Dokter

Tulisan ini saya buat ditengah malam yang dingin dengan rintik hujan mengiringi setiap ketukan jemari saya pada keyboard. Berangkat dari satu isu di fakultas yang—kembali—disajikan oleh salah seorang dosen yang memberi kuliah pagi tadi. Isunya mungkin sudah basi. Bahkan menurut beliau kasusnya sudah ditutup. Tapi, karena saya orang yang meletup-letup dan tidak akan pernah tenang sebelum bisa berdiskusi atau menuangkan opini, jadi saya beranikan diri untuk menulis.

“Beberapa mahasiswa menari Harlem Shake di ruang diskusi.”

Isunya hanya itu. Namun kasusnya bisa sampai ke komisi etik fakultas, yang sampai melibatkan sesepuh fakultas dan orang tua/wali mahasiswa. Dan karenanya muncul kubu-kubu yang berbeda cara pandang. Bagi sebagian kubu, kasus tersebut harus dibawa ke komisi etik untuk ditindak lanjuti, dan mahasiswa yang terlibat harus dibimbing. Namun, kubu lainnya berpendapat bahwa kasus tersebut seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan, mengingat Harlem Shake sedang menggema di masyarakat dan mahasiswa—yang notabene masih muda dan ingin coba-coba—dan ditambah lagi Harlem Shake sudah mendunia. Saya sendiri belum pernah menonton Harlem Shake versi yang-dibicarakan-sampai-ke-komisi-etik-fakultas itu. Tapi, izinkanlah saya untuk menyampaikan opini;

Bagi saya, dokter itu profesi luhur, agung. Memang sih, perjalanan menuju gelar dokter itu panjang, yang luar biasa menguras tenaga, biaya, dan masa muda. Tapi mungkin itu juga yang membuat saya berpikir bahwa dokter itu ada di urutan atas—setelah ayah-ibu saya dan Sri Sultan Hamengkubuwono—yang kalimatnya bisa langsung saya terima tanpa harus bersikap skeptis. Mungkin juga karena ‘citra’ yang tampak di mata masyarakat; dokter adalah orang yang serba tahu, yang bijaksana dalam mengambil keputusan—karena menyangkut nyawa, yang dapat dipanuti unggah-ungguhnya. Yang bahkan di masyarakat, putusan final suatu perkara terkadang masih menunggu suara dokter. Dan ngga jarang masyarakat lebih mempercayai kalimat yang terlontar dari seorang dokter ketimbang dari profesi lain (mirip dengan cara pandang saya). Dari situ terbentuk ‘citra’ baik profesi dokter, atau bahasa kekiniannya “wow”. Jadi, dokter sama dengan wow.

Paham kan gimana masyarakat memandang dokter?

Pernahkah terpikir oleh teman-teman calon dokter “kalau aku melakukan hal ini atau hal itu, bagaimana ‘aku’ esok di mata pasien ku ya?” sesaat sebelum meng-upload apapun ke socmed?

Poin yang ingin saya sampaikan adalah sebagai mahasiswa kedokteran seharusnya kita lebih sensitif terhadap apa yang akan dipikirkan pasien kelak. Memahami hal tersebut memang sulit, terlebih kita belum mencapai tahap ‘memiliki pasien’. Tapi ngga ada salahnya untuk merenungkan hal-hal kecil itu. Ngga perlu jauh-jauh, coba pikirkan apa yang terbesit di pikiran kalian kalau lihat dokter kalian menari-nari Harlem Shake? Koreksi, sekelompok dokter. Hmm?

Saya ngga menyalahkan, tapi lebih menyayangkan. Karena citra wow seperti yang sudah saya tuliskan di atas menurut saya pribadi ngga sendirinya muncul kaya sulap. Citra itu dibangun, dan dijaga. Kenapa bisa mayoritas masyarakat mengagungkan profesi dokter? Karena citra yang selama ini dibangun. Kenapa dari dulu sampai sekarang dokter masih diagungkan di sebagian besar kelompok masyarakat? Karena citra baik dokter terus dijaga. Nah, menurut teman-teman, apakah bisa jika citra yang sudah baik tadi akan menjadi terus baik jika generasi penerusnya tidak menjaga?

Itu saja.

Sebenarnya masih banyak aspek yang bisa dibahas untuk masalah “citra dokter-calon dokter di mata pasien-masyarakat”. Namun, karena trigger-nya adalah Harlem Shake, jadi saya hanya membahas ini. Dan sampai detik ini saya percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukan karena kebetulan, dan bukan karena tanpa alasan. Mungkin kasus ini ada supaya kita lebih waspada dan lebih memahami posisi kita di masa yang akan datang. Kalau dokter adalah panutan, berarti calon dokter adalah calon panutan, kan? *salim*

One thought on “Dokter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s