terkejut lagi, Pitiks pagi ini sangat pintar, dia ngga berontak kaya sebelumnya. Dia minum obat dengan cepat, dan bahkan ngga perlu dipegangin lehernya pun bisa. Good boy. Setelah selesai, saya kembalikan ke tempat tadi dan sebelumnya saya taruh sisa ikan tongkol sarapan untuk makan siang dia.

Di tanggal yang sama, siang hari. Saya kuliah satu jam. Selesai kuliah, sebelum rapat, saya menjenguk Pitiks bersama Evita dan Jessica, and he’s gone (again). Super bete. Tapi semacam agak tenang soalnya udah tau spot-spot nongkrong si Hello Pitiks. Terus lanjut rapat.

Sore hari jam 17.30. Saya, Jessica, dan Evita baru selesai makan setelah rapat. Aslinya, Pitiks minum obat jam 19.00, tapi kata Jessica ngga masalah dikasih sebelum jamnya, daripada saya harus balik kampus lagi. Dan mereka berdua mau membantu saya nyari Pitiks terus kasih makan dan obat. Sweet ya mereka.

Waktu datengin kardus Pitiks, ternyata dia udah duduk manis di dalam! Meowing lagi. Saya haturkan terimakasih kepada siapapun Anda yang membawa Pitiks kembali ke kardus, sangat memudahkan saya dan (semoga) mempercapat proses penyembuhan Pitiks. *bowing* Terus waktu saya naruh tas dan siap-siap APD dan obat, ternyata dia makan ikan tongkol yang saya taruh di situ. 
“Sumpah ya, Tin, Pitiks bermuka dua deh kayanya. Tadi waktu kita dateng ikannya didiemin, eh waktu ngelihat kamu, ikannya langsung dimakan”,
Jessica komentar tentang sikap Pitiks yang sweet itu. Hehe, lucu ya Pitiks :3

Terus kami nungguin Pitiks selesai makan, saya sambil nyiapin obatnya. Jessica setia nungguin, Evita balik duluan karena rumahnya jauh, di ujung Bantul. Selesai makan, Pitiks meow-ing lagi, baru deh saya kasih obatnya. Nah, terus datanglah tiga pemuda nyamperin Jessica. Ya, biasa, tanya-tanya saya sedang ngapain, bahkan saya dikira dokter hewan yang khusus datang untuk menyelamatkan kucing FK *dududu*. Mereka adalah Ongki, Fandi, dan Thomas, angkatan 2013. Mereka ikut nugguin proses kasih makan dan obat si Pitiks. Bahkan Ongki membantu memberi penerangan (flashlight) melalui ponselnya. Dan Thomas bercerita seharusnya dia ada rapat BEM, AMSA dan sesuatu, tapi dia ngga ikut ketiganya tapi malah ikut nungguin Pitiks. Sangat sweet! Banyak yang sayang sama Pitiks; bahagia itu sederhana.

Akhirnya selesai sudah makan malam dan minum obat sore, dan Pitiks kembali ke kardus di bawah tangga.

Ongki tiba-tiba tanya ke saya sebelum kami semua berpisah, “Kak, kalau besok Pitiks aku keluarin boleh ngga? Takutnya ntar dia bosen.”

Bahkan, mereka bertiga menawarkan untuk membantu memberi makan dan obat ke Pitiks, tapi bisanya hari Senin. Bolbang! Alias boleh banget! *sumringah* Bagi yang mau ngajak Pitiks main atau jalan-jalan, sebenarnya boleh-boleh aja, asal dibalikin lagi ke kardusnya. Biar ngasih makan dan obatnya gampang, ngga perlu nyari muter-muter kampus gitu. Seneng deh kalau beneran ada yang mau ngajakin main, asal maklum, Pitiks kan masih 1,5 bulan (kata dokternya), jadi belum boleh mandi, makanya bau pesing-apek-gimana-gituh. Oya Pitiks itu jantan ya teman-teman. Sudah dicek dokternya, dan sudah di-recheck sama tiga pemuda sore tadi (NB: Thomas punya banyak kucing, jadi udah hafal).

Special thanks today to Jessica yang udah mau nemenin kasih makan dan obat Pitiks padahal kamu takut sama kucing. Terimakasih juga Evita yang udah bersedia nemenin nyari Pitiks padahal rumah kamu jauh dan senja udah meninggalkan langit, digantikan mega. Terimakasih juga untuk Disto, Lefi dan teman-teman lainnya yang udah jengukin Pitiks bahkan tanpa saya minta dan tanpa sepengetahuan saya, terharu! Ngga lupa terimakasih juga untuk Chandra yang selalu telfon saya untuk kasih makan Pitiks padahal kamu juga takut kucing, dan saya ingat waktu di RSH sendirian (sambil nunggu Kevin ke ATM), kamu yang langsung telfon untuk nawarin nyusul ke RSH setelah saya kirim sms “Sendirian di RSH”. Sejauh ini belum ada sahabat yang se-on call kamu. Terimakasih juga untuk tiga pemuda baik hati yang baru kenal sore tadi, Ongki, Fandi, Thomas, nice to meet you guys! :)

Pitiks bermuka dua: lucu dan nurut di depan saya, dan ngga ngerti di luar kaya gimana. Somehow that makes me happy. Dan sekali lagi, bahagia itu sederhana.

2 thoughts on “Pitiks Bermuka Dua

  1. titin rajin ngeblog lagi! sukak <3 seneng liat hubungan titin sama kucing barunyaa :3 (walaupun kita biasanya menjadi kubu anti kucing) haha loveyou!

    1. NAMAMU BEB OMAGAH -.-
      Hehe seneng e ada yang suka aku ngeblog lagi, bikin semangat nulis <3
      Aku gak yakin bakal masuk kubu pro kucing seperti dua ciwi lainnya beb, mungkin mulai sekarang aku netral hahaha. Loveyoutoo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s