Belajar Menghadapi Anak-anak

Siang tadi, saya dan teman-teman SCORP CIMSA UGM (Standing Committee for Human Right and Peace Center for Indonesian Medical Student Activities Universitas Gadjah Mada) *tarik nafas* belajar bersama adik-adik di daerah Sungai Code. Mmm, bukan hal baru sih, karena kegiatan ini sudah rutin dijalankan teman-teman SCORP CIMSA setiap minggunya. Adik-adik yang ikut kegiatan ini mayoritas masih di tingkat Sekolah Dasar.

Setelah beberapa saat libur, akhirnya kegiatan belajar-mengajar di Sungai Code ini aktif lagi (atau bahasa Code-nya “masuk sekolah lagi”). Nah, dulu waktu pertama kali saya datang ke Code, saya dan Laras menjanjikan ke adik-adik Code untuk memberikan hadiah kalau mereka dapat ranking 1 di kelasnya waktu ujian semester. Ternyata, ada satu anak bernama Fitri yang dapat ranking 1 di kelasnya. Setelah sekian lama saya baru sempat membelikan hadiahnya, dan baru ke Code siang tadi. Setelah dikasih hadiahnya, saya bisa lihat cahaya bahagia terpancar dari wajah Fitri, ah senangnya..

Akhirnya setelah sesi belajar selesai, ditutup dengan doa. Kami berkemas-kemas. Tapi, adik-adik minta diajak jalan-jalan. Awalnya kami menanggapi sambilalu, karena dari awal kami ngga menjanjikan mau ngajak jalan-jalan setelah sesi belajar. Ternyata, ngga disangka-sangka adik-adik marah semua. Intinya mereka ngambek dan ngancem ngga mau ikut CIMSA lagi. Kalang kabut kan kami, mana yang punya jabatan di CIMSA ngga hadir (baru ada acara CIMSA di luar kota). Lalu kami melakukan negosiasi, tapi mereka tetap saja ngga mau ngerti. Sampai salah satu adik (laki-laki) melempar hadiah yang saya berikan untuk Fitri. Ditambah lagi lemparan kedua dari teman-temannya.

“WHAT.”

Sedih banget lihatnya, dan ngga ngerti ya saking sedihnya saya sampai nangis di tempat. Rapuh, memang. Tapi ya mau gimana lagi, rasanya nyesek banget. Ini pertama kali saya diperlakukan seperti ini. Udah dibelikan, dikasih, dibungkus rapi-rapi, eeeh dibuang gitu aja. Di depan mata pula. Astaga. Pedih.

Nah, kami langsung lapor ke Bu Suci, ketua RT setempat yang udah welcome banget sama teman-teman CIMSA. *ceritanya ngadu*. Tapi, tujuan sebenarnya cuma mau meluruskan peristiwa barusan supaya ngga terjadi kesalahpahaman. Dan aslinya kami takut juga sih kalau Minggu besok adik-adik ngga ada yang mau datang CIMSA lagi. Setelah masalahnya lurus, hadiahnya tadi kami titipkan Bu Suci untuk diberikan ke Fitri, mungkin akan diterima dengan baik.

Kami pun menuju ke tempat parkir motor yang bertempat di halaman SD. Ternyata, adik-adik pada di SD juga. Karena masih nyesek, saya langsung menuju motor dan pakai helm. Tiba-tiba saya diserbu adik-adik, dan serentak bilang,

“KAAAK MAAFIN KITA YA KAAAAKK.”

Ngga ngerti harus ngomong apa. Terus Fitri datang ngajakin salaman. Saya sambut tangannya, saya tarik perlahan, “Mbak Fitri minta maaf kenapa?”. Yang bersangkutan cuma senyum khas anak-anak. Teman-teman Fitri juga sama aja.

“Coba cerita sama kakak, kenapa sampai minta maaf..”

Masih pada matung. Lalu salah satu adik datang dan ngasih lipatan surat;

 

Tulisannya:"Maafin kita ya kakkita udah banyak permintaankita udah salah sama kakakDari: Adik-adik"
Tulisannya:
“Maafin kita ya kak
kita udah banyak permintaan
kita udah salah sama kakak
Dari: Adik-adik”

Siapa yang ngga kesentuh hatinya baca tulisan itu coba? Rasanya semua sakit, sedih, nyesek yang saya rasakan hilang begitu saja. *cling*

“Kakak ngga marah kok sama kalian, kakak cuma sedih aja. Sakit lho hadiahnya dibuang di depan kakak. Coba deh mbak Sella bayangin; mbak Sella ngasih kado buat mbak Fitri, terus dibuang di depan mbak Sella, gimana rasanya?”

