Pitiks Dilarikan ke Rumah Sakit

Di tengah kisruh kasus Dokter-Hukum-Pasien, saya menulis kisah sedih tentang seekor kucing.

Jadi begini ceritanya, 2 Desember 2013 saya dan teman-teman di kampus mendapati seekor bayi kucing berjalan sendirian di lobby gedung/ruang kuliah (atau biasa disebut Lobby RK). Bayi kucing itu warnanya kuning emas, dengan bulu ngga beraturan dan sangat kurus. Bayi kucing tadi terlihat kelaparan, kedinginan, dan butuh kasih sayang. Dari awal ngelihat bayi kucing tadi rasanya udah pingin meluk. Tapi apa daya, saya ada praktikum, jadi ngga bisa berkontak lebih lama sama bayi kucing imut berbulu njabrik-njabrik tadi *padahal kalau ngga ada praktikum juga kemungkinan meluknya 0,05% doang. Dan entah kenapa saya memanggil dia Pitiks, maka jadilah namanya Pitiks. Waktu menuju gedung praktikum, saya melihat si bayi kucing ini a.k.a. Pitiks, sedang makan potongan ayam, entah dari orang dermawan mana. Dia makan dengan lahap.

Besok harinya, 3 Desember 2013, malam hari. Saya baru latihan drama musikal bersama teman-teman MNC (Medical Night Concert). Saya melihat si Pitiks sedang terbaring lemah di karpet hijau, dekorasi untuk acara besok paginya. Sedih banget rasanya lihat bayi kucing, sendirian, menggigil, kelaparan di tengah udara dingin dan lingkungan berisik karena untuk latihan drama. Dan setelah saya perhatikan, sepertinya kaki Pitiks bagian kanan cidera. Tambah sedih. Ini dia gambarnya:

Pitiks di atas karpet hijau, 3 Desember 2013
Pitiks di atas karpet hijau, 3 Desember 2013

Saya terus memprovokasi teman-teman untuk menolong Pitiks. Jujur dari hati terdalam saya ingin sekali eksekusi tanpa provokasi, tapi apa daya, saya agak takut sama kucing setelah kejadian saat saya masih kelas 2 SMP yang juga berhubungan dengan kucing.

Awalnya ngga ada yang peduli dengan nasib si Pitiks, dan tetap fokus berlatih. Hingga akhirnya datang Marta untuk membantu saya memberi ide memindahkan Pitiks dari karpet, karena pasti akan diusir esok harinya. Ide bagus, tapi saya ngga berani aksi. Akhirnya datanglah pahlawan penyelamat kucing, Nadia, yang juga merasa kasihan dengan nasib Pitiks. Tanpa lupa mengambil gambar Pitiks terlebih dahulu, Nadia akhirnya mencarikan sesuatu untuk menghangatkan Pitiks, dan mecari cara untuk memindahkan Pitiks. Dan datang juga Safira membawakan kardus bekas untuk tempat tidur Pitiks. Akhirnya, Pitiks bisa tidur di kardus yang lumayan hangat dan ditaruh di semak-semak supaya tidak diusir esok paginya.

Pagi tadi, 4 Desember 2013. Saya masuk area kampus dan ketemu Akbar. Kami berjalan menuju gedung praktikum. Di tengah jalan, saya mengajak Akbar untuk melihat kondisi Pitiks. Tapi, setelah di lokasi, ternyata kardus Pitiks udah ngga ada, dan Pitiks entah kemana. Ya sudah, karena udah hampir telat, akhirnya saya praktikum dan mengurungkan niat untuk mencari Pitiks.

Masih di tanggal yang sama, malam harinya. Saya latihan drama musikal lagi. Di tengah-tengah latihan, Pitiks datang ke arah kami. TGIF banget! Thank God It’s Fine! Lega lihat Pitiks masih bisa jalan-jalan, walau tambah lemas. Baru konsentrasi nonton teman-teman latihan, tiba-tiba Pitiks udah tiduran ngelingkar di rok panjang saya.

Saya lemes seketika. Tapi rasanya pingin banget meluk Pitiks, kasih kehangatan buat dia. Akhirnya saya beranikan diri untuk nyelimutin Pitiks pakai sisa rok panjang saya. Dan dia tidur!
Lalu latihan drama selesai. Saya bingung cara memindahkan Pitiks ke tempat yang aman. Akhirnya dengan bantuan Seisar, Pitiks mendapat tempat tidur, yaitu tampah bekas tumpengan. Dan Seisar membantu saya mengambil slayer merah kesayangan saya untuk dijadikan alas sekaligus selimut Pitiks. Ta-da! Pitiks bisa tidur tanpa menggigil. Lalu kami menuju tempat parkir masing-masing, dengan sebelumnya Safira menaruh tampah berisi Pitiks berslayer merah di bawah tangga.

Waktu Pitiks tidur, saya kirim pesan ke sahabat saya, Chandra, yang dulunya mahasiswa kedokteran hewan. Singkat cerita, sms Chandra masuk waktu saya menuju parkiran, yang berisi, “dibawa ke RSH, buka 24 jam.”

