Emansipasi Wanita

Sebenarnya tulisan ini sudah pernah saya publikasikan via blog saya yang lain–yang notabene sudah saya hapus–bertepatan pada peringatan tanggal lahir R.A. Kartini, jadi bisa dibilang ini repost. Saya tergugah untuk me-re-upload tulisan ini karena obrolan ringan saya dengan teman via blackberry messenger beberapa menit lalu, yang awalnya hanya chat ngga jelas sampai pada kata ’emansipasi wanita’. So, selamat membaca.

Emansipasi wanita di kalangan masyarakat Indonesia, yang dipelopori oleh Ibu Kartini, belakangan memang agak berbenturan dengan ’emansipasi wanita’ yang selama ini saya pahami. Kebanyakan masyarakat, dewasa ini, lebih mengartikan emansipasi wanita sebagai kebebasan/keleluasaan wanita untuk melakukan apapun dan dianggap sebagai ‘hak’-nya, yang berdampak kepada pengabaian ‘kewajiban’.

Maksud kalimat saya adalah wanita zaman sekarang mengatas-namakan emansipasi wanita untuk menuntut haknya secara berlebihan dan mengabaikan kewajiban (bahkan kodratnya sebagai wanita) untuk kepentingannya.

Contoh Kasus 1
Seorang artis wanita minta cerai suaminya karena sang suami meminta artis tersebut untuk berhenti bekerja di jagad hiburan untuk kemudian menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak mereka.

Ketika Anda (wanita) memutuskan untuk menikah, apapun itu harus siap Anda tinggalkan untuk melayani suami dan keluarga. Karena menurut kepercayaan saya hingga detik ini, menikah bukan saja persoalan menyatukan cinta dari dua insan berbeda gender, tetapi juga mengumpulkan tiket ekstra untuk ke Surga (beribadah) dan mencetak anak bangsa yang berkualitas unggul dan bermoral. Sedangkan kebahagiaan untuk terus hidup bersama dengan orang yang dicintai merupakan bonus dalam proses mencapai tujuan yang saya sebutkan di atas.

Menurut hemat saya, tindakan istri meminta cerai karena diminta berhenti berkarir adalah wujud kekecewaan istri karena merasa haknya diambil–hak kebebasan berkarya. Saya tidak mengatakan menuntut hak itu salah, yang saya sayangkan adalah sang istri tidak menyadari statusnya sebagai istri.

Mungkin bagi sang istri dari kasus di atas, Zaman Emansipasi Wanita adalah zamannya wanita bebas berkarya, entah yang belum maupun yang sudah berumahtangga. Sehingga ketika ia dihambat untuk berkarya, ia bisa memberontak dengan mengatasnamakan ’emansipasi wanita’ sebagai landasannya. Pertanyaannya, apakah emansipasi wanita itu tidak ada batasnya?

Contoh Kasus 2
Seorang gadis curhat ke tantenya kalau dia sedang jatuh cinta. Si tante menyuruh gadis tersebut untuk menyatakan perasaan duluan. “Sudah, kamu nyatakan duluan saja, kamu langsung tau perasaan dia dan ngga galau lagi. Ini eranya sudah berbeda, sudah emansipasi wanita.”

Pemahaman saya tentang emansipasi wanita mungkin tidak sebaik Anda, tapi emansipasi wanita yang dicontohkan di atas tidak termasuk dalam emansipasi yang saya pahami selama ini. Saya memang lahir di era setelah Kartini. Saya berada di tengah-tengah kata yang mengema keras, Emansipasi Wanita. Tapi saya lahir, besar, dan dididik di antara orang-orang berkepribadian Timur (dan saya bangga akan hal itu). Dan dalam ajarannya, saya tidak menemukan adanya wujud aplikatif emansipasi wanita seperti kedua contoh di atas.

Selama ini, kata emansipasi wanita masih terlalu luas maknanya di masyarakat. Hal itu bisa terjadi karena–sejauh pengetahuan saya–belum ada kajian mengenai emansipasi wanita lebih dalam yang berfokus pada batasan-batasannya. Acara-acara di televisi pun hanya menyodorkan wanita-wanita hebat yang berhasil melakukan ini-itu. Keadaan seperti ini membuat kebanyakan wanita Indonesia berargumentasi dan memaknai sendiri mengenai Emansipasi Wanita.

Pokoknya emansipasi itu ya kami sebagai wanita menuntut yang sama seperti yang didapat pria. Kalau para pria bisa bekerja kenapa kami tidak? Kalau para pria boleh menyatakan perasaannya duluan, kenapa kami tidak? Masa melulu pria dulu.

Inilah yang tidak dipahami sebagian besar wanita Indonesia–dan sebenarnya banyak pria juga belum paham. 

Kartini
photo source: http://www.gojepara.com

Hak yang dituntut Ibu Kartini merupakan hak berpendidikan, hak meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai wanita, hak merdeka sebagai manusia tanpa harus lepas dari budayanya, dan kodratnya sebagai wanita.

Diharapkan dengan mampu mengenyam pendidikan yang sama dengan pria, wanita dapat lebih mensejahterakan keluarganya, memahami kebutuhan suaminya, mendidik anak-anaknya  sehingga akan terlahir generasi penerus bangsa yang meningkat kualitasnya dari setiap generasi.

Saya teringat kalimat Bapak Kustoro (wali kelas 11 SMA Negeri 4 Yogyakarta) saat saya bertanya kepada beliau, “Pak, untuk apa kami sebagai perempuan menuntut ilmu yang tinggi kalau nantinya kami hanya mengurus rumah tangga?”

Beliau menjawab, “Untuk mengurus rumah tangga pun dibutuhkan ilmu, mbak. Anda memasak kalau tidak tahu bahaya melamin nantinya Anda akan membahayakan keluarga Anda sendiri. Kasus lain, kalau Anda ditanyai anak Anda yang kelas 11 SMA tentang suatu materi, kalau ilmu anda tidak cukup apakah Anda bisa menjawab? Saya kembali bertanya, anak Anda nantinya akan lebih senang punya orang tua profesor atau lulusan SMA? Itu saja.”

Saya harap dengan membaca tulisan ini, kaum Hawa mampu introspeksi diri bahwa Emansipasi Wanita pun memiliki batasan yang diatur dalam agama dan hukum norma masyarakat berkebudayaan Timur. *sungkem*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s