“Sakit kak”

“Nah. Tapi kakak ngga marah kok, cuma sedih aja hehe.”

Terus mereka masih mematung mandangin saya yang udah pakai helm, berdempel-dempelan mengelilingi saya dan motor Mio tercinta (ngga penting). Terus saya lepas helm, dan coba bicara dari hati ke hati sama mereka.

“Coba, kakak mau denger. Tadi kalian pingin diajak main kemana? Kakak-kakak di sini ada yang pernah janji mau ngajak jalan kah? Cerita sama kakak coba, biar kakak ngerti apa yang dipingin kalian…”

Masih mematung, semakin merapat.

“Kan kakak ngga pernah janji mau ngajakin jalan. Kalau kalian pingin main, bilang aja sama kakak-kakaknya, biar bisa dipikirin mau main kemana, kapannya, terus naik apa. Kan enak kalau udah dijadwalin, ya ngga?”

Manggut-manggut.

“Pada pingin main kemana? Kebun binatang? Atau mau kemana?”

Yang jawab cuma jangkrik.. *kriik…kriikk…*

“Hahaha ya udah, kalau gitu besok dibicarain lagi sama kakak-kakak yang lain ya, masih pada mau ikut CIMSA kan besok Minggu?”

“Maaassiihh kaaakk”

“Oke sip. Udah tenang aja, kakak ngga marah kok, beneran deh.” Sambil ngelus-elus rambut Fitri. Tiba-tiba si Fitri jatuh ke pelukan saya dan nangis sesenggukan. *aduhbiyuuuung*

Setelah Fitri nangis, Ika, Sella juga ikutan nangis. Tambah bingung kan saya. Cuma bisa bilang, “Jangan nangis dong, kakak ngga marah kok beneran. Udah ya nangisnya ya.. Yuk senyum yuk, kakak ngga marah kok…”

Setelah meyakinkan mereka, akhirnya paham juga.

Sejujurnya, saya ngga ngerti harus gimana menghadapi situasi begitu. Saya juga ngga ngerti yang saya katakan di atas benar atau salah. Saya ngga ngerti cara menghadapi anak-anak, suer. Suka sih sama anak kecil, tapi waktu lucu-lucunya aja. Kalau untuk urusan beginian bingung harus bersikap gimana. They’re too unpredictable and too fragile, I think.

Beginilah nasib anak satu-satunya. Ngga punya partner untuk belajar bersosialisasi, memahami, dan berbagi. Giliran urusan begini bingung sendiri.

“Titin masa kalah sama anak kecil, jangan nangis dong.”

“Mereka kan masih anak-anak, masih kecil. Jadi ngga ngerti kalau dikasih barang itu baiknya gini atau gitu. Namanya juga anak-anak, Tin. Udahlah ngga usah dimasukin hati.”

Maafin ya kalau saya orangnya lemah, rapuh, dan ringkih. *hiks*


Emm, bener juga sih. Mereka kan bukan anak SMA yang udah mulai ngerti kata “nyesek” dan “nggerus”. Mereka masih belajar, dan mungkin dari kejadian ini mereka bisa belajar. Tapi dari dua kalimat bercetak miring di atas, saya jadi tersadar; saya tidak paham sepenuhnya siapa yang saya hadapi. Saya berekspektasi terlalu tinggi terhadap anak-anak kelas 4-6 SD. Pelajaran yang dapat dipetik: ngga boleh sembarangan ngasih janji-janji atau memberi harapan palsu ke anak-anak, ngga boleh terlalu berharap mereka ngerti cara memperlakukan orang lain dengan baik, namanya juga masih belajar dan butuh diajarin. Awalnya saya hampir mutung (ngambek) karena kejadian ini. Tapi setelah tau mereka bisa diajak bicara hati ke hati, saya jadi semakin tertantang untuk terus mendalami cara memahami mereka. Hitung-hitung belajar untuk kemudian hari, menghadapi anak sendiri. *kemudian dilempar jodoh* *HAP!*

One thought on “Belajar Menghadapi Anak-anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s