Bukan Anak Linear Lagi

Rasanya seneng punya passion terhadap sesuatu, apapun itu. Dulu, dari kecil sampai SMA, saya ngga pernah suka sama barang yang membuat saya melakukan pengorbanan untuk mendapatkannya. Sampai dibilang sama guru BP saya ini orangnya terlalu linear–ngga ada gairah untuk mendapatkan sesuatu, terlalu mengalir.

Emm, bener juga sih setelah direnungkan. Contohnya saja, saya ngefans sama Agnes Monica, banget malah. Tapi terkesan seperti ngga ngefans. Konser ngga pernah ngikutin, twitter ngga follow, bahkan albumnya saja ngga punya, ada sih tapi itu saja dapat dari KFC. Duh. Palingan kalau pas ada konsernya di TV terus pas senggang ya nonton, tapi semisal ada konsernya dan saya pas ngga senggang ya ngga nonton. Malahan yang ribut orang-orang di sekitar. Pada ngebbm lah, sms lah, mention via twitter lah–ngabarin kalau ada konsernya di TV. Bahkan beberapa minggu yang lalu, saudara saya mention via twitter, ngabarin kalau bakal ada konser Agnes Monica di Yogyakarta. Pas tau kabarnya sih langsung cari bala tentara buat nemenin nonton konser–soalnya kalau pergi sendiri ngga bakal dapat izin. Tapi waktu ngga dapat bala tentara ya saya ngga berusaha bohong sama orang tua, atau menyusun rencana biar bisa kabur nonton konser, atau tindakan remaja ababil lainnya. Batal ya batal. Aneh memang.

Kalimat sederhana guru BP di SMA, “Anda itu terlalu linear, mbak. Cobalah cari sesuatu yang membuat anda lebih bergairah untuk hidup, sesuatu untuk diperjuangkan, untuk dicapai”, membuat saya berusaha keras untuk menemukan hal yang saya sukai sebagai gairah hidup. Jujur, saya sering iri melihat teman saya yang suka mengoleksi apapun yang ada gambar tokoh kartun Pooh, atau Hello Kitty. Bahkan ada yang suka mengoleksi benda apapun yang berwarna kuning.

Tergugah dari hal-hal semacam itu, saya akhirnya menemukan kesenangan saya, Burung Hantu. Sebenarnya bukan hal baru, sih. Saya suka burung hantu udah sejak lama, tapi baru-baru ini melakukan pengorbanan untuk berburu benda yang ada gambar burung hantu-nya. Dan sungguh, saya senang sekali! *sumringah*

Gantungan Kunci
Gantungan Kunci

Gantungan kunci ini mikir buat beli-nya sehari, sampai kebawa mimpi. Harganya bikin vertigo banget–untuk benda yang fungsinya semu dan sekecil ini. Tapi, karena udah ganti tahun harus jadi Titin yang beda dong. Titin yang ngga linear lagi :p.

Wadah Laptop
Wadah Laptop

Wadah Laptop ini dibeli dengan mikir dua hari karena harganya yang ngga worth it menurut Titin yang linear. Mending buat jajan bakso, kan? Tapi ya balik lagi, Titin udah bosan jadi anak linear hahahaha.

Insya Allah, kalau ada rizki berlebih saya ingin mengoleksi pernak-pernik burung hantu, amin. Doanya ya, kalau mau bantu ngasih juga boleh hahaha. Semoga hobi baru ini ngga kebablasan ya, amin. Jadi, resmi dong saya bukan anak linear lagi. *party*

One thought on “Bukan Anak Linear Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s