Dengan sangat impulsif, saya berlari menuju parkiran untuk mengejar orang-orang. Ternyata yang tersisa tinggal Kevin, yang lagi berusaha ngisengin saya dengan menata pembatas jalan (yang warnanya orange itu lho), di sekitaran mobil saya. Mission failed, karena saya langsung berteriak memanggil namanya. Singkat cerita, Kevin mau mengantar saya untuk memeriksakan Pitiks ke RSH, detik itu juga.

Sampai di Rumah Sakit Hewan, masih di tanggal yang sama, jam 21.15.Kevin parkir mobil. Kami jalan ke pintu masuk RSH, dikunci. Jalan ke pintu yang ada tulisan Emergency, dikunci. Lalu Kevin gedor-gedor semua pintu. Dan tiba-tiba suara anjing menggonggong di sana-sini, lalu pintu RSH dibuka. Kami masuk, dan disambut mbak-mbak dengan jas putih.

Sungguh, waktu lihat koass itu, saya baru bertanya pada diri sendiri, “Titin, apa yang kamu lakukan?”

Lalu kami mendaftarkan Pitiks. Saya mendaftarkan dia dengan nama Pitiks, yang berarti dalam bahasa Jawa pitik adalah ayam. Waktu ditanya sama dokter nama kucingnya siapa dan saya bilang Pitiks, seisi ruangan sepertinya menahan tawa. Udah gitu, Kevin mengisahkan kalau kucing itu kami dapatkan karena diberi oleh tetangga rumah beberapa hari lalu, tapi kemudian hilang dan baru kembali malam ini dengan kondisi seperti itu. Saya ngga paham sama ke-random-an ini. Setelah mendaftar, lalu Pitiks dibawa ke ruang periksa. Awalnya, Pitiks ditimbang. Lalu diukur suhunya per-rectal (lewat dubur), lalu diperiksa secara menyeluruh oleh dokternya. Pak dokter ini sangat lembut dan sayang sama Pitiks, bikin ngerasa aman dan nyaman, udah gitu ganteng pula (hehehe).

Diagnosa dari dokternya, Pitiks terinfeksi scabies di kakinya, dan nutrisinya memang kurang. Lalu Pitiks dikasih makanan sedikit, lalu diinjeksi (disuntik) sesuatu, yang katanya untuk mencegah infeksi bertambah parah. Lalu Pitiks diberi obat untuk 5 hari yang diminum pagi dan sore. Pitiks juga disarankan untuk makan makanan yang khusus kitten. Semisal mau dikasih susu, pakai susu untuk manusia yang usia 1-6 bulan, asal jangan yang rasa coklat, nanti bisa merusak liver (hati) si Pitiks. Selain itu, Pitiks dianjurkan untuk ngga mengkonsumsi makanan yang mengandung vetsin dan garam-garaman, nanti bulunya jadi jelek atau pertumbuhannya ngga bagus.

Awalnya, saya keberatan untuk bawa Pitiks pulang (ke kampus), karena kasihan kalau di kampus dia makannya ngga terkontrol dan siapa yang bakal ngasih dia obat kan. Tapi ternyata kalau harus rawat inap, biaya per malam Rp. 40.000,- Jadi ya lebih baik saya bawa ke FK saja lah.

Setelah diedukasi oleh pak dokter ganteng, kami harus bayar. Ternyata, Kevin kehabisan uang, dan saya ngga bawa dompet. Itu adalah momen ter-zing yang pernah ada. Akhirnya saya ditinggal di RSH berdua sama Pitiks, dan Kevin pergi cari ATM. Sekitar 10 menit, Kevin balik dan melunasi semua biaya pengobatan Pitiks. Akhirnya kami bisa pulang.

Ini adalah pengalaman ter-random yang pernah saya alami. Saya sendiri ngga tau kenapa sampai senekat itu bawa Pitiks ke RSH, sudah larut malam, ngerepotin Kevin. Demi seekor bayi kucing. Seekor. Kucing.

Pitiks waktu tidur ngelingker di rok saya
Pitiks waktu tidur ngelingker di rok saya
<span style="font-family: calibri;">Pitiks diperiksa pak dokter dan mbak koass
Pitiks diperiksa pak dokter dan mbak koass
<span style="font-family: calibri;">Obat, spet injeksi, dan kartu berobat Pitiks
Obat, spet injeksi, dan kartu berobat Pitiks

Kevin bertanya di kesunyian mobil, “Tin, kalau ada 100 bayi kucing di jalanan atau dimana pun, bakal tetep kamu tolong sampai kaya gini ngga?”

3 thoughts on “Pitiks Dilarikan ke Rumah Sakit

      1. Seminggu yg lalu Pitiks mu itu pernah manjat di kaki ku pas lagi makan mie ayam Kaput. Kayanya kelaperan, aku kasih daging ayam dia makan dengan lahap. Sekarang udah gak pernah liat lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s