Mencari Pitiks

Tulisan ini adalah kelanjutan dari kisah 4 Desember lalu.

5 Desember 2013, pagi hari.
Saya kirim pesan ke Chandra untuk membantu saya memberi makan dan obat ke Pitiks. Dia mau, dan singkat cerita kami sampai kampus. Otak saya agak konslet pagi tadi, niatnya ngasih makan Pitiks tapi malah ngga bawa makanannya. Ya udah, sama Chandra dibelikan Sego Njamoer yang udah buka jam 7 pagi. Terus saya juga ngga bawa air minum untuk melarutkan bubuk obatnya. Sangat konslet. Lagi-lagi Chandra yang membelikan air minum.

Lalu kami menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker dan gloves (sarung tangan), dan siap memberi makan Pitiks. Ternyata Pitiks ngga suka nasi, dan karena jamurnya ada di tengah-tengah gumpalan nasi, akhirnya saya memilah-milah nasi dan jamur lalu kemudian menyuapi Pitiks. Sementara itu, Chandra menyiapkan obatnya. Setelah Pitiks ngga mau makan lagi, Chandra mulai memasukkan obatnya ke mulut Pitiks pakai spet injeksi. Yah, karena pahit ya (kata mbak koass kemarin), jelas aja Pitiks memberontak. Tapi akhirnya bisa masuk semua obatnya. Terus kami taruh ke dalam kardus dan ditinggal di dekat parkiran sepeda. Dan kami telat datang tutorial. Nice.

Setelah tutorial, saya ada praktikum. Di perjalanan menuju gedung praktikum, saya menceritakan tentang Pitiks ke teman-teman sekelompok. Dan mereka menjenguk Pitiks yang masih duduk manis di dalam kardus. Selesai praktikum dan makan siang, saya dan Jessica mengunjungi Pitiks lagi, dan he’s gone. Lemes seketika. Bingung kan ngasih obat sorenya gimana kalau dia hilang gitu. Mana dia kan masih pincang, kasihan kan kalau jalan terus. Akhirnya Jessica pulang dan saya jalan menuju parkiran. Di jalan, ketemu Jessica naik mobil dan dadah-dadah ke saya. Ya refleks balik dadah-dadah sambil jalan. Pas balik badan, nabrak cagak (tiang). Malu super. Ini tanda udah sangat teler. Akhirnya setelah ikut merayakan ulang tahun Adit (Selamat ulang tahun, Christiana Dita Natalia!), saya pulang dan bocicu (bobo ciang lucu).

Sore hari di tanggal yang sama. Saya bangun tidur, dan mendapati ponsel penuh notifikasi. Ternyata Chandra nelfonin saya sore itu, karena sebelumnya udah janjian mau ngasih makan dan obat sore. Singkat cerita, saya jemput Chandra, beli makanan untuk Pitiks, lalu ke kampus. Pencarian pun dimulai.

Kami dengan kostum gembel menyusuri setiap sudut kampus yang sedang ada acara GIMSCO (Gadjah Mada Indonesian Medical Science Olympiad) dengan perserta berpakaian rapi, bau wangi, dan jas almamater warna-warni. Kami dengan percaya diri tetap mencari Pitiks. Tanya orang sana-sini ada yang lihat kucing kecil berwarna kuning emas jalan agak pincang, ngga ada yang lihat. Akhirnya, kami jalan ke Masjid Ibnu Sina. Di sana ketemu sama Fahmi dan Farid. Setelah ditanya, ternyata Farid sore tadi lihat Pitiks, katanya si Pitiks ikutan foto bareng anak-anak TBMM Panacea (Tim Bantuan Medis Mahasiswa) di depan Grha Wiyata, lokasi dimana saya nabrak cagak. Huft.

Akhirnya Farid mau membantu mencari Pitiks dan meninggalkan Fahmi sang Presiden Mahasiswa yang sedang menyiapkan diri untuk acara GIMSCO. Dan berangkatlah kami bertiga mencari Pitiks. Berpencar di taman Grha Wiyata. Setelah sekian lama, akhirnya ketemu juga Pitiks yang lagi ndlosor di karpet pintu selatan Grha Wiyata. Saya dan Chandra memasang APD, dan menggendong Pitiks menjauhi para tamu undangan dan panitia di gedung itu.

Di tangga gedung yang sama, saya dan Chandra memberi makan Pitiks. Ngga lama setelah itu, Farid datang. Karena dia cuma nganggur, akhirnya dia mendokumentasikan yang kami kerjakan. Ini dia gambarnya:

Ini gambar lagi kasih obat ke Pitiks
Ini gambar lagi kasih obat ke Pitiks
Ini juga gambar baru kasih obat ke Pitiks
Ini juga gambar baru kasih obat ke Pitiks

Gambar di atas ngga seserem yang teman-teman bayangkan kok. Itu lagi memfiksasi biar kepala Pitiks ngga goyang-goyang, obatnya kan pahit (kata mbak koass kemarin), jadi Pitiks susah minum obatnya.

Setelah selesai makan dan minum obat, kami kembalikan Pitiks ke kardus dan ditaruh di bawah tangga gedung kuliah, dengan sebelumnya saya kasih tulisan “Jangan dipindah atau dikeluarkan, kucingnya lagi dalam pengobatan” (lupa redaksinya, intinya begitu). Sisa hari pengobatan tinggal 4 hari. Semoga waktu kontrol ke dokter, Pitiks sudah membaik yah, aamiin.

Oya, di post ini, saya mau berterimakasih kepada teman-teman yang ikut peduli dan aksi dalam menolong Pitiks. Terimakasih kepada Safira, Nadia, Marta, Seisar, Kevin, Chandra, Farid yang sudah aksi. Dan terimakasih Keluarga Tutorial 6 udah jenguk Pitiks dan showing your care. Terimakasih juga ke Presiden Mahasiswa FK UGM yang udah dengan sabar mau ndengerin keluh kesah saya waktu nyari Pitiks, dan mau direcokin tentang Pitiks waktu persiapan GIMSCO. Terimakasih juga sahabat-sahabat saya yang kasih masukan-masukan cara merawat kucing, Inas, Talitha, Nisita, Nabila. Terimakasih banyak! :)

Oh, lupa. Pitiks itu punya nama lengkap loh. It’s Hello Pitiks. *ting*

Ini adalah pengalaman terkonyol yang pernah aku lakukan seumur hidup. Gila, Tin! Ini gila!

kata Chandra sambil tertawa, di tengah-tengah pencarian Pitiks.

2 thoughts on “Mencari Pitiